Bisnis.com, MALANG—Universitas Brawijaya (UB) menyediakan fasilitas Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) inklusif sehingga peserta difabel dapat mengikuti ujian tersebut secara mandiri.
Seperti Ahmad Saikun Najib, salah satu peserta difabel netra mendengar suara instruksi soal Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang mengalir lewat headset, Kamis (23/4/2026). Pemuda disabilitas netra itu adalah satu dari 12 peserta difabel yang mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Brawijaya (UB).
Ahmad mengerjakan seluruh soal secara mandiri dengan bantuan screen reader yang disediakan panitia. Baginya, kunci utamanya ada pada alat tersebut. Dengan alat itu, setiap teks soal dikonversi menjadi suara, memungkinkan Ahmad menavigasi ujian tanpa perlu bantuan orang lain
“Untuk alat pendukung, kami menggunakan perangkat pembaca layar, sehingga sangat membantu untuk mengerjakan secara mandiri,” ujarnya seusai ujian.
Di balik kemandirian itu, ada persiapan yang tidak sebentar. Dia mempersiapkan UTBK dengan belajar mandiri melalui YouTube, meski menemukan beberapa hambatan.
“Kadang di YouTube hanya dijelaskan jawabannya C, tapi kami tidak tahu bentuk atau konteks visual soalnya seperti apa. Sehingga itu cukup membingungkan,” ungkapnya.
Baca Juga
- Kisah Ibu Ani, Difabel Tangguh yang Tumbuh Bersama PNM
- Metro Park View Kota Lama Semarang Rayakan Hari Batik Bersama UMKM dan Difabel
- Bank Jakarta dan Indogrosir Resmi Buka Toko Mandiri Difabel
Untuk menyiasati itu, dia memilih belajar bersama seorang teman yang tahun lalu sudah lebih dulu menghadapi UTBK.
Sejalan dengan Ahmad, Darrel, peserta disabilitas netra asal Blitar, juga merasakan kenyamanan serupa yang memungkinkannya fokus sepenuhnya pada materi ujian secara mandiri.
Dari 12 peserta disabilitas yang mengikuti UTBK di UB tahun ini, lima di antaranya adalah peserta tuli, tiga tunadaksa, dua netra, dan dua low vision, masing-masing dengan kebutuhan pendukung yang berbeda.
Di balik kelancaran pelayanan terhadap beragam kebutuhan itu. Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (SLDPI) UB telah melakukan persiapan menyeluruh untuk memastikan alur mobilitas peserta dan fasilitas penunjang dapat berjalan secara optimal sejak jauh hari..
Salah satunya terlihat dari pemilihan lokasi ujian di lantai satu, yang sengaja dipilih untuk memudahkan akses peserta dengan berbagai jenis disabilitas.
UB juga menyediakan juru bahasa isyarat dan juru ketik untuk membantu peserta disabilitas tuli memahami alur dan informasi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tes.
Perwakilan SLDPI UB, Mahalli, mengatakan bahwa seluruh staf dan pengawas telah dibekali pelatihan kesadaran disabilitas.
“Kami memastikan panitia paham cara berinteraksi dengan peserta daksa, netra, atau yang lainnya, tanpa harus memaksakan bantuan jika mereka merasa bisa mandiri,” jelasnya.
Namun dia melihat ada satu celah pada sistem seleksi nasional yang perlu dievaluasi. Peserta dengan low vision, menurutnya, belum mendapat akomodasi yang setara.
“Panitia pusat sering kali beranggapan bahwa hambatan low vision cukup diatasi dengan fitur perbesaran layar. Padahal, teknis ini justru menghambat waktu membaca karena satu kalimat, atau bahkan satu kata, bisa memenuhi satu layar penuh,” ungkapnya.
Akibatnya, peserta low vision tidak mendapat perpanjangan waktu atau penyesuaian bobot soal yang memadai.
Selain itu, ia juga menyoroti belum terakomodasinya kategori disabilitas mental seperti autisme dan ADHD, dan penyandang disabilitas tak tampak lainnya dalam formulir pendaftaran nasional. Hal ini menjadi hambatan bagi kampus untuk menyediakan fasilitas yang tepat sejak awal pendaftaran.





