Ekonom: Insentif padat karya jangan hambat investasi teknologi

antaranews.com
8 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mendorong pemerintah agar tidak hanya berfokus pada investasi padat karya dalam reformulasi insentif fiskal, tetapi juga tetap menjaga daya tarik bagi investasi berbasis teknologi.

Menurut Yusuf, investasi teknologi penting bagi pertumbuhan jangka panjang.

“Kalau terlalu fokus ke padat karya, kita bisa tertinggal dalam menarik investasi teknologi tinggi yang justru jadi mesin pertumbuhan masa depan,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat.

Pernyataan itu disampaikan dia merespons kebijakan pemerintah untuk menggeser prioritas insentif fiskal dari berbasis nilai investasi besar menjadi berbasis penyerapan tenaga kerja.

Yusuf menilai pergeseran insentif ke basis penyerapan tenaga kerja sudah tepat di tengah fenomena jobless growth—ketika pertumbuhan ekonomi tidak diikuti penyerapan tenaga kerja—serta terus bertambahnya angkatan kerja.

Namun, ia mengatakan kebijakan tersebut tidak cukup jika tidak diiringi strategi peningkatan produktivitas.

“Kalau hanya menggeser ke padat karya tanpa strategi peningkatan produktivitas, kita berisiko mengunci ekonomi di level rendah,” ujarnya.

Ia menilai selama ini kebijakan investasi terlalu menekankan pada nilai proyek besar, tetapi tidak sebanding dengan penciptaan lapangan kerja.

Dalam banyak kasus, lanjut dia, proyek padat modal membutuhkan investasi sangat besar untuk menciptakan satu pekerjaan, sementara sektor berbasis agro mampu menyerap tenaga kerja jauh lebih banyak dengan investasi lebih kecil.

Ia menambahkan banyak sektor padat karya saat ini juga menghadapi tekanan global, sehingga pendekatan kebijakan harus lebih selektif dan tidak sekadar mengejar jumlah tenaga kerja.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya desain insentif yang menyentuh biaya dan risiko usaha, seperti subsidi bunga, keringanan beban tenaga kerja, serta dukungan untuk menjaga daya beli.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa insentif nonfiskal seperti percepatan perizinan, kepastian lahan, dan infrastruktur sering kali lebih menentukan bagi investor dibandingkan insentif pajak.

Di atas itu, insentif untuk transformasi menjadi kunci, termasuk pelatihan tenaga kerja, adopsi teknologi, dan peningkatan produktivitas.

“Tanpa itu, insentif hanya jadi bantalan jangka pendek,” ujarnya.

Yusuf juga mengingatkan sejumlah risiko dari kebijakan ini, mulai dari potensi melambatnya investasi padat modal, moral hazard perusahaan yang hanya mengejar jumlah tenaga kerja, hingga beban fiskal jika insentif tidak dievaluasi secara ketat.



Baca juga: Celios: Insentif pajak padat karya sudah tepat, perlu pengawasan

Baca juga: Industri padat karya disebut masih butuh perhatian khusus

Baca juga: Pemerintah siapkan 6 miliar dolar pendanaan bersama untuk padat karya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemhan Tegaskan Selat Malaka Merupakan Jalur Lintas Internasional
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Hilang Dicuri 3 Tahun Lalu, Motor Warga Legok Tangerang Akhirnya Kembali
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Utusan Khusus Trump Usul Gantikan Tim Iran dengan Italia di Piala Dunia
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Magang Nasional Batch I Ditutup, Kemnaker Perkuat Sertifikasi Kompetensi dan Akses Kerja
• 1 jam lalurealita.co
thumb
Siaran Langsung dan Live Streaming FP2 Moto3 Spanyol: Veda Ega Pratama Pamer Skill Setelah Berlatih Keras di Sirkuit Marc Marquez
• 2 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.