Pemerintah menargetkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2026 tumbuh lebih cepat sebesar 5,7 persen.
IDXChannel - Pemerintah menargetkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2026 tumbuh lebih cepat. Pertumbuhan ekonomi sepanjang April-Juni diproyeksikan bisa mencapai 5,7 persen secara tahunan.
Perkiraan tersebut lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2025 yang sebesar 5,12 persen. Selain itu, secara kuartalan, angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan proyeksi laju pertumbuhan kuartal I-2026 sebesar 5,5 persen.
“Pertumbuhannya (kuartal II-2026) 5,7 persen. Kita akan dorong ke sana untuk April, Mei, dan Juni,” kata Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Purbaya mengakui risiko pada kuartal II-2026 tetap ada karena tidak adanya momentum Ramadan dan Lebaran. Meski begitu, dia menilai tak sepenuhnya tepat bahwa momentum tersebut akan mendongkrak ekonomi, karena biasanya Hari Besar Keagamaan diwarnai banyak hari libur yang memengaruhi produktivitas.
Dia menegaskan, pemerintah akan berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi melalui stimulus fiskal. Aktivitas ekonomi pada bulan April 2026 akan menjadi kunci untuk menentukan gerak pemerintah.
“Nanti begitu April datanya clear (jelas), kita lihat, kita akan kasih dorongan lagi ke ekonomi. Kalau (April) mengalami perlambatan, saya akan monitor terus kondisi perekonomian Indonesia. Kalau melambat, saya akan kasih stimulus dari berbagai sisi,” ujarnya.
Stimulus tersebut, kata dia, berupa percepatan belanja pemerintah, terutama kementerian/lembaga (K/L). Dia meyakini arus kas APBN masih terjaga dengan optimalisasi manajemen kas, baik melalui pendapatan dan pengeluaran negara maupun kas yang dimiliki pemerintah.
“Bukan hari besar saja, yang utama adalah kita memaksimalkan stimulus apapun. Nanti kita akan lebih aktif panggil businessman (pelaku usaha), bantuan apa yang bisa kita berikan,” kata Purbaya.
Salah satunya insentif untuk sektor padat karya, seperti tekstil. Pemerintah berencana menyediakan skema pendanaan dengan suku bunga yang lebih terjangkau bagi industri tekstil yang kerap menemui kendala dalam akses permodalan karena dianggap sunset industry.
(Rahmat Fiansyah)





