GICC Dorong Percepatan Transisi Ekonomi Hijau di Kawasan ASEAN

viva.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Green Innovation Cooperation Center (GICC) mendorong percepatan transisi ekonomi hijau khususnya di kawasan ASEAN.

Hal itu disampaikan GICC melalui acara seminar internasional bertajuk “Enhancing the Sustainability of a Green Economy through the Utilization of Renewable Energy and Sustainable Finance by Strengthening MSMEs and Cooperatives in the ASEAN Region” di Binus University Bekasi.

Baca Juga :
Percepat Transisi Energi Nasional, Proyek Bioetanol Lampung Memasuki Tahap Baru
Cek Daftar Harga BBM ASEAN April 2026, Indonesia Masih Paling Murah?

GICC sendiri merupakan sebuah inisiatif yang dibentuk di bawah ASEIC (ASEM SMEs Eco-Innovation Center), sebuah organisasi yang berbasis di Republik Korea yang berfokus pada pengembangan eco-innovation serta penguatan kapasitas UMKM di negara-negara mitra ASEM.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Kim Heesoon (Direktur, Green Innovation Cooperation Center), Lee Young Jick (Ketua, ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre), George Wijaya Hadipoespito (Vice President, BINUS Higher Education).

Kemudian, Bastian (Kepala Biro Manajemen Kinerja dan Kerja Sama, Kementerian UMKM Republik Indonesia), serta perwakilan dari pemerintah Indonesia dan BINUS University, termasuk pejabat dari Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, dan pimpinan akademik.

Direktur GICC, Kim Heesoon, dalam sambutannya menekankan bahwa transisi menuju ekonomi berkelanjutan membutuhkan sinergi dari berbagai pihak.

“Untuk membangun ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor sangat penting, dengan UMKM dan koperasi sebagai pilar utama ekonomi ASEAN,” kata Kim dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 25 April 2026.

Dalam praktiknya, pelaku UMKM kerap menemui hambatan teknis. Analis Dekarbonisasi Bisnis dari University of Oxford, Andi Darell Alhakim, yang hadir sebagai pembicara menyampaikan bahwa transisi hijau dapat dilakukan secara bertahap.

“Bagi banyak UMKM, tantangan terbesar bukanlah kurangnya solusi, tetapi mengetahui dari mana harus memulai. Pada kenyataannya, langkah-langkah kecil dan praktis sudah dapat memberikan dampak yang berarti,” ujar Andi.

Selain kesiapan pelaku usaha, ekosistem pendukung yang inklusif juga mutlak diperlukan. Terkait hal ini, Kepala ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre, Lee Young-jick, menyoroti pentingnya harmonisasi antar-sektor.

“Memperkuat keterkaitan antara teknologi, keuangan, dan kebijakan akan menjadi kunci untuk mempercepat keberhasilan transisi hijau di Kawasan ASEAN,” ungkapnya.

Melalui seminar ini, GICC berharap dapat terus mendorong kemitraan strategis antara sektor publik dan swasta guna mewujudkan ekosistem ekonomi hijau yang tangguh dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.

Baca Juga :
3 Langkah Prioritas Bank Sentral hingga Menteri Keuangan Se ASEAN Hadapi Gejolak Ekonomi Global
Jakarta Masuk Kota Teraman Kedua di ASEAN, Pramono Singgung Banyaknya Premanisme
Jakarta Jadi Kota Teraman ke-2 di ASEAN, Gubernur Pramono: Surprise!

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kehamilan Alyssa Daguise Memasuki Usia 9 Bulan, Al Ghazali Ungkap Rencana Persalinan Istri: Kalau Bisa Habis El Nikahan
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Pengungkapan Kasus oleh Bareskrim Polri Sepanjang 2025 Tuai Respons Positif
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Populer: Singapura-Malaysia Tolak Pajak Selat Malaka; IHSG Anjlok 3 Persen
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Gubernur Malut Sherly Tjoanda Tak Habis Pikir Harga Tiket Pesawat Mahal: Mengancam Pariwisata di Indonesia Timur
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Satpol PP DKI Usulkan Penambahan Personel Muda untuk Kurangi Beban Kerja Lapangan
• 12 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.