Selasa (21/6/2026) sore, langit Desa Warloka Pesisir, Kecamatan Komodo, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, semula tampak muram. Awan tebal menggantung rendah di desa yang di kelilingi perbukitan itu, seolah menahan napas sebelum akhirnya pecah.
Di dermaga kecil, raungan mesin perahu satu per satu mereda. Para nelayan menambatkan perahu mereka. Sebagian lain sibuk mengikat boks-boks styrofoam di atas geladak perahu.
Anak-anak yang berlarian di tepi pantai berhamburan naik mencari tempat berteduh. Tak lama, hujan turun deras, mengguyur kampung nelayan itu dengan suara yang menenggelamkan riuh percakapan.
Namun, seperti kebanyakan sore di pesisir timur Indonesia, hujan tak pernah benar-benar menjadi penutup hari. Ia hanya jeda. Setelahnya, matahari kembali muncul, memantulkan cahaya jingga di langit biru. Warloka pun berubah wajah, tenang, hangat, sekaligus memikat siapa saja yang datang ke desa itu.
Di tengah suasana itu, Ahmad Tanjij (52), nelayan sekaligus Ketua Kelompok Nelayan Way Jawa Mandiri, berdiri memandang perahu-perahu yang berbaris rapi. Hidupnya, seperti kampung Warloka, perlahan berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Ia mengingat masa ketika menjadi nelayan berarti menghadapi berbagai keterbatasan. Di desanya, solar sulit didapat sehingga harus membeli di Labuan Bajo menggunakan perahu, bahkan perahu itu harus dipinjam atau menumpang dengan perahu lainnya. Ketika kapal perlu perbaikan, para nelayan harus menyusur laut menuju ke Labuan Bajo.
Desa Warloka yang terisolasi membuat kehidupan warga penuh perjuangan. Jalan darat belum memadai, akses logistik terbatas, dan nelayan bergantung pada fasilitas di luar desa, dari bahan bakar hingga perbaikan kapal.
Selesai melaut, mereka tidak langsung pulang, tetapi harus menjual hasil tangkapan ikan ke Labuan Bajo dengan ongkos tambahan yang kerap menggerus hasil keringat mereka.
Namum, kini wajah Desa Warloka Pesisir perlahan berubah. Perubahan itu mulai terasa ketika infrastruktur pendukung hadir di desa mereka. Di sisi dermaga, berdiri berbagai bangunan untuk mendukung aktivitas nelayan dan warga desa.
Bangunan itu seperti kios kuliner, balai nelayan, docking kapal (galangan kapal untuk perawatan dan perbaikan), selter perbaikan jaringan, selter pendaratan, bengkel nelayan, selter coolbox (kotak/lemari pendingin tempat penyimpanan ikan), selter pabrik es portabel, rumah genset. Selain itu ada pula tempat pembuangan sampah.
Di desa ini juga sedang menyiapkan bangunan lainnya salah satunya yang penting, yaitu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) khusus nelayan, Koperasi Kerapu Warloka Bersinar, hingga tempat pelelangan ikan (TPI).
Kini, kata Ahmad, aktivitas melaut tak lagi dibayangi biaya tinggi dan logistik yang rumit. Kehadiran bengkel di desa, misalnya, memangkas waktu dan biaya perawatan kapal. Sementara SPBU membuat nelayan tak perlu lagi menempuh perjalanan tambahan hanya untuk membeli bahan bakar. Keberadaan infrastruktur pendukung membuat rantai kerja nelayan menjadi lebih ringkas.
”Sebelumnya kami harus beli solar ke Labuan Bajo. Bahkan, itu harus menumpang dulu atau pinjam perahu untuk beli solar,” kata Ahmad.
Perubahan paling dirasakan oleh Ahmad dan nelayan lainnya, yaitu bantuan perahu dengan panel surya. Perahu itu mampu menekan biaya operasional nelayan dan hasil tangkapan pun lebih banyak.
”Sekarang jauh lebih hemat. Dulu kami pakai solar untuk penerangan dan jalan kapal. Sekarang sudah dibantu panel surya,” kata Ahmad.
Jika sebelumnya nelayan bisa menghabiskan sekitar Rp 300.000 per hari untuk solar, kini biaya itu bisa ditekan hingga sekitar Rp 150.000. Penghematan tersebut juga karena adanya SPBU untuk memasok kebutuhan solar untuk perahu mesin para nelayan.
Tak hanya soal biaya, peningkatan kapasitas produksi juga terasa. Ahmad menyebutkan, saat musim cuaca baik, tangkapan nelayan di Warloka kini bisa mencapai 20 hingga 30 ton, meningkat dari sebelumnya yang berkisar 10 ton.
Potensi laut di kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya memang besar. Perairannya kaya akan berbagai jenis ikan. Namun, bagi nelayan Warloka Pesisir, peningkatan hasil tangkapan tidak berarti mengorbankan laut. Mereka tetap memegang cara-cara tradisional yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan bom atau racun ikan dilarang keras.
”Di sini kami sangat ketat menjaga ekosistem laut,” kata Ahmad.
Metode tangkap yang digunakan pun beragam seperti memancing, menjala, bagan, hingga pukat senar. Setiap teknik menghasilkan jenis tangkapan berbeda. Bagan biasanya menghasilkan ikan sarden, sementara pukat menarik tenggiri dan tongkol. Pukat senar kerap membawa hasil seperti kerapu, teripang, hingga udang ronggeng.
”Hasil tangkapan itu, dulu, nelayan harus membawa menggunakan perahu. Perjalanan itu memakan waktu, tenaga, dan biaya tambahan. Kini, di sini ada tempat pelelangan ikan (TPI). Nelayan tinggal melaut, bawa ke TPI, selesai. Tinggal terima uang. Sekarang justru orang Labuan Bajo yang datang ke sini,” katanya ayah empat anak itu tersenyum.
Perbaikan akses jalan dalam tiga tahun terakhir turut mempercepat perubahan ini. Kendaraan kini bisa masuk ke desa, membuka konektivitas yang sebelumnya nyaris tertutup. Terbukanya akses jalan itu, kini jarang Desa Warloka ke pusat wisata Labuan Bajo atau sebaliknya, hanya berjarak sekitar 20 kilometer atau sekitar 45 menit.
Warloka tak lagi sekadar kampung nelayan terpencil, tetapi bagian dari rantai pasok kawasan wisata Labuan Bajo. Hotel dan restoran menjadi pasar potensial yang menyerap hasil tangkapan. Bahkan, pengurus kelompok nelayan turut berperan dalam mendistribusikan ikan ke sejumlah pelanggan.
Rantai distribusi yang lebih pendek juga mengurangi ketergantungan atau memutus praktik tengkulak, yang sebelumnya kerap menekan harga di tingkat nelayan.
Sementara itu, Suparman (42), salah satu warga sekaligus nelayan Warloka Pesisir, kini juga menatap laut di depannya dengan pandangan dan perasaan yang berbeda. Jika dulu melaut berarti memikirkan utang perahu dan biaya bahan bakar, kini ia cukup menyalakan mesin dan berangkat bersama dua-tiga rekannya.
”Dulu kami tidak punya perahu. Kalau mau melaut harus pinjam ke pemilik kapal di Labuan Bajo sana,” ujar Suparman.
Skema pinjam itu tidak ringan bagi seorang nelayan kecil seperti Suparman. Dalam satu perjalanan, hasil tangkapan harus dibagi empat orang.
Ia mencontohkan, tiga bagian untuk para nelayan yang melaut, satu bagian untuk pemilik kapal. Dari tangkapan sekitar 50 hingga 100 kilogram, bagian yang diterima sering kali terasa menipis, terlebih jika harus menanggung biaya solar untuk perahu bermesin.
”Memberatkan, tetapi tidak ada pilihan. Kami tetap harus melaut. Kami nelayan, melaut untuk kehidupan kami,” katanya.
Situasi itu kini perlahan berubah, terutama sejak hadirnya bantuan 19 perahu baru bertenaga surya. Perahu yang lebih besar juga memungkinkan mereka melaut selama dua hingga empat hari dengan kapasitas lebih banyak. Dalam satu kali melaut, tangkapan bisa mencapai sekitar 150 kilogram untuk dibagi di antara para nelayan.
”Sekarang hasilnya untuk kami. Tidak lagi terbagi dengan pemilik kapal. Uangnya langsung beredar di sini. Kami tidak perlu lagi berhadapan dengan tengkulak,” katanya.
Dalam kondisi tangkapan yang baik, satu orang nelayan bisa memperoleh hingga sekitar Rp 1 juta untuk satu kali melaut selama tiga hingga empat hari. Meski tidak selalu stabil karena faktor cuaca dan jenis ikan, ia merasakan adanya peningkatan pendapatan dibandingkan dengan sebelumnya.
”Tidak selalu dapat segitu, tapi ada kenaikan. Yang penting sekarang kami tidak susah lagi untuk melaut karena sudah ada perahunya,” ujarnya.
Bagi Ahmad dan Suparman, bantuan infrastruktur bukan sekadar soal ekonomi, melainkan juga pintu menuju perubahan sosial yang lebih luas seperti akses pendidikan anak untuk kejenjang lebih tinggi hingga kesehatan. Ketika pendapatan meningkat dan akses terbuka, pilihan hidup masyarakat pesisir pun ikut meluas.
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Anggoro Eko Cahyo mengatakan, pihaknya tidak hanya sebatas sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai institusi yang berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di Desa Warloka Pesisir.
Program Kampung Nelayan Warloka merupakan bagian dari Program Desa BSI (Bangun Sejahtera Indonesia) yang menjadi salah satu inisiatif sosial PT BSI dalam mendukung pembangunan ekonomi berbasis komunitas.
”Sampai saat ini kami sudah membina 20 desa dan Desa Warloka Pesisir yang ke-21 di 14 provinsi. Total sudah ada 7.853 penerima manfaat, termasuk warga dan nelayan di kampung Warloka,” ujar Anggoro.
Kampung Nelayan Desa BSI Warloka yang diresmikan Selasa (21/4/2026) telah digagas sejak 2024. Di Desa Warloka, BSI mengembangkan kawasan pesisir sebagai kluster perikanan terpadu, tidak hanya melalui penyediaan sarana produksi, tetapi juga penguatan rantai usaha perikanan
Program Kampung Nelayan BSI ini langsung menyentuh kebutuhan dasar nelayan, yakni perahu dan gudang dengan mesin pendingin yang dapat menampung hasil tangkapan nelayan serta tempat pelelangan ikan.
”Jadi, investasi yang ada di sini sebesar Rp 6,3 miliar yang menjangkau 143 kepala keluarga. Dukungannya berupa adanya 19 kapal nelayan dengan pembangkit tenaga surya dan juga penguatan kapasitas usaha, serta pembangunan alur bisnis, mulai dari penangkapan hingga pemasaran hasil laut,” kata Anggoro.
Menurut Anggoro, bantuan sarana produksi harus diikuti dengan penguatan model bisnis agar dampaknya berkelanjutan. Program tersebut melengkapi dan sejalan dengan agenda nasional pemerintah melalui Program Kampung Nelayan Merah Putih, yang bertujuan meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat pesisir secara terintegrasi.
”Ini merupakan semangat yang utama untuk pembangun kemampuan ekonomi masyarakat di pesisir. Untuk kesejahteraan masyarakat. Harapannya Kampung Nelayan BSI Warloka ini bisa tumbuh menjadi pusat ekonomi pesisir yang produktif dan, yang terpenting, memiliki manfaat bagi masyarakat sekitar sini,” kata Anggoro.
Cahaya matahari terakhir perlahan tenggelam di balik perbukitan yang mengelilingi Desa Warloka Pesisir. Langit memang menjadi gelap, tetapi kehidupan warga Warloka Pesisir justru kian terang. Dari keterbatasan menuju kemandirian, dari ketergantungan menuju kendali atas hasil sendiri. Bagi para nelayan, laut tetap sama luasnya, tetapi cara mereka menjangkaunya kini berbeda.





