Kata Airlangga, Purbaya, dan BI soal Rupiah di Atas Rp 17.000 per Dolar AS

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada di atas Rp 17.000. Berdasarkan data Bloomberg, pada Sabtu pagi (25/4), rupiah ada di Rp 17.229 per dolar AS. Bahkan, pada Kamis (23/4), nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 17.300.

Airlangga Sebut Penyebab Rupiah Tembus Rp 17.300 karena Gejolak Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS. Ia bakal memantau terus pergerakan nilai tukar rupiah. Ia menyebut pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia.

“Ya kita monitor saja, karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak,” kata Airlangga saat ditemui usai konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi, Jakarta Selatan, Kamis (23/4).

Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dinamika global. Meski begitu, Airlangga menegaskan tidak akan bersikap reaktif terhadap pergerakan harian nilai tukar rupiah.

Respons Purbaya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons soal melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Purbaya mengatakan persoalan nilai tukar itu merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas.

Meski begitu, ia menilai pelemahan rupiah saat ini bukan disebabkan memburuknya kondisi ekonomi domestik. Menurutnya, dibandingkan dengan negara lain, fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong kuat.

“Dibanding negara lain kita masih kuat. Bahkan dibanding Malaysia, Thailand dan lain-lain masih kuat. Cuma gerakan nilai tukarnya beda kan,” kata Purbaya dalam Media Briefing di BPPK Purnawarman Kampus, Jakarta Selatan, Jumat (24/4).

Purbaya menuturkan pergerakan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi global dan ekspektasi pasar. Katanya, berbagai sentimen di dalam negeri turut membentuk ekspektasi tersebut.

BI Perkuat Intervensi Jaga Stabilitas Rupiah

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pelemahan mata uang di kawasan. Kondisi global, termasuk eskalasi konflik geopolitik dan sentimen pasar keuangan internasional, masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.

“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional. Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54 persen,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4).

Di tengah tekanan tersebut, Destry memastikan BI terus mengintensifkan langkah stabilisasi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik, sekaligus meredam volatilitas di pasar keuangan.

“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah," terang Destry.

"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026,” tambahnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Samsung Gandeng AnyLive dari AnyMind Group untuk Tingkatkan Live Commerce di Delapan Pasar
• 6 jam lalumediaapakabar.com
thumb
HUT ke-65, Bank Jakarta gelar kegiatan donor darah
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
China Bakal Batasi Investor AS di Perusahaan Teknologinya
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Kronologi Beda Polda Metro & Roy Suryo Cs soal Berkas Kasus Ijazah Jokowi, di Kejati DKI Jakarta?
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Bukan Sekadar Bisnis, PTPN bikin Gebrakan
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.