EtIndonesia. Sebagai bagian dari operasi blokade terhadap Iran, militer AS pada Rabu (22 April) mencegat kapal tanker kedua yang mengangkut minyak dari Iran di Samudra Hindia. Presiden Donald Trump pada Kamis menyatakan bahwa militer AS kini sepenuhnya mengendalikan Strait of Hormuz, serta telah mengeluarkan perintah tegas: setiap kapal Iran yang menebar ranjau akan langsung ditenggelamkan untuk menghilangkan ancaman tersebut.
Pada saat yang sama, kelompok tempur kapal induk ketiga AS, yakni USS George H.W. Bush, telah tiba di kawasan Timur Tengah, membuat situasi semakin tegang.
Militer AS menyatakan siap menaiki kapal tanker “Majestic X”. Pentagon pada Kamis (23 April) mengkonfirmasi bahwa kapal tersebut telah dicegat dan diperiksa di perairan Samudra Hindia.
Menurut laporan Associated Press, kapal tanker super besar itu sedang mengangkut minyak dari Iran menuju Tiongkok. Ini merupakan kapal kedua dalam beberapa hari terakhir yang dicegat AS di perairan antara Sri Lanka dan Indonesia karena terkait perdagangan minyak Iran.
Seorang jurnalis asing menjelaskan bahwa kapal tersebut sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS dan diduga bagian dari “armada bayangan” Iran, yang digunakan untuk mengekspor minyak mentah yang terkena sanksi ke pasar Asia, khususnya Tiongkok.
Kapal tanker super Iran lainnya, “Dorena”, juga dicegat saat mencoba menembus blokade.
Trump menyatakan, “Kami sepenuhnya mengendalikan Selat Hormuz. Tanpa persetujuan Angkatan Laut AS, tidak ada kapal yang boleh keluar masuk. Selat ini ‘ditutup rapat’ sampai Iran mencapai kesepakatan!”
Di sisi lain, Iran merilis video yang menunjukkan Islamic Revolutionary Guard Corps sebelumnya menyita dua kapal kontainer internasional. Rekaman memperlihatkan personel bersenjata bertopeng menaiki kapal menggunakan tangga. Namun, pengamat menilai video tersebut memiliki unsur propaganda karena diambil dari berbagai sudut kamera.
Sumber menyebutkan sekitar 40 awak berada di kapal yang disita, dan kedua kapal telah dibawa ke pelabuhan Bandar Abbas di Iran selatan.
Selain itu, IRGC dilaporkan menggunakan kapal nelayan yang dimodifikasi dan kapal cepat untuk secara diam-diam menempatkan ranjau laut, baik tipe kontak maupun sensor, di Selat Hormuz.
Trump kemudian mengumumkan telah memberi wewenang kepada Angkatan Laut AS untuk tanpa ragu menenggelamkan kapal apa pun yang menebar ranjau di Selat Hormuz, tanpa memandang ukuran kapal. Ia juga memerintahkan peningkatan upaya pembersihan ranjau hingga tiga kali lipat.
Analis pelayaran menyebutkan bahwa pembersihan ranjau merupakan syarat utama agar kapal dapat kembali melintasi jalur strategis tersebut. Berbagai metode dapat digunakan, termasuk helikopter, kapal tempur pesisir, drone laut, bahkan lumba-lumba terlatih.
Pada hari yang sama, wakil ketua parlemen Iran mengklaim bahwa Teheran telah menerima pembayaran pertama biaya transit dari kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz, namun tidak mengungkap pihak pembayar maupun jumlahnya. Sebelumnya, Trump telah memperingatkan bahwa kapal yang membayar biaya tersebut kepada Iran tidak akan luput dari tindakan.
Dengan kedatangan kapal induk USS George H.W. Bush di kawasan, analis menilai hal ini tidak hanya memperkuat blokade laut AS, tetapi juga memberikan dukungan kekuatan militer yang lebih besar jika Washington memutuskan untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran.
Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.





