Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Ottawa
Senator Kanada dari British Columbia Yuen Pau Woo menekankan pentingnya Undang-Undang untuk mengimplementasikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Kanada dan Indonesia (Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement/ICA-CEPA).
Dalam pertemuan di Gedung Senat Kanada, Ottawa, Rabu, 15 April 2026 lalu, ia menyatakan kerja sama tersebut memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya sebatas perdagangan.
Menurutnya, Kanada perlu memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
“Perjanjian ini bukan hanya tentang perdagangan. Ini tentang bagaimana Kanada memposisikan diri di dunia yang tidak lagi terorganisasi di sekitar satu pusat kekuasaan. Sejauh Kanada berupaya untuk mendiversifikasi hubungan ekonominya di luar Amerika Serikat, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara merupakan pasar prioritas,” kata Pau Woo dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Jumat, 24 April 2026.
Ia menyoroti posisi strategis Indonesia yang sejak lama menjadi kekuatan penting di Asia Tenggara. Letak geografis Indonesia di antara Samudra Hindia dan Pasifik, serta keberadaan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan vital dunia, dinilai memiliki peran krusial dalam perekonomian global.
“Jika Anda mengira blokade Selat Hormuz merupakan masalah bagi perekonomian dunia, bayangkan blokade Selat Malaka yang penting bukan hanya untuk jalur minyak dan gas, tetapi juga kapal kontainer dan kapal kargo curah,” ujar Pau Woo.
Dengan lebih dari 17.000 pulau, wilayah yang membentang sekitar 5.000 kilometer, serta populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia dinilai memiliki pengaruh besar di tingkat global. Pau Woo juga menyinggung peran Indonesia dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 sebagai bukti kepemimpinan historisnya.
Ia menambahkan, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia dinilai siap memainkan peran yang lebih besar di masa depan. Indonesia juga disebut sebagai anggota penuh BRICS sejak 2025 serta satu-satunya negara Asia Tenggara yang menjadi anggota tetap G20.
Selain itu, Indonesia sebagai salah satu pendiri ASEAN juga dipandang sebagai pemimpin tidak resmi organisasi tersebut, dengan Sekretariat ASEAN yang berada di Jakarta. Kanada, kata dia, mengakui sentralitas ASEAN dalam strategi Indo-Pasifiknya.
“Bagi Kanada, ini bukan hanya pasar, tetapi juga gerbang menuju salah satu kawasan paling penting di abad ke-21,” kata Pau Woo.
Mengutip pernyataan Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengenai pergeseran menuju tatanan dunia multipolar, Pau Woo menekankan pentingnya kebijakan luar negeri yang lebih independen bagi Kanada. Dalam hal ini, ia menilai Kanada dapat belajar dari Indonesia.
“Negara-negara ASEAN, dan Indonesia khususnya, telah lama menyadari geopolitik, persaingan kekuatan besar, dan pentingnya otonomi strategis,” tutur Pau Woo.
Ia juga menegaskan Indonesia merupakan mitra penting dalam reformasi tata kelola global dan kerap menyuarakan kepentingan negara berkembang di berbagai forum internasional.
Menutup pernyataannya, Pau Woo menekankan bahwa ICA-CEPA bukan sekadar perjanjian tarif, melainkan fondasi untuk membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan bilateral di berbagai sektor.
“Baik itu kemitraan penelitian, mobilitas mahasiswa, pariwisata, atau pertukaran budaya. Kita membutuhkan lebih banyak Indonesia, dan Indonesia membutuhkan lebih banyak Kanada,” tutur Pau Woo.
Editor: Redaktur TVRINews





