Baru-baru ini, warganet di Jingzhou, Provinsi Hubei, Tiongkok melaporkan bahwa sebuah sekolah menengah, Songzi No.4 Middle School, melarang siswa pulang-pergi (tidak tinggal di asrama) membawa tas ke sekolah. Sebagai gantinya, mereka diminta menggunakan kantong plastik transparan untuk membawa perlengkapan belajar. Alasan kebijakan ini adalah untuk mencegah siswa membawa pisau atau barang berbahaya ke dalam sekolah, yang mana kemudian memicu perdebatan luas.
EtIndonesia. Sebuah pemberitahuan yang beredar menyebutkan bahwa mulai keesokan hari, semua siswa non-asrama dilarang membawa tas ke kampus. Orang tua diminta menyiapkan kantong plastik transparan untuk membawa perlengkapan belajar harian.
Setiap pagi, sekolah akan melakukan pemeriksaan di gerbang. Tas yang melanggar aturan akan disita sementara, diberi label nama dan kelas, lalu dikembalikan pada sore hari.
Kebijakan ini langsung memicu perdebatan di internet.
Sejumlah warganet berspekulasi bahwa mungkin sebelumnya telah terjadi insiden serius yang tidak dipublikasikan. Ada yang berkomentar, “Setiap aturan yang terlihat berlebihan biasanya ada kejadian yang lebih ekstrem di baliknya,” sementara yang lain menyebut pernah ada kasus siswa menyerang guru atau membawa senjata tajam di sekolah lain.
Pengumuman itu memicu diskusi hangat di dunia maya.Menanggapi hal ini, pihak Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Songzi awalnya menyatakan bahwa kebijakan tersebut bertujuan mencegah potensi bahaya, termasuk membawa pisau dan barang terlarang ke sekolah, serta telah didaftarkan secara resmi.
Namun, banyak warganet mengkritik kebijakan tersebut. Ada yang menulis, “Bayangkan, siswa SMA usia 16–17 tahun diminta mengganti tas mereka dengan kantong plastik transparan agar semua orang bisa melihat isi barang mereka.”
Komentar lain menyebut bahwa pemeriksaan ketat dilakukan di gerbang, dan tas yang dianggap melanggar langsung disita. Kritik juga menyoroti bahwa kantong plastik tidak praktis—tidak tahan air, mudah robek, tidak cukup menampung buku atau peralatan seperti papan gambar dan alat eksperimen. Selain itu, aturan ini hanya berlaku bagi siswa non-asrama, sementara siswa asrama tetap boleh membawa tas, yang dianggap sebagai standar ganda.
Sebagian warganet menilai kebijakan ini sebagai bentuk “kemalasan administratif”, di mana beban pengelolaan dialihkan kepada siswa tanpa mempertimbangkan kepraktisan, bahkan mengorbankan privasi dan martabat siswa.
Komentar lain lebih tajam, menyebut kebijakan ini “tidak masuk akal”, bahkan membandingkan sekolah dengan “pos pemeriksaan penjara”. Ada juga yang menyindir agar pihak sekolah mencoba sendiri menggunakan kantong plastik selama seminggu.
Setelah menuai perhatian publik, pada 21 April, otoritas pendidikan Kota Songzi mengeluarkan pernyataan resmi. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebelumnya memang ada beberapa siswa yang membawa barang terlarang ke dalam sekolah, sehingga menimbulkan risiko keamanan.
Saat ini, pihak sekolah telah diperintahkan untuk segera memperbaiki kebijakan tersebut dan melakukan evaluasi, serta memberikan pembinaan kepada pihak yang bertanggung jawab.
Dilaporkan oleh Li Li / Diedit oleh Xu Gengwen – NTDTV.com





