Pemerintah Iran menyatakan kesiapannya untuk kembali duduk di meja perundingan dengan Amerika Serikat (AS) guna menyepakati perdamaian.
Meski demikian, Teheran secara terbuka meragukan ketulusan dan keseriusan Washington dalam proses diplomatik tersebut.
Pernyataan ini ditegaskan oleh Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali yang menyebut negosiasi yang ditangguhkan siap dilanjutkan, asalkan perundingan tersebut membuahkan hasil yang nyata dan bukan sekadar forum di mana AS memaksakan kehendaknya.
Baca Juga: China dan Rusia Perkuat Koordinasi Jelang Pertemuan Xi Jinping dan Putin
"Kami ingin tujuan dan sasaran konkret dapat tercapai sebagai hasil dari perundingan ini. Mereka seharusnya tidak mendikte syarat dan hasil perundingan agar kita dapat mencapai perdamaian yang berkelanjutan dan jangka panjang di seluruh kawasan," jelas Kazem Jalali sebagaimana dilaporkan RIA Novosti.
Jalali memastikan bahwa Iran selalu berkomitmen pada jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik. Namun, ia memberikan peringatan bahwa Teheran tidak akan mentoleransi pendekatan AS yang bersifat mendikte, dan sengaja mengulur-ulur waktu proses perdamaian.
Kecurigaan ini muncul karena Teheran merasa Washington tidak menunjukkan itikad baik yang setara.
"Iran tidak melihat adanya pendekatan yang serius terhadap perundingan dari pihak AS," tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Jalali juga menyinggung konstelasi konflik saat ini dan mengklaim bahwa negaranya telah berhasil melewati dan memenangkan peperangan asimetris yang dilancarkan oleh kubu AS dan Israel.
"Mereka telah menggunakan seluruh potensi militer mereka untuk melawan Iran, tetapi hasilnya justru menjadi sebuah kemenangan bersejarah bagi Iran," pungkas sang duta besar.





