Bisnis.com, JAKARTA — Utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, bersama menantu presiden AS Jared Kushner dijadwalkan bertolak ke Islamabad, Pakistan pada Sabtu (25/4/2026) pagi untuk menggelar pembicaraan damai dengan Iran.
"Pihak Iran menyatakan keinginan berdialog," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dikutip dari BBC.
Dia menambahkan Wakil Presiden AS JD Vance dalam posisi siaga untuk turut bergabung apabila perundingan menunjukkan perkembangan positif.
Leavitt menyebut Trump mengirim Witkoff dan Kushner ke Islamabad untuk mendengarkan langsung pandangan Iran, seraya menegaskan bahwa presiden AS selalu membuka peluang diplomasi. Dia juga mengindikasikan adanya kemajuan dari pihak Iran dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei mengungkapkan dirinya bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah tiba di Islamabad pada Jumat malam. Araghchi dijadwalkan bertemu dengan pejabat tinggi Pakistan.
Meski demikian, Baqaei menegaskan tidak ada rencana pertemuan langsung antara Iran dan Amerika Serikat.
“Pandangan Iran akan disampaikan kepada Pakistan,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan Teheran memiliki peluang untuk mencapai kesepakatan yang baik, dengan syarat menghentikan pengembangan senjata nuklir secara nyata dan dapat diverifikasi.
Dalam konferensi pers Jumat, Hegseth juga memperingatkan bahwa blokade Washington di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak global—kian meluas dan berdampak secara global.
Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian direspons Teheran dengan membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Eskalasi tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Sementara itu, Kedutaan Besar Iran di Islamabad menyatakan Araghchi akan membahas hubungan bilateral serta perkembangan kawasan.
Meski Trump dan Hegseth menegaskan AS tidak berada di bawah tekanan untuk mengakhiri perang dengan Iran, kelanjutan pembicaraan akhir pekan ini mencerminkan adanya perbedaan antara pernyataan publik pemerintah dan upaya diplomasi di balik layar untuk meredakan konflik.
Situasi ini mengindikasikan kedua pihak tengah mencari jalan keluar, di tengah sinyal yang beragam dari Washington dan sikap keras Teheran. Pertanyaan utama kini adalah sejauh mana kemajuan yang dapat dicapai dalam perundingan di Pakistan.
Pada Rabu (22/4/2026) lalu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan akibat pelanggaran gencatan senjata oleh AS dan Israel.
Dia menilai blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran telah “menyandera” perekonomian global serta menuding Israel melakukan provokasi di berbagai lini.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tetap terbuka untuk bernegosiasi dengan AS. Namun,d ia menilai pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman menjadi hambatan utama bagi perundingan yang substantif.
Sebelumnya, Trump mengumumkan perpanjangan tanpa batas waktu terhadap gencatan senjata dengan Iran yang semula berakhir pada Rabu, guna memberi ruang bagi kelanjutan negosiasi.





