FAJAR, MAKASSAR — Menjelang peringatan Hari Tari Dunia (World Dance Day), Sekolah Tari Komunitas Gellu Toraya bersama para pegiat seni di Toraja bersiap menggelar Toraja In Art and Culture Festival.
Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, festival ini akan berlangsung pada 26–29 April 2026.
Pembukaan kegiatan dijadwalkan berlangsung di Objek Wisata Buntu Pune, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Selama festival, berbagai pertunjukan tari akan digelar di sejumlah titik Tongkonan yang tersebar di wilayah Tana Toraja dan Toraja Utara.
Menjelang pembukaan, suasana latihan tampak semarak. Anak-anak hingga remaja terlihat antusias mengikuti gladi di kawasan Buntu Pune, mempersiapkan penampilan terbaik mereka.
Ketua Yayasan Obwis Buntu Pune, dr. Daniel Litta Palinggi, mengatakan bahwa festival ini bukan sekadar perayaan seni, tetapi juga menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk menjaga warisan budaya Toraja.
“Festival ini menjadi momentum refleksi, khususnya terkait Tongkonan yang kini menghadapi ancaman penggusuran dan penghancuran. Ini harus menjadi pengingat bagi masyarakat Toraja untuk terus menjaga budaya,” ujarnya saat ditemui di Buntu Pune, Sabtu sore, 25 April.
Ia menegaskan, Tongkonan bukan sekadar bangunan, melainkan simbol identitas yang tidak tergantikan.
“Tanah bisa dimiliki siapa saja dan bisa berpindah tangan. Namun Tongkonan adalah simbol identitas orang Toraja yang tidak akan tergantikan,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan sengketa tanah maupun warisan kerap menimbulkan pro dan kontra, bahkan dalam ranah hukum positif. Namun, keberadaan Tongkonan sebagai identitas budaya tidak bisa diganggu gugat.
“Kalau bicara lumbung atau Tongkonan, itu adalah identitas orang Toraja yang tidak bisa diperdebatkan,” tambahnya.
Ia pun berharap festival ini dapat menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat nilai persaudaraan dan kecintaan terhadap budaya.
“Mari kita saling mengedepankan kasih. Jika benar, katakan benar, jika salah, katakan salah. Momentum kegiatan ini hendaknya kita maknai sebagai pengingat jati diri kita sebagai masyarakat Toraja,” pungkasnya. (edy)





