Grid.ID - Terungkap curhatan pilu orangtua korban kekerasan anak di daycare Jogja. Ditemukan luka-luka di tubuh anak hingga sering sakit-sakitan.
Aparat kepolisian melakukan penggerebekan di sebuah tempat penitipan anak atau daycare di Umbulharjo, Kota Yogyakarta, pada Jumat (24/4/2026) sore. Daycare bernama Little Aresha tersebut diduga melakukan praktik kekerasan terhadap anak-anak yang dititipkan.
Dari hasil pendalaman polisi, dari 103 anak yang dititipkan, sekitar 53 anak dengan rentang usia di bawah 2 tahun, mendapatkan dugaan tindak kekerasan.
Diperkirakan tindak kekerasan anak di daycare Jogja ini telah dilakukan lebih dari satu tahun. Terkait kasus ini, polisi telah mengamankan sebanyak 30 orang yang diduga terlibat.
Dari 30 tersebut, 25 orang di antaranya adalah pengasuh anak, sementara 5 orang adalah pejabat struktural dan pemilik daycare tersebut. Saat penggerebekan, polisi menyaksikan langsung anak-anak yang diperlakukan tidak manusiawi di tempat tersebut.
“Benar, pada tanggal 24 kemarin, kami telah melakukan penggerebekan di mana itu tempat penitipan anak. Penitipan anak yang di mana petugas kita memang melihat langsung bahwa anak tersebut diperlakukan tidak manusiawi,” kata Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian, dikutip dari Tribun Jogja.
Perlakuan tidak manusiawi di antaranya ada anak-anak yang diikat kakinya, diikat tangannya dan ditemukan sejumlah luka di tubuh korban.
“Alhamdulillah kemarin juga kami telah mengamankan sekitar 30 orang secara maraton. Mungkin rekan-rekan juga lihat yang ada di Polresta ini juga sekitar 30 orang itu dari tadi malam, sampai dengan detik ini juga masih dilakukan pemeriksaan, pendalaman oleh Unit PPA,” jelas Adrian.
Kronologi Penggerebekan
Kasus dugaan kekerasan anak di daycare Jogja terungkap setelah adanya salah seorang karyawan yang resign dari tempat penitipan anak tersebut. Karyawan itu mengaku melihat adanya perlakuan tidak manusiawi di daycare.
“Sehingga kurang sesuai dengan hati nuraninya karena mungkin ada yang dianiaya, ditelantarkan,” ungkap Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Eva Guna Pandia.
Bertentangan dengan hati nurani, karyawan tersebut mantap untuk mengundurkan diri, namun dirinya justru menemukan kendala. Pihak daycare menahan ijazahnya sebagai syarat bekerja di tempat tersebut.
“Dia merasa tidak sesuai hati nurani kemudian resign tetapi ijazahnya ditahan sama pemilik sehingga dia melapor ke kami. Karena mendapat informasi tersebut, langsung kami ditindaklanjuti," jelasnya.
Eva juga menegaskan bahwa hingga saat ini proses penyelidikan kasus ini masih berjalan. Polisi masih melakukan pendalaman untuk menguak kasus ini dengan terang benderang.
Curhat Pilu Orangtua
Salah satu orangtua korban kekerasan anak di daycare Jogja mengungkapkan kesedihannya usai menitipkan buah hatinya di tempat tersebut. Noorman, mengaku telah menitipkan dua anaknya di daycare Little Aresha sejak tahun 2022 sampai 2025.
Mendengar informasi adanya dugaan penganiayaan, Noorman pun tertampar kenyataan pilu. Ia akhirnya menyadari bahwa anaknya selama ini sering mengalami luka tanpa sebab.
Ia juga telah menyaksikan sendiri bukti-bukti video yang memperlihatkan perlakuan tidak manusiawi terhadap anak-anak yang dititipkan di Little Aresha.
“Ternyata perlakuan di daycare selama kami titipkan itu tidak manusiawi. Melihat dari bukti-bukti video yang kemarin kita lihat di TKP. Jadi dari video memang kita tidak terlalu jelas siapa anak-anak itu karena mungkin terbatas videonya,” ujarnya.
Anak-anak berusia di bawah 3 tahun itu menerima penyiksaan berupa kaki dan tangan diikat. Mereka juga setiap hari dipaksa untuk tidur tanpa alas, tidak pakai baju dan hanya mengenakan popok.
Menurut Noorman, luka di tubuh anaknya juga mirip dengan luka anak-anak korban lainnya. Diduga anak-anak tersebut mendapatkan tindak kekerasan yang sama.
“Nah itu perlakuannya seperti itu yang saya alami. Kemudian ada beberapa luka di bagian badan, tapi kebetulan anak saya juga pernah mengalami luka tersebut. Dan luka tersebut ternyata sama dengan luka anak orangtua lain yang anaknya dititipkan di sana, jadi kita tahu bahwa ternyata lukanya sama,” ungkapnya.
Yang lebih memilukan, sejak dititipkan di daycare, anaknya jadi sering sakit-sakitan. Terakhir, anak Noorman divonis menderita pneumonia dan gangguan paru-paru.
“Nah ternyata yang kena pneumonia tidak hanya anak saya, tapi ternyata ada beberapa anak juga Pneumonia,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Noorman memperlihatkan foto anaknya yang mendapatkan luka di bagian punggung dan bibir bagian atas. Terdapat luka merah seperti goresan di punggung dan luka di bibir yang tampak sedikit darah yang mengering.
Saat itu, pihak daycare berdalih bahwa luka tersebut memang berasal dari rumah, sebelum sang anak dititipkan.
"Jadi mereka bilang ini luka dari rumah ya, bun," tuturnya.
Di sisi lain, curhat pilu juga diungkap oleh orangtua korban lainnya, Choirunnisa (34). Dengan mata berkaca-kaca, Choirunnisa mengaku selalu menemukan luka di badan anaknya.
Selain luka-luka tersebut, anaknya yang berusia 1 tahun 5 bulan tersebut juga mengalami pilek berkepanjangan dan batuk. Terlebih, berat badan anaknya juga turun.
“Dia pilek sampai sekarang belum sembuh. Terus batuk, biasanya nggak pernah batuk. Batuknya sampai mutah-mutah terus. Berat badannya juga dari hampir sembilan, jadi turun sampai delapan. Lukanya, ini ada fotonya. Ini semalam,” ungkapnya.
Sama dengan Noorman, Choirunnisa juga memperlihatkan foto anaknya yang memiliki luka. Punggungnya terlihat bekas luka seperti akibat pukulan benda keras.
Di tangan anaknya juga terlihat ada luka melepuh seperti terkena benda panas. Pihak daycare berdalih luka tersebut adalah cacar air.
“Kayak gini (melepuh) ini pas hari Jumat juga, dua minggu lalu. Bilangnya kena cacar air atau gimana. Tapi kalau kena cacar air, itu cuma bagian tangan sini sampai ini saja. Itu tangan dua-duanya, seperti melepuh,” imbuhnya.
Selain itu, sang anak juga cenderung memiliki kebiasaan aneh, yakni menolak tidur di kasur. Hal itu lantaran korban terbiasa tidur tanpa alas di daycare.
“Dia menangis minta tidur di bawah, kebiasan di daycare ternyata tidurnya di bawah,” terangnya.
Keanehan juga terlihat saat anak-anak tersebut selalu menangis setiap kali dititipkan di daycare Little Aresha. Tak disangka hal itu lantaran trauma yang dialami anak-anak akibat mendapatkan kekerasan di tempat yang seharusnya menjadi tempat aman dan menyenangkan bagi mereka.
Daycare Tidak Kantongi Izin
Terkuaknya kasus kekerasan anak di daycare Jogja ini turut membongkar fakta bahwa usaha tersebut tidak mengantongi izin alias ilegal. Hal ini diungkap oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, Retnaningtyas.
"Tidak berizin. Kami sudah cek di Dinas Pendidikan maupun ke Dinas Perizinan, memang itu belum ada izinnya,” kata Retnaningtyas, dikutip dari Kompas.com.
Lebih lanjut, pendampingan psikologis dan bantuan hukum juga telah disiapkan untuk para korban.
“Kami akan melakukan pendampingan psikologi maupun konselor hukum untuk mendampingi bagi anak-anak yang sudah ada di sana,” lanjutnya.
Tak berhenti di situ, DP3AP2KB bersama Dinas Pendidikan juga mulai melakukan pendataan terhadap seluruh daycare di Kota Yogyakarta sebagai langkah evaluasi menyeluruh. (*)
Artikel Asli




