FAJAR, MAKASSAR — Persaingan menuju gelar Super League 2025/2026 kini memasuki fase paling menentukan—fase di mana satu hasil bisa mengubah arah sejarah. Dalam pusaran dramatis ini, muncul satu skenario menarik: efek domino dari PSM Makassar yang bisa berdampak langsung pada peluang juara antara Persib Bandung dan Borneo FC.
Di atas kertas, Persib Bandung masih memimpin klasemen. Namun posisi tersebut jauh dari kata aman. Jadwal berat menanti—mulai dari duel melawan Dewa United, Persija Jakarta, hingga PSM Makassar sendiri. Semua laga ini bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan “final” yang harus dimenangkan.
Gelandang sekaligus motor permainan Persib, Marc Klok, memahami betul tekanan tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk kesalahan di sisa musim.
“Kami tahu posisi kami sekarang. Dengan sisa pertandingan yang ada, setiap laga itu sangat penting dan harus dimenangkan,” ujarnya.
Pernyataan ini menggambarkan situasi Persib: berada di depan, tetapi dengan bayang-bayang tekanan yang semakin besar. Apalagi, performa mereka belakangan mulai goyah, termasuk hasil imbang melawan Arema FC yang membuat jarak poin semakin terpangkas.
Di sisi lain, Borneo FC justru melaju dengan stabil. Kemenangan meyakinkan 3-0 atas Semen Padang FC menjadi bukti bahwa Pesut Etam tidak hanya konsisten, tetapi juga siap menekan hingga detik terakhir. Kini, mereka memiliki poin yang sama dengan Persib—66 angka—dan hanya kalah dalam selisih tertentu.
Di sinilah “efek domino” mulai terasa.
Kemenangan PSM Makassar atas Persik Kediri dengan skor 3-1 bukan hanya penting untuk menjauh dari zona degradasi. Lebih dari itu, hasil tersebut memperkuat posisi PSM di papan tengah dan meningkatkan kepercayaan diri mereka jelang menghadapi tim-tim besar—termasuk Persib.
Artinya, jika PSM berhasil mempertahankan performa dan tetap bertahan di liga, mereka bisa menjadi batu sandungan serius bagi Persib dalam laga krusial mendatang. Dan jika Persib terpeleset di salah satu laga tersebut, Borneo FC siap mengambil alih.
Inilah efek berantai yang dimaksud:
PSM bertahan → performa meningkat → mampu mengganggu Persib → poin Persib tergerus → Borneo FC diuntungkan.
Borneo FC sendiri berada dalam posisi yang relatif lebih “nyaman” dari sisi jadwal. Lawan-lawan mereka tidak seberat yang dihadapi Persib. Dengan momentum kemenangan dan kepercayaan diri tinggi, mereka hanya perlu menjaga konsistensi untuk terus mengumpulkan poin.
Sementara itu, tekanan justru semakin besar di kubu Persib. Selain harus menghadapi lawan kuat, mereka juga harus menjaga mentalitas tim agar tidak runtuh di tengah tekanan.
Marc Klok bahkan menyampaikan pesan penuh semangat usai hasil imbang melawan Arema FC melalui media sosial:
“Satu pelajaran besar. Kami tidak berhenti di sini dan akan bertarung hingga akhir.”
Pesan tersebut langsung mendapat respons dari rekan setimnya, Eliano Reijnders, yang menegaskan semangat juang tim:
“We keep going capt.”
Namun dalam realitas kompetisi, semangat saja tidak cukup. Konsistensi di lapangan menjadi penentu utama. Dan di sinilah Persib diuji—apakah mereka mampu bertahan di puncak, atau justru tergelincir di tikungan akhir.
Sementara itu, peran PSM Makassar menjadi semakin menarik. Mereka mungkin tidak berada dalam perebutan gelar, tetapi posisi mereka sebagai “penentu” sangat krusial. Tim yang sedang berjuang keluar dari tekanan sering kali tampil tanpa beban—dan justru berbahaya bagi tim-tim besar.
Jika PSM mampu mencuri poin dari Persib, maka jalan bagi Borneo FC akan terbuka lebar. Dalam skenario ekstrem, Persib bisa saja “memberikan” gelar kepada Borneo bukan karena kalah kualitas, tetapi karena gagal menjaga konsistensi di momen paling penting.
Dengan lima pertandingan tersisa, setiap laga kini bernilai seperti final. Tidak ada lagi ruang untuk eksperimen atau kesalahan kecil.
Pada akhirnya, perebutan gelar musim ini bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling tahan tekanan. Dan dalam permainan domino yang sedang berlangsung ini, satu kepingan kecil—seperti kebangkitan PSM Makassar—bisa menjatuhkan seluruh susunan dan menentukan siapa yang berdiri sebagai juara: Persib Bandung atau Borneo FC. PSM sendiri yang berambisi ingin bertahan di Super League akan menjamu Persib Bandung.
Efek Domino PSM Jika Bertahan di Super League Bisa Buat Persib Bandung Beri Gelar Juara ke Borneo FC
FAJAR, MAKASSAR — Persaingan menuju gelar Super League 2025/2026 kini memasuki fase paling menentukan—fase di mana satu hasil bisa mengubah arah sejarah. Dalam pusaran dramatis ini, muncul satu skenario menarik: efek domino dari PSM Makassar yang bisa berdampak langsung pada peluang juara antara Persib Bandung dan Borneo FC.
Di atas kertas, Persib Bandung masih memimpin klasemen. Namun posisi tersebut jauh dari kata aman. Jadwal berat menanti—mulai dari duel melawan Dewa United, Persija Jakarta, hingga PSM Makassar sendiri. Semua laga ini bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan “final” yang harus dimenangkan.
Gelandang sekaligus motor permainan Persib, Marc Klok, memahami betul tekanan tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk kesalahan di sisa musim.
“Kami tahu posisi kami sekarang. Dengan sisa pertandingan yang ada, setiap laga itu sangat penting dan harus dimenangkan,” ujarnya.
Pernyataan ini menggambarkan situasi Persib: berada di depan, tetapi dengan bayang-bayang tekanan yang semakin besar. Apalagi, performa mereka belakangan mulai goyah, termasuk hasil imbang melawan Arema FC yang membuat jarak poin semakin terpangkas.
Di sisi lain, Borneo FC justru melaju dengan stabil. Kemenangan meyakinkan 3-0 atas Semen Padang FC menjadi bukti bahwa Pesut Etam tidak hanya konsisten, tetapi juga siap menekan hingga detik terakhir. Kini, mereka memiliki poin yang sama dengan Persib—66 angka—dan hanya kalah dalam selisih tertentu.
Di sinilah “efek domino” mulai terasa.
Kemenangan PSM Makassar atas Persik Kediri dengan skor 3-1 bukan hanya penting untuk menjauh dari zona degradasi. Lebih dari itu, hasil tersebut memperkuat posisi PSM di papan tengah dan meningkatkan kepercayaan diri mereka jelang menghadapi tim-tim besar—termasuk Persib.
Artinya, jika PSM berhasil mempertahankan performa dan tetap bertahan di liga, mereka bisa menjadi batu sandungan serius bagi Persib dalam laga krusial mendatang. Dan jika Persib terpeleset di salah satu laga tersebut, Borneo FC siap mengambil alih.
Inilah efek berantai yang dimaksud:
PSM bertahan → performa meningkat → mampu mengganggu Persib → poin Persib tergerus → Borneo FC diuntungkan.
Borneo FC sendiri berada dalam posisi yang relatif lebih “nyaman” dari sisi jadwal. Lawan-lawan mereka tidak seberat yang dihadapi Persib. Dengan momentum kemenangan dan kepercayaan diri tinggi, mereka hanya perlu menjaga konsistensi untuk terus mengumpulkan poin.
Sementara itu, tekanan justru semakin besar di kubu Persib. Selain harus menghadapi lawan kuat, mereka juga harus menjaga mentalitas tim agar tidak runtuh di tengah tekanan.
Marc Klok bahkan menyampaikan pesan penuh semangat usai hasil imbang melawan Arema FC melalui media sosial:
“Satu pelajaran besar. Kami tidak berhenti di sini dan akan bertarung hingga akhir.”
Pesan tersebut langsung mendapat respons dari rekan setimnya, Eliano Reijnders, yang menegaskan semangat juang tim:
“We keep going capt.”
Namun dalam realitas kompetisi, semangat saja tidak cukup. Konsistensi di lapangan menjadi penentu utama. Dan di sinilah Persib diuji—apakah mereka mampu bertahan di puncak, atau justru tergelincir di tikungan akhir.
Sementara itu, peran PSM Makassar menjadi semakin menarik. Mereka mungkin tidak berada dalam perebutan gelar, tetapi posisi mereka sebagai “penentu” sangat krusial. Tim yang sedang berjuang keluar dari tekanan sering kali tampil tanpa beban—dan justru berbahaya bagi tim-tim besar.
Jika PSM mampu mencuri poin dari Persib, maka jalan bagi Borneo FC akan terbuka lebar. Dalam skenario ekstrem, Persib bisa saja “memberikan” gelar kepada Borneo bukan karena kalah kualitas, tetapi karena gagal menjaga konsistensi di momen paling penting.
Dengan lima pertandingan tersisa, setiap laga kini bernilai seperti final. Tidak ada lagi ruang untuk eksperimen atau kesalahan kecil.
Pada akhirnya, perebutan gelar musim ini bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling tahan tekanan. Dan dalam permainan domino yang sedang berlangsung ini, satu kepingan kecil—seperti kebangkitan PSM Makassar—bisa menjatuhkan seluruh susunan dan menentukan siapa yang berdiri sebagai juara: Persib Bandung atau Borneo FC. PSM sendiri yang berambisi ingin bertahan di Super League akan menjamu Persib Bandung.





