Jakarta, VIVA – Menjaga kesehatan keluarga bukan hanya dilakukan saat sakit datang, tetapi dimulai dari langkah pencegahan yang konsisten. Di tengah aktivitas sekolah, pekerjaan, dan mobilitas tinggi, penyakit menular seperti influenza masih menjadi ancaman yang sering disepelekan. Padahal, flu bukan sekadar demam atau pilek biasa, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Konsep Perlindungan Tepat untuk Keluarga Hebat menjadi semakin relevan ketika banyak keluarga tinggal serumah lintas generasi. Anak yang aktif bersekolah bisa membawa virus ke rumah, lalu menularkannya kepada orang tua atau kakek-nenek. Karena itu, pencegahan influenza perlu dilihat sebagai perlindungan bersama, bukan hanya urusan individu. Apa yang harus dilakukan orang tua untuk melindungi keluarga? Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
- pixabay/ sweetlousie
Influenza masih menjadi masalah kesehatan dunia. Secara global, penyakit ini diperkirakan menyebabkan 290 ribu hingga 650 ribu kematian setiap tahun. Di negara tropis seperti Indonesia, sirkulasi virus flu dapat terjadi sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan tidak bisa hanya dilakukan saat musim tertentu.
Meski sering dianggap penyakit ringan, influenza dapat berkembang menjadi komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan. Risiko rawat inap dan penularan dalam keluarga juga cukup tinggi bila tidak ditangani dengan baik.
Mengapa Vaksin Berubah dari Quadrivalent ke Trivalent?- VIVA/ David Rorimpandey
Selama bertahun-tahun, vaksin quadrivalent digunakan untuk melindungi dari empat jenis galur virus influenza: dua tipe A dan dua tipe B. Namun perkembangan data ilmiah menunjukkan salah satu galur virus B, yakni B/Yamagata, tidak lagi terdeteksi dalam beberapa tahun terakhir.
“Selama lebih dari satu dekade, vaksin quadrivalent dikembangkan untuk melindungi dari dua galur virus flu jenis A yaitu H1N1 dan H3N2 serta dua galur virus flu jenis B yaitu Victoria dan Yamagata. Namun, sejak tahun 2020, virus B/Yamagata tidak ditemukan lagi di seluruh dunia. Oleh karena itu, pada 2023, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai bahwa keberadaan komponen virus B/Yamagata dalam vaksin tidak diperlukan lagi,” ujar Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si., Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), saat Media Discussion Kalventis Hadirkan Vaksin Influenza Trivalen Sesuai Rekomendasi WHO di Jakarta, baru-baru ini.





