Jakarta (ANTARA) - Ikatan Alumni Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB) mendorong pemerintah memperkuat ekosistem industri baterai berbasis nikel sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional di tengah tekanan geopolitik global.
Ketua Umum IAGL ITB Abdul Bari dalam keterangan di Jakarta, Sabtu menegaskan pentingnya integrasi kebijakan energi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi migas (lifting), tetapi juga hilirisasi sumber daya strategis seperti nikel.
Menurut Bari, penguatan ekosistem industri baterai nikel menjadi krusial karena komoditas tersebut berperan sebagai bahan baku utama dalam pengembangan kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi (energy storage system).
"Rekomendasi dari kami, pertama adalah peningkatan lifting minyak. Ini bisa dilakukan dengan adanya insentif fiskal terhadap perusahaan-perusahaan minyak untuk melakukan eksplorasi dan agresif eksplorasi di minyak. Kedua, hilirisasi batubara itu sudah wajib banget karena kita harus beralih pada energi yang kita punya sendiri. Demikian juga dengan nikel. nikel itu sebagai storage untuk EV, itu juga jadi penting buat kita, sehingga menuju kemandirian dan kedaulatan energi itu akan lebih cepat," jelas Bari.
Ia memaparkan, kebutuhan minyak bumi nasional mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru sekitar 605.000 barel per hari.
"Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis dan memperkokoh kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri agar dapat menentukan arah kebijakan yang terfokus dan strategis," kata Bari.
Sebagai langkah mitigasi, IAGL ITB mendorong percepatan eksplorasi migas secara agresif untuk menjaga keberlanjutan produksi energi dalam jangka menengah dan panjang. Namun, di saat yang sama, organisasi ini menilai bahwa optimalisasi nikel dan batu bara harus berjalan paralel sebagai pilar energi nasional.
Bari menjelaskan, Indonesia memiliki potensi nikel yang sangat besar, dengan kemampuan menghasilkan listrik hingga 50 GWh per tahun dan total potensi lebih dari 1 TWh.
Selain itu, pengembangan ekosistem industri baterai nikel dinilai dapat memberikan nilai tambah signifikan, sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih berbasis listrik di Indonesia.
Di sisi lain, batu bara tetap memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional. Indonesia memiliki sumber daya batubara sebesar 97 miliar ton dengan cadangan terbukti sekitar 32 miliar ton.
Menurutnya, pemanfaatan batu bara diarahkan tidak hanya sebagai bahan bakar pembangkit listrik, tetapi juga melalui hilirisasi seperti gasifikasi menjadi dimethyl ether (DME), peningkatan kualitas, serta penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menyatakan pemerintah terus berupaya memaksimalkan lifting migas, termasuk mengoptimalkan sumur idle, serta eksplorasi cekungan baru yang belum tergarap.
"Seperti yang sering digarisbawahi oleh kaum geolog itu adalah ada 128 cekungan yang sudah tereksplorasi, eksploitasi itu baru 60 cekungan, masih ada 68 cekungan yang belum disentuh," katanya.
Ia menambahkan, pengembangan industri baterai merupakan bagian dari hilirisasi nikel yang terus didorong pemerintah secara bertahap dalam rantai ekosistem industri.
"Memang, hilir dari segala hilir adalah industri salah satunya baterai, tapi kita hari ini kan sudah memproduksi NPI (nickel pig iron) untuk baja, stainless steel dan produk-produk lain. Jadi, memang dalam konteks industri itu, ya semuanya memang bertahap," ungkapnya.
Baca juga: Indonesia dapat perkuat kedaulatan energi baru di tengah krisis global
Baca juga: MIND ID akan dongkrak produksi batu bara, nikel, bauksit pada 2026
Baca juga: Hilirisasi, membangun nilai dari perut bumi sendiri
Ketua Umum IAGL ITB Abdul Bari dalam keterangan di Jakarta, Sabtu menegaskan pentingnya integrasi kebijakan energi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi migas (lifting), tetapi juga hilirisasi sumber daya strategis seperti nikel.
Menurut Bari, penguatan ekosistem industri baterai nikel menjadi krusial karena komoditas tersebut berperan sebagai bahan baku utama dalam pengembangan kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi (energy storage system).
"Rekomendasi dari kami, pertama adalah peningkatan lifting minyak. Ini bisa dilakukan dengan adanya insentif fiskal terhadap perusahaan-perusahaan minyak untuk melakukan eksplorasi dan agresif eksplorasi di minyak. Kedua, hilirisasi batubara itu sudah wajib banget karena kita harus beralih pada energi yang kita punya sendiri. Demikian juga dengan nikel. nikel itu sebagai storage untuk EV, itu juga jadi penting buat kita, sehingga menuju kemandirian dan kedaulatan energi itu akan lebih cepat," jelas Bari.
Ia memaparkan, kebutuhan minyak bumi nasional mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru sekitar 605.000 barel per hari.
"Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis dan memperkokoh kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri agar dapat menentukan arah kebijakan yang terfokus dan strategis," kata Bari.
Sebagai langkah mitigasi, IAGL ITB mendorong percepatan eksplorasi migas secara agresif untuk menjaga keberlanjutan produksi energi dalam jangka menengah dan panjang. Namun, di saat yang sama, organisasi ini menilai bahwa optimalisasi nikel dan batu bara harus berjalan paralel sebagai pilar energi nasional.
Bari menjelaskan, Indonesia memiliki potensi nikel yang sangat besar, dengan kemampuan menghasilkan listrik hingga 50 GWh per tahun dan total potensi lebih dari 1 TWh.
Selain itu, pengembangan ekosistem industri baterai nikel dinilai dapat memberikan nilai tambah signifikan, sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih berbasis listrik di Indonesia.
Di sisi lain, batu bara tetap memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional. Indonesia memiliki sumber daya batubara sebesar 97 miliar ton dengan cadangan terbukti sekitar 32 miliar ton.
Menurutnya, pemanfaatan batu bara diarahkan tidak hanya sebagai bahan bakar pembangkit listrik, tetapi juga melalui hilirisasi seperti gasifikasi menjadi dimethyl ether (DME), peningkatan kualitas, serta penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menyatakan pemerintah terus berupaya memaksimalkan lifting migas, termasuk mengoptimalkan sumur idle, serta eksplorasi cekungan baru yang belum tergarap.
"Seperti yang sering digarisbawahi oleh kaum geolog itu adalah ada 128 cekungan yang sudah tereksplorasi, eksploitasi itu baru 60 cekungan, masih ada 68 cekungan yang belum disentuh," katanya.
Ia menambahkan, pengembangan industri baterai merupakan bagian dari hilirisasi nikel yang terus didorong pemerintah secara bertahap dalam rantai ekosistem industri.
"Memang, hilir dari segala hilir adalah industri salah satunya baterai, tapi kita hari ini kan sudah memproduksi NPI (nickel pig iron) untuk baja, stainless steel dan produk-produk lain. Jadi, memang dalam konteks industri itu, ya semuanya memang bertahap," ungkapnya.
Baca juga: Indonesia dapat perkuat kedaulatan energi baru di tengah krisis global
Baca juga: MIND ID akan dongkrak produksi batu bara, nikel, bauksit pada 2026
Baca juga: Hilirisasi, membangun nilai dari perut bumi sendiri





