Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Sharif menyampaikan akan tetap berupaya mendorong perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang saat ini masih tegang.
Dilansir CNN, komunikasi itu terjadi pada Sabtu (24/4). Sharif memastikan bahwa Islamabad "akan terus melakukan upaya yang tulus dan jujur untuk mendorong perdamaian dan keamanan regional," menurut Kantor Perdana Menteri.
Dalam unggahan di X, Sharif menyampaikan apresiasi atas keputusan Iran mengirimkan delegasi tingkat tinggi yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi ke Islamabad untuk melakukan pembicaraan yang bertujuan mengakhiri perang.
Delegasi Iran tersebut meninggalkan Islamabad pada Sabtu dan tiba di Muscat, Oman, untuk melanjutkan pembicaraan regional. Utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Donald Trump, Jared Kushner, sebelumnya dijadwalkan berangkat ke Islamabad pada Sabtu, namun Presiden Donald Trump membatalkan perjalanan mereka pada menit-menit terakhir.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diperkirakan akan kembali ke Pakistan setelah kunjungannya ke Oman akhir pekan ini, menurut kantor berita resmi pemerintah Iran, IRNA.
Sebelumnya, Araghchi mengatakan bahwa ia meninggalkan Islamabad menuju Oman pada Sabtu setelah melakukan "kunjungan yang produktif", meskipun ia tidak bertemu dengan perunding Amerika Serikat di ibu kota Pakistan tersebut.
IRNA juga melaporkan bahwa delegasi Iran yang sebelumnya mendampingi Araghchi di Pakistan telah kembali ke Teheran saat menteri luar negeri itu berada di Oman, dan rombongan tersebut kemungkinan juga akan kembali ke Islamabad pada Minggu malam.
Trump Batalakan Keberangkatan UtusanSebelumnya, dilansir AFP, Gedung Putih menyatakan bahwa utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, akan menuju ibu kota Pakistan untuk melakukan "pembicaraan langsung" dengan pihak Iran yang diharapkan dapat "mendorong kemajuan menuju kesepakatan".
Namun, Trump mengatakan kepada Fox News pada Sabtu bahwa ia membatalkan perjalanan tersebut.
"Kami memegang semua kendali. Mereka bisa menghubungi kami kapan saja, tetapi tidak perlu lagi melakukan penerbangan 18 jam hanya untuk duduk dan membicarakan hal yang tidak menghasilkan apa-apa," kata Trump, mengutip pernyataannya kepada timnya.
Ketika ditanya media AS Axios apakah hal itu berarti dimulainya kembali permusuhan, Trump menjawab: "Tidak. Itu tidak berarti demikian. Kami bahkan belum memikirkannya."
(aik/aik)





