EEmpat puluh tahun adalah rentang waktu panjang. Anak-anak yang dahulu belajar “alif, ba, ta...” kepada Sopiah kini telah tumbuh dewasa. Sebagian bahkan sudah berkeluarga. Selama itu pula, Sopiah menunggu. Kini, di usianya yang menginjak 72 tahun, koper dan seragam rombongan haji menjadi saksi bisu doa dan usaha yang ia rawat dengan penuh kesabaran hingga akhirnya menemukan jalan menuju Tanah Suci.
Terik matahari di kawasan Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (25/4/2026) siang, seolah kalah oleh sejuknya suasana pelepasan Sopiah bersama anak, menantu, cucu, dan sanak keluarganya. Meski harus berpisah sejenak dengan keluarga, Sopiah tampak bahagia karena mimpinya untuk menunaikan rukun Islam kelima tinggal selangkah lagi.
Lambaian tangan keluarga mengiringi langkah Sopiah menuju bus yang akan mengantarkannya ke Asrama Haji Palembang. Sopiah dan 303 orang yang berada di bawah naungan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al Multazam Palembang merupakan bagian dari kelompok terbang atau kloter 4 calon haji Embarkasi Palembang yang bertolak ke Madinah, Arab Saudi, Minggu (26/4/2026), sekitar pukul 12.35 WIB.
Bagi Sopiah, perjalanan spiritual menuju Tanah Suci tidak ditempuh secara singkat. Ia melalui proses panjang dengan menabung selama kurang lebih empat dekade. Perjalanan itu ia tapaki melalui profesinya sebagai guru ngaji dari rumah ke rumah di perkampungan wilayah Plaju, Palembang, sejak pertengahan tahun 1980-an.
Dalam mengajar mengaji, Sopiah hanya mengandalkan keikhlasan dari para orangtua muridnya. Ia tidak pernah sekali pun meminta atau mematok uang dari setiap huruf hijaiyah di lembaran Al Quran yang diajarkannya.
Terkadang, ada orangtua murid yang tidak sanggup memberi uang. Namun, Sopiah tetap ikhlas berbagi ilmu agama yang diperolehnya dari proses belajar selama kurang lebih 12 tahun sejak usia dini. Tak jarang, ada pula orangtua murid yang baru memberi uang setelah berbulan-bulan. Sopiah tidak pernah menagih dan tetap rutin mengajar.
“Kata guru saya, mengajar mengaji adalah kewajiban setiap Muslim yang bisa mengaji. Jadi, jangan pernah meminta dan mematok uang sepeser pun. Kalau diberi, ambil. Tapi, kalau tidak dikasih, ikhlaskan dan tetap ikhtiar mengajar,” ujar Sopiah yang ditemui sebelum menuju Asrama Haji Palembang.
Dengan niat ikhlasnya, Sopiah, yang mulai menjadi guru ngaji pada usia 30-an tahun, justru lebih sering dipertemukan dengan orang-orang baik. Banyak orangtua muridnya memberi upah Rp 50.000-Rp 100.000 setiap bulan. Total ada belasan murid dari sekitar sembilan rumah yang diajarnya secara bergiliran dari Senin hingga Sabtu.
Uang dari para orangtua murid itu dikumpulkan Sopiah secara telaten. Uang-uang tersebut tidak ia simpan di bank, melainkan di bawah kasur rumahnya. Setelah 30 tahun, uang itu akhirnya terkumpul Rp 25,5 juta, cukup untuk mendaftar haji reguler pada 2013.
“Setelah dihitung, ternyata uang saya sudah terkumpul Rp 25,5 juta. Saya langsung mendaftar untuk berangkat haji yang memang saya inginkan sejak lama,” kata Sopiah yang setiap hari mengajar mengaji dari pukul 13.00 hingga 17.00.
Akan tetapi, setelah mendaftar, perjuangan Sopiah belum berakhir. Ia tetap harus menabung untuk melunasi sisa biaya keberangkatan hajinya yang dijadwalkan 13 tahun kemudian, yakni pada 2026. Sembari menunggu giliran berangkat, ia terus melanjutkan profesinya sebagai guru ngaji dengan niat ikhlas.
Sikapnya yang tidak pernah mengharap pamrih terus membuka jalan baginya untuk mengumpulkan uang pelunasan. Niat tulusnya pun memudahkan langkahnya menuju Baitullah.
Saat menerima informasi bahwa jadwal keberangkatannya tiba tahun ini, pada saat itu pula uang yang ia kumpulkan cukup untuk melunasi sisa biaya haji sekitar Rp 10 juta. Sopiah lega. Penantian panjangnya selama 40 tahun akhirnya menemui titik terang.
Kini, dinding Ka’bah tinggal sekitar 10 hari lagi berada di hadapannya. “Alhamdulillah, Allah SWT masih memberi saya umur panjang, nikmat rezeki, dan sehat untuk berangkat haji. Tidak ada kata lain kecuali terus bersyukur, dan berharap diberi kelancaran saat berangkat dan beribadah, serta bisa pulang lagi dengan selamat,” kata Sopiah.
Alhamdulillah, Allah (SWT) masih memberi saya umur panjang, nikmat rezeki, dan sehat untuk berangkat haji. Tidak ada kata lain kecuali terus bersyukur, dan berharap diberi kelancaran saat berangkat dan beribadah, serta bisa pulang lagi dengan selamat.
Kalau Sopiah berangkat haji dari ikhtiar menabung selama 40 tahun, warga Kelurahan Karya Baru, Alang-Alang Lebar, Palembang, Hermanto (53), mendapatkan kesempatan ke Tanah Suci secara gratis berkat kemurahan hati Rukmini (75), pemilik usaha di bekas tempatnya bekerja. Dahulu, Hermanto bekerja di toko tas bernama Toko Nasional di kawasan Jalan Tengkuruk, kompleks Pasar 16 Ilir, Palembang.
Hermanto bekerja di sana sejak 1998. Saat itu, pemilik toko bernazar memberangkatkan haji seluruh karyawannya yang berjumlah 13 orang. Ketika itu, Hermanto mengaku tidak terlalu berharap bisa naik haji karena sadar kualitas ibadah hariannya belum baik.
Akan tetapi, pada 19 November 2017, pemilik toko tiba-tiba menyuruhnya membuat pas foto. Hermanto menurut saja. Setelah foto dicetak, rupanya sang pemilik toko menyuruh Hermanto mendaftar haji mandiri. Saat itu, uang yang dibayarkan sekitar separuh dari total biaya haji yang mencapai Rp 56 juta.
Singkat cerita, Hermanto pensiun dari toko itu pada 2019. Namun, rencana keberangkatan hajinya tidak hangus. Ia akhirnya mendapatkan jadwal keberangkatan pada 2024.
Hermanto bersemangat dan rutin mengikuti manasik haji. Namun, saat semangatnya memuncak, jadwal keberangkatannya ternyata ditunda. Sontak, ia sempat patah arang.
“Pas jadwal keberangkatan ditunda, saya sempat lemas. Bahkan, saat teman-teman kembali mengajak manasik, saya malas-malasan dan menolak ikut,” tuturnya.
Pada awal 2026, Hermanto mendapatkan pemberitahuan bahwa dirinya dijadwalkan berangkat haji tahun ini. Semangat Hermanto yang sempat pupus pun kembali menyala.
Hermanto langsung bergegas menemui mantan pemilik toko tempatnya bekerja untuk melaporkan jadwal keberangkatan tersebut. Sang pemilik toko pun memberi uang agar ia segera melunasi sisa biaya haji. Tak ada pesan lain dari sang pemilik toko kecuali meminta Hermanto beribadah dengan serius dan sebaik-baiknya.
“Walau saya tidak kerja lagi di tempatnya, bos saya itu tetap memenuhi nazar untuk memberangkatkan haji saya dan dua teman saya. Memang dari 13 karyawan di angkatan kami, tinggal saya dan dua teman saya itu yang belum berangkat haji. Kalau yang lainnya, mereka sudah berangkat semua,” ujar Hermanto.
Selain bersyukur bisa berangkat haji, Hermanto pun tak henti-hentinya bersyukur karena pernah memiliki atasan yang baik. Padahal, selama bekerja dari 1998 hingga pensiun pada 2019, Hermanto empat kali keluar-masuk tempat kerja tersebut. Akan tetapi, pemilik toko tidak mempermasalahkannya dan tetap memperlakukan semua karyawan sebagai bagian dari keluarga.
Hingga kini, Hermanto tetap menjaga hubungan baik dengan mantan atasannya. Jika sewaktu-waktu dimintai bantuan, Hermanto tidak segan-segan untuk segera membantu.
“Kalau bukan melalui kemurahan hati bos saya, belum tentu saya bisa berangkat haji dengan biaya sendiri. Sebab, penghasilan saya pas-pasan. Sekarang, untuk menyambung hidup, saya kerja buruh harian lepas dan berharap bantuan anak-anak,” ungkap Hermanto.
Hermanto berkomitmen tidak akan menyia-nyiakan rezeki bisa berangkat haji secara gratis tersebut. Setidaknya, ia bertekad memperbaiki kualitas ibadahnya dan terus menjadi pribadi yang lebih baik.
“Jujur, shalat saya masih bolong-bolong. Tapi saya bertekad untuk memperbaiki ibadah saya,” kata Hermanto, yang menjadi bagian dari kloter 5 calon haji Embarkasi Palembang yang bertolak ke Madinah, Selasa (28/4/2026), sekitar pukul 13.55 WIB.
Kesabaran Sopiah dan keberuntungan Hermanto adalah potret kecil dari cerita perjalanan spiritual 7.036 calon haji Embarkasi Palembang. Mereka terdiri dari 5.859 jemaah asal Sumsel, 1.077 jemaah asal Bangka Belitung, dan 64 petugas kloter. Setelah melewati proses panjang, mereka akan diberangkatkan secara bertahap untuk mewujudkan mimpi beribadah di Tanah Suci.
Semua calon haji Embarkasi Palembang diberangkatkan dalam 16 kloter. Kloter 1-10 dijadwalkan berangkat sejak 22 April hingga 5 Mei, sedangkan kloter 11-16 diberangkatkan pada 9-15 Mei. Sehari sebelum jadwal keberangkatan, mereka harus masuk asrama haji lebih dahulu untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan barang bawaan.
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Palembang sekaligus Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji Sumsel, M Arkan Nurwahiddin, mengatakan, calon haji kloter 1-10 merupakan gelombang keberangkatan pertama. Mereka diterbangkan langsung dari Palembang menuju Madinah.
Para jemaah akan menjalani serangkaian aktivitas ibadah, ziarah, dan wisata religi selama kurang lebih delapan hari di Madinah sebelum bertolak ke Mekkah. Mereka juga akan mengikuti bimbingan manasik singkat dari petugas kloter sebagai persiapan pelaksanaan umrah wajib di Mekkah.
“Kami terus mengimbau seluruh jemaah calon haji agar tetap menjaga kesehatan dan kecukupan hidrasi. Sebab, aktivitas fisik di Madinah cukup padat sebelum memasuki puncak haji nanti,” tutur Arkan.
Kisah Sopiah dan Hermanto menjadi pengingat bahwa haji tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang bergelimang harta ataupun memiliki takhta. Sebab, Allah SWT tidak hanya memanggil yang mampu secara materi, tetapi juga memampukan orang-orang pilihan menuju Tanah Suci.
Saat Allah sudah mengundang, saat itu pula jalan terbuka dari arah yang tidak disangka-sangka menuju Baitullah. Labbaik Allahumma Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah…





