“Apa kabar?”
Sapaan dalam bahasa Indonesia di pinggiran Mina, Arab Saudi, Sabtu (25/4/2026) pagi, itu membuat kami, tiga wartawan Indonesia, kaget. Pagi itu masih sepi.
Belum banyak kendaraan lalu-lalang di Jalan Raja Fahd, jalan utama penghubung Mina dan Masjidil Haram, Mekkah. Tak seorang pun kami jumpai saat kami keluar dari Jalan Terowongan Raja Fahd (King Fahd Road Tunnel), selepas shalat shubuh.
Terowongan tersebut menembus bukit-bukit berbatu, menghubungkan sekaligus memperpendek jarak antara kawasan Syisyah--salah satu lokasi hotel-hotel jemaah haji Indonesia, dengan Mina, tempat mabit dan melempar jumrah dalam rangkaian ibadah haji. Panjang terowongan itu kira-kira 800 meter. Butuh waktu, dengan berjalan kecepatan sedang, 10-15 menit untuk mencapai ujung terowongan.
Begitu keluar dari terowongan, di area tenda-tenda VIP di sisi kiri dari arah terowongan yang dibatasi pintu pagar terkunci, dua petugas sekuriti berjaga-jaga. Sapaan mengagetkan di pagi itu dilontarkan salah satu dari mereka.
“Kami harus berjaga, patroli ke sana kemari, memastikan area (tenda-tenda) ini aman. Sejak semalaman kami belum tidur,” ujar pria tersebut.
Sebulan menjelang puncak musim haji, kawasan Syisyah—wilayah timur Mekkah berjarak 3-8 kilometer (tergantung rute) dengan Masjidil Haram—masih lengang. Ketika kami, satu bus rombongan petugas haji, tiba pada Kamis (23/4/2026) lalu, seolah tak ada kehidupan di kawasan itu. Gedung-gedung hotel, bangunan seperti kantor, dan beberapa toko masih tutup dan terkunci rapat.
Salah satu penanda adanya “kehidupan” di kawasan tersebut adalah papan-papan bertuliskan “HOTEL JEMAAH HAJI INDONESIA” di bagian depan gedung-gedung dan bangunan. Beberapa warga setempat menuturkan, di luar musim haji, gedung-gedung tinggi hotel jemaah Indonesia di Syisyah ditutup.
“Ya, seperti inilah suasana di sini. Hanya ramai dan hidup di musim haji. Dari tahun ke tahun, biasanya jemaah haji Indonesia yang tinggal di sini,” ujar Naef, manajer salah satu hotel di kawasan Syisyah, pada Jumat.
Bahkan, lanjut Naef, saat Ramadhan ketika Kota Mekkah berada di masa puncak kunjungan (peak season) jemaah dari berbagai negara pun, kawasan Syisyah tetap sepi. “Saat Ramadhan, pengunjung memilih tinggal di area dekat Masjidil Haram,” ujarnya.
Karena itu, bagi warga Syisyah, musim haji benar-benar anugerah. Musim haji mengalirkan denyut kehidupan di kawasan tersebut. Beberapa pekan menjelang puncak haji, Syisyah telah menggeliat. Di Hotel Emaar Al Taqwa, misalnya, pada Sabtu (25/4/2026), beberapa pekerja mengepel area depan pintu masuk.
“Ahlan wa sahlan bidhuyuufi baitillah al-haram (selamat datang, para tamu rumah Allah yang suci)”, demikian tertulis di lobi hotel berbintang satu itu. Saat memimpin tur wartawan petugas haji di hotel tersebut, Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah Ihsan Faisal menyebut, sekitar 2.600 orang jemaah haji Indonesia akan tinggal di hotel.
Kawasan Syisyah dipilih sebagai lokasi Kantor Urusan Haji Daker Mekkah, pusat komando dan kendali operasional haji di Mekkah.
Lebih dari 50 hotel di sektor 1 dan 2 kawasan Syisyah bakal dipenuhi jemaah haji Indonesia. Syisyah adalah satu dari lima kawasan hotel jemaah Indonesia selain Raudhah, Misfalah, Jarwal, dan Aziziyah.
Jemaah haji gelombang pertama, yang mendarat di Madinah sejak 22 April, akan bergeser ke Mekkah mulai 30 April. Gelombang kedua jemaah, yang mendarat via Jeddah, dijadwalkan tiba mulai 7 Mei hingga 21 Mei.
Ihsan mengungkapkan, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI telah menyiapkan 177 hotel untuk jemaah haji Indonesia yang tersebar di 10 sektor lima kawasan tersebut. Selain 177 hotel itu, disiapkan pula lima hotel cadangan berkapasitas sekitar 2.000 orang yang semuanya berlokasi di Syisyah.
“Semua fasilitas hotel mendukung kenyamanan para jemaah. Di tiap-tiap hotel, selain kamar, ada fasilitas mushalla atau masjid, ruang makan, dan tempat cuci. Disediakan mesin cuci bagi jemaah, bahkan juga tempat jemuran,” kata Ihsan kepada wartawan, Jumat (24/4/2026).
Mengapa memilih Syisyah sebagai lokasi hotel-hotel cadangan? Hal itu tak lepas dari strategisnya lokasi Syisyah dalam rangkaian ibadah haji. Meski tidak dekat Masjidil Haram, lokasi Syisyah strategis karena dekat dengan Mina, lokasi mabit dan melempar jumrah. Begitu keluar dari Terowongan Raja Fadh, Jamarat sudah terlihat.
Menimbang strategisnya Syisyah, kawasan tersebut dipilih sebagai lokasi Kantor Urusan Haji Daker Mekkah. Kantor inilah yang menjadi pusat komando dan kendali operasional haji di Mekkah, episentrum pelaksanaan ibadah haji.
“Lokasi ini strategis karena akan memudahkan kita saat puncak haji nanti. Jika ada jemaah salah jalan atau butuh bantuan kemanusiaan, kita akan cepat mengerahkan petugas dari kantor ini,” jelas Ihsan.
Syisyah dipilih sebagai salah satu lokasi dalam skema tanazul—selain Aziziyah, yang akan dilaksanakan mulai tahun ini. Dengan skema tanazul, jemaah tidak perlu tinggal di tengah kepadatan tenda-tenda di Mina selepas melempar jumrah aqabah di Jamarat, melainkan bisa kembali ke hotel masing-masing.
Seperti halnya skema murur (mabit yang dilakukan dengan cara melintasi Muzdalifah (tanpa turun dari bus) setelah menjalani wukuf di Arafah, tanazul disiapkan bagi jemaah lansia, sakit, berkebutuhan khusus, atau jemaah berisiko tinggi. Bagi mereka, melempar jumrah bisa diwakilkan.
“Di luar kelompok itu, jemaah yang sehat tetap harus kembali ke Jamarat di Mina untuk melempar jumrah,” jelas Abdul Sattar, petugas Bimbingan Ibadah Sektor II, yang juga pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo, Semarang.
Secara teologis, tak hanya Masjidil Haram, Mina yang bersebelahan langsung dengan Syisyah juga strategis. “Mina begitu penting dalam prosesi haji karena literatur-literatur haji menyebut mabit di Mina bagian dari kewajiban haji yang jika ditinggalkan, jemaah dikenakan dam (denda),” lanjut Sattar.
Karena itu, jemaah haji yang ditempatkan di Syisyah dan sekitarnya tak perlu berkecil hati karena tidak dekat Masjidil Haram. Kyai Agus Maarif Arifin, Imam Masjid Raya Sheikh Zayeed, Solo, dan pengasuh Pondok Pesantren Roudhatul Maarif, Boyolali dan Sukoharjo, mengatakan, dari segi karamah, Mina tak kalah dahsyatnya.
“Merujuk pada yang kita pelajari tentang sejarah Mina, ibadah haji tak bisa dilepaskan dari sejarah Nabi Ibrahim. Ada sesuatu yang luar biasa tentang pengorbanan Ibrahim saat rela mengorbankan Ismail, anaknya, dan perlawanan mereka terhadap godaan syetan yang disimbolkan dengan ibadah melempar jumrah,” jelasnya.
Tak lama lagi, kehidupan di Syisyah akan kembali berdenyut seiring kedatangan jemaah haji Indonesia. Ibrahim, warga Syisyah, bersama dua rekannya, telah menyiapkan stan penjualan pakaian dan kafe di dekat lobi Hotel Emaar Al Taqwa.
“Jemaah haji Indonesia bisa membayar dengan rupiah. Di kafe, kami siapkan bakso, soto, dan masakan Indonesia lainnya,” ujar Ibrahim.
Urat nadi kehidupan di Syisyah mulai berdenyut seiring denyut perputaran ekonomi dari aktivitas jual-beli warga setempat dan jemaah haji Indonesia. Di sana-sini, warga telah memasang papan-papan penanda ”Toko Indonesia” untuk menyambut jemaah Indonesia.
Naef dan Ibrahim pun tampak semringah. Musim haji dan kehadiran jemaah haji Indonesia, bagi warga Syisyah, meniupkan nafas kehidupan di kawasan tempat tinggal mereka.





