Liputan6.com, Jakarta - Budaya overconsumption atau konsumsi berlebih nyatanya berpengaruh terhadap krisis iklim yang semakin terasa. Hal itu, salah satunya disebabkan tren Fear of Missing Out (FOMO) yang membudaya melalui konten di sosial media.
Menurut Akademisi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, Muhammad Imam, fenomena itu bisa ditanggulangi lewat hadirnya sebuah kebijakan yang tegas. untuk memerangi krisis iklim. Karenanya, orang muda diminta aktif sebagai agen perubahan.
Advertisement
"Orang muda untuk aktif terlibat dalam proses kebijakan, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai aktor perubahan," kata Imam saat seminar dan workshop bertema "From FOMO to Overconsumption: Ketika Tren Jadi Toxic Buat Bumi" yang diadakan di Kampus UI Depok, seperti dikutip Minggu (26/4/2026).
Sementara dari kaca mata pemerintah, Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Adam Faza Gimnastiar menjelaskan, pergeseran pendekatan pengelolaan lingkungan dari end of pipe menuju pendekatan preventif berbasis Sustainable Consumption and Production (SCP).
Dia mengamini, peran pemerintah sangat besar dan luas.
"Pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, sekaligus katalisator dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat," tutur Adam pada acara senada.




