Bantargebang Jadi TPA Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Dunia

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Riset terbaru dari tim peneliti University of California, Los Angeles, School of Law (UCLA Law) mengungkap 25 lokasi pembuangan sampah dengan laju emisi metana terbesar di dunia sepanjang 2025. Dalam daftar tersebut, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, menempati posisi kedua secara global dengan laju emisi 6,3 ton metana per jam.

Temuan ini berasal dari data emisi metana publik Carbon Mapper yang memanfaatkan dua instrumen antariksa, yaitu satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan instrumen EMIT milik NASA yang terpasang di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Pengamatan dilakukan sepanjang 1 Januari hingga 31 Desember 2025.

Metana merupakan gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek. Karena itu, kebocoran besar dari tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi target penting untuk penurunan emisi cepat.

Posisi pertama dalam daftar ditempati Campo de Mayo di Provinsi Buenos Aires, Argentina, dengan emisi 7,6 ton per jam, sedangkan TPST Bantargebang berada di posisi kedua dengan 6,3 ton per jam dan area layanan Jakarta. Sementara itu, posisi ketiga ditempati Jeram, Selangor, Malaysia, sebesar 6,0 ton per jam.

Berikut daftar 25 TPA dengan metana terbesar di dunia selama 2025:

Carbon Mapper mencatat lebih dari 2.994 kepulan emisi dari 707 lokasi sektor sampah di seluruh dunia, termasuk lahan uruk dan dan TPA. Lokasi-lokasi itu tersebar di puluhan negara dengan tingkat pendapatan yang beragam.

Sebagian besar TPA hanya melepaskan beberapa puluh kilogram metana per jam. Namun 25 lokasi teratas menghasilkan emisi jauh lebih besar, yakni antara 3,6 hingga 7,6 ton per jam.

Peneliti UCLA Law juga menyinggung dua lokasi yang menunjukkan lonjakan metana signifikan setelah 2025, yaitu Silivri, Turki, dengan 8,4 ton per jam dan Abidjan, Pantai Gading, dengan 4,6 ton per jam. Emisi Silivri bahkan lebih besar dari seluruh lokasi yang masuk daftar utama 2025.

Untuk memberi gambaran dampaknya, lokasi TPA yang mengeluarkan 5 ton metana per jam selama setahun diperkirakan memberi kontribusi pemanasan global setara satu juta mobil SUV atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas 500 megawatt.

Temuan ini menunjukkan bahwa perbaikan pengelolaan sampah, penangkapan gas lahan urug, dan pemantauan kebocoran bisa menjadi langkah cepat menekan krisis iklim.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PPIH siapkan 6.000 bus yang aman dan nyaman untuk layani jamaah haji
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
KPK Usul Jabatan Ketum Dibatasi 2 Periode, PKS: Kami Sudah Duluan!
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
3000 Peserta Padati Runity Petra, Puncak Peringatan HUT PPPK Petra Ke 75
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Piala Uber: Sempat Tertinggal, Indonesia Tekuk Kanada
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Sam Altman minta maaf tak laporkan akun ChatGPT pelaku "Tumbler Ridge"
• 2 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.