Lalu lalang turis dan kendaraan tampak lengang di sepanjang Jalan Raya Pantai Kuta, Bali, sejak pukul 16.00-19.00 WITA. Restoran dan kafe, terlihat ada ramai dan ada juga sepi pengunjung.
Situasi ini berbanding terbalik dengan kunjungan turis di Pantai Kuta. Turis tampak ramai menikmati pemandangan, surfing, bermain bola, hingga merekam konten.
General Manager Grand Istana Rama Hotel (GIRH), Ketut Darmayasa, mengatakan, kunjungan turis saat ini memang tergolong sepi lantaran belum memasuki puncak liburan. Puncak musim liburan mulai Juni hingga September.
Selain itu, faktor perang Israel dan Amerika Serikat ke Iran berdampak pada kunjungan turis ke Bali. Perang ini sempat membuat sejumlah penerbangan tutup dan kini harga avtur naik.
"Kalau low season itu mulai Oktober dan peak season mulai Juni. Cuma November sampai Mei tetap aja ada wisatawan karena ada valentine, golden week di Jepang, acara-acara pertemuan, ada Natal dan Tahun Baru. Selain itu, memang saat ini sepi, karena dampak dari geopolitik," katanya saat ditemui kumparan di kantornya, belum lama ini.
Walau demikian, Darmayasa tak menampik kunjungan turis ke kawasan wisata Kuta tidak seramai sebelum COVID-19 merebak atau di bawah tahun 2019. Kunjungan turis memang mulai meningkat setelah pandemi COVID-19 mereda. Namun, menurutnya kunjungan turis ke bar restoran menurun hingga 15-20 persen, dibandingkan sebelum COVID-19.
"Sekitar 19-20 (persen) itu pasti ada penurunan. Karena saya lihat banyak juga tempat-tempat, restoran-restoran yang dulunya menggunakan entertainment seperti band, mulai ada pengurangan band," tutur Darmayasa.
"Berarti, kan, dari situ bisa kita baca bahwa mereka juga mengalami kesusahan, sehingga tidak lagi ada live entertainment yang dulunya setiap malam. Sekarang sudah 3 hari baru ada lagi," sambungnya.
Sementara itu, Ketua Pusat Unggulan Pariwisata Prof. Anak Agung Suryawan Wiranatha, tak menampik perkembangan wisata di daerah lain di Bali, terutama Canggu menjadi salah satu faktor penurunan kunjungan turis di Kuta. Tidak bisa diperkirakan penurunan jumlah turis secara pasti, karena mendata jumlah orang pada kawasan publik.
"Nggak pernah ada yang punya data jumlah itu, karena wilayah terbuka, siapa yang mencatat. Yang ada per kabupaten, misalnya di Uluwatu yang ada tiket masuk. Lihat saja di jalan mana lebih ramai dan macet Canggu atau Kuta sekarang (untuk mengukur kepadatan turis)?" katanya Suryawan, kepada kumparan.
Tak hanya Canggu, Sanur juga kini mulai mencuri perhatian. Jika sebelumnya Sanur banyak diisi oleh wisatawan berumur, kini banyak anak muda yang justru menghabiskan waktu di Pantai Sanur dan sekitarnya.
Hadirnya KEK Kesehatan hingga berdirinya Icon Mall Sanur menjadi beberapa alasan mengapa kawasan ini pun menjadi ramai dikunjungi wisatawan muda. Apalagi, penataan ulang kawasan, termasuk trotoar yang diperlebar dan penataan jalur sepeda, membuat Sanur lebih rapi dan nyaman.
Suryawan mengatakan, perkembangan pariwisata di Kuta mulai berlangsung sekitar tahun 1970. Kuta salah satu destinasi wisata primadona di Bali. Pantai Kuta terkenal karena pemandangan sunset yang indah, aktivitas surfing, hingga pusat hiburan malam.
Perkembangan pariwisata ini turut merambah hingga ke wilayah Legian dan Seminyak hingga tahun 2000-an.
Namun, para ekspatriat atau orang asing yang bekerja di Bali, sebagian besar tinggal di wilayah pinggiran, yaitu Canggu. Hal ini karena biaya hidup lebih murah dibandingkan Kuta, Legian, dan Seminyak.
Lambat laun kawasan Canggu berkembang atau sekitar tahun 2010-2014. Para pengembang properti mulai membangun homestay, vila, hotel, restoran hingga bar.
Puncaknya tahun 2020 saat COVID-19 merebak, sehingga banyak turis asing terjebak di Pulau Dewata. Mereka memutuskan tinggal di Canggu. Apalagi, suasana untuk surfing di Canggu tak jauh berbeda di Kuta.
Di sisi lain, pemerintah setempat turut menata fasilitas baik di pantai hingga jalan raya sehingga kawasan Canggu semakin diminati orang asing. Tempat hiburan turut semakin berkembang, dari Canggu, Tibubeneng hingga Berawa.
Pusat hiburan malam juga bergeser dari Kuta ke Canggu, karena berdirinya sejumlah beach klub di sekitar pantai. Apalagi, suasana tempat hiburan di Canggu dan Kuta berbeda.
"Tempat hiburan malam di Kuta agak jauh dengan pantai. Kalau di Canggu beach klub ada di pantai. Jadi orang mendapatkan banyak hiburan. Ini mode baru dan berbeda dengan di Kuta. Kalau di kuta kalau mau mandi, ya mandi aja. kalau mau clubbing harus keluar pantai," kata Suryawan.
"Dan kalau di kuta kan warung dengan live band gitu umumnya berbeda dengan Canggu. Nah, Seminyak itu sudah mulai main beach klub kayak Canggu," sambungnya.
Di sisi lain, menurutnya di tengah perkembangan pariwisata di Canggu, Pantai Kuta tak berbenah. Dia menilai Pantai Kuta semakin terlihat kumuh karena belum ditata dengan baik. Para pedagang berjualan dengan berhimpit-himpitan, trotoar amblas akibat abrasi dan banyak sampah.
"Di Canggu banyak hal baru dan orang biasa pengin tahu. kan Kuta semakin kurang peminat karena kemarin kasus abrasi pantai, pantainya kotor dan penataan pedagang yang belum tertata. Ada payung atau kursi (yang disewa). sekarang space untuk duduk (gratis di pasir) hampir enggak ada saya lihat," katanya.
Suryawan memberikan saran agar pemerintah mulai melakukan penataan baik untuk pedagang, kafe, trotoar dan memperbanyak area publik di Pantai Kuta mempertahankan popularitas wisata kawasan Kuta. Pemerintah harus membatasi izin alih fungsi lahan dan pembangunan izin hotel, vila hingga tempat hiburan di Canggu agar tidak overtourism.
"Kalau bisa pemerintah jangan memberikan izin-izin beach club besar lagi muncul di Canggu, membatasi pembangunan vila baru, pembangunan hotel baru, pembangunan restoran baru, dan club-club baru gitu, itu dibatasi, karena kan itu di sana banyak sawah, sawah itu tidak boleh dibangun," katanya.
Suryawan memperkirakan dalam 10 sampai 20 tahun mendatang, perkembangan pariwisata hanya di Kuta hingga Canggu namun merambah ke barat daya yaitu ke Tanah lot, Kabupaten Tabanan.





