Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews - Jakarta
Pemerintah Indonesia kembali berduka atas gugurnya salah satu prajurit terbaik bangsa yang tengah menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon. Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia, anggota Pasukan Perdamaian PBB yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif akibat luka berat yang dideritanya sejak akhir Maret 2026.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyampaikan bahwa pemerintah memberikan penghormatan setinggi-tingginya atas pengabdian almarhum.
Saat ini, koordinasi juga terus dilakukan bersama pihak UNIFIL untuk memastikan proses pemulangan jenazah ke Tanah Air berjalan lancar dan penuh penghormatan.
“Pemerintah menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Negara hadir untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya atas pengabdian dan pengorbanan almarhum bagi perdamaian dunia,” ujar Nabyl
Praka Rico mengembuskan napas terakhir setelah hampir satu bulan menjalani perawatan intensif. Ia sebelumnya mengalami luka serius akibat ledakan artileri dari tank Israel di sekitar Kota Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, pada 29 Maret lalu.
Menurut Nabyl, berbagai upaya medis telah dilakukan secara maksimal dengan melibatkan kerja sama antara pemerintah Indonesia, UNIFIL, otoritas Lebanon, serta tim medis di Beirut. Namun, kondisi luka yang dialami almarhum tergolong sangat berat.
“Berbagai langkah medis telah diupayakan, namun akibat kondisi luka yang cukup berat, nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan,” imbuh Nabyl.
Dalam pernyataannya, pemerintah Indonesia juga kembali menegaskan sikap tegas dengan mengutuk serangan Israel yang menyebabkan jatuhnya korban dari pasukan penjaga perdamaian. Indonesia menilai keselamatan personel PBB merupakan hal yang tidak dapat ditawar.
Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian disebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
“Indonesia mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan pertanggungjawaban atas insiden ini,” kata Nabyl.
Gugurnya Praka Rico menambah daftar panjang korban dari Indonesia dalam misi UNIFIL. Ia menjadi personel keempat yang wafat dalam rangkaian insiden tersebut.
Sebelumnya, Praka Farizal Rhomadhon gugur di lokasi kejadian yang sama. Sehari setelahnya, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan juga dilaporkan meninggal dunia akibat serangan di wilayah dekat Bani Haiyyan, Lebanon Selatan.
Peristiwa ini kembali menegaskan besarnya risiko yang dihadapi prajurit Indonesia dalam menjalankan misi perdamaian dunia, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan maksimal bagi personel penjaga perdamaian di wilayah konflik.
Editor: Redaksi TVRINews





