FAJAR, JEREZ — Perjalanan Veda Ega Pratama di Moto3 Spanyol 2026 kembali menegaskan satu hal penting: bakat besar saja tidak cukup tanpa ketenangan dan fokus penuh pada tujuan utama. Di tengah sorotan terhadap rivalitas dengan pembalap lain seperti Brian Uriarte dan Hakim Danish, Veda justru dihadapkan pada ujian yang lebih fundamental—mengendalikan diri sendiri di tengah tekanan kompetisi kelas dunia.
Tampil di Circuito de Jerez, Veda menunjukkan performa yang sebenarnya menjanjikan sejak awal sesi kualifikasi. Di Q1, ia tampil agresif dan efektif, mencatatkan waktu 1 menit 46,10 detik dan mengamankan posisi kedua di belakang Ruche Moodley. Hasil ini bukan sekadar tiket ke Q2, tetapi juga sinyal bahwa ia memiliki kecepatan untuk bersaing di level atas.
Momentum itu sempat berlanjut di Q2. Veda bahkan sempat bertahan di posisi keenam—sebuah posisi yang cukup ideal untuk старт dari barisan depan tengah. Namun, dinamika Moto3 tidak pernah sederhana. Ketika para rival mulai mempertajam catatan waktu di menit-menit akhir, situasi berubah drastis.
Meski berhasil mencatatkan waktu lebih cepat, yakni 1 menit 45,73 detik, Veda justru harus menerima kenyataan pahit turun ke posisi ke-17. Ini menjadi gambaran nyata betapa ketatnya persaingan di Moto3—di mana peningkatan performa tidak selalu berarti kenaikan posisi.
Di barisan depan, Maximo Quiles tampil dominan dengan pole position, diikuti David Munoz dan Alvaro Carpe. Sementara itu, Uriarte старт dari posisi kelima dan Hakim Danish di posisi kesepuluh—dua nama yang sebelumnya juga menjadi bagian dari rivalitas Veda sejak level junior.
Namun justru di sinilah tantangan mental terbesar muncul. Rivalitas memang menarik secara narasi, tetapi dalam balapan, fokus yang terpecah bisa menjadi bumerang. Moto3 bukan sekadar duel satu lawan satu; ini adalah pertarungan kolektif dalam grup besar, di mana satu kesalahan kecil bisa membuat posisi anjlok dalam satu tikungan.
Bagi Veda, kunci menuju hasil maksimal bukanlah mengalahkan Uriarte atau Hakim Danish secara langsung, melainkan menjalankan balapan dengan strategi matang. старт dari posisi ke-17 memang bukan ideal, tetapi bukan pula akhir dari segalanya.
Jika melihat rekam jejaknya, Veda memiliki kemampuan overtaking yang cukup baik. Ia juga dikenal berani mengambil celah sempit—sebuah keunggulan penting di kelas Moto3 yang sarat slipstream dan pertarungan rapat. Dengan старт yang bersih dan ritme balap yang stabil, peluang untuk naik posisi tetap terbuka.
Selain itu, pengalaman di Jerez juga menjadi modal berharga. Lintasan ini bukan hal baru baginya, dan familiarity terhadap karakter sirkuit bisa membantu dalam menentukan titik pengereman dan manuver yang tepat.
Namun, semua itu akan sia-sia tanpa kontrol emosi. Dalam situasi старт dari belakang, godaan untuk terlalu agresif di awal balapan sangat besar. Padahal, balapan sepanjang 19 lap membutuhkan pendekatan yang lebih sabar—membangun posisi secara bertahap, menjaga ban, dan memilih momen overtaking dengan cermat.
Di sinilah mental juara diuji. Bukan hanya soal seberapa cepat motor melaju, tetapi juga bagaimana pembalap membaca situasi, mengelola tekanan, dan tetap fokus pada target jangka panjang.
Hasil kualifikasi ini pada akhirnya mencerminkan dua sisi perjalanan Veda: potensi besar yang semakin terlihat, tetapi juga kebutuhan akan konsistensi yang lebih matang. Ia sudah membuktikan bisa cepat, kini tantangannya adalah menjadi stabil.
Balapan utama nanti bukan sekadar soal старт posisi ke-17. Ini adalah kesempatan bagi Veda Ega Pratama untuk menunjukkan bahwa ia mampu naik level—bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara mental.
Jika mampu mengabaikan distraksi rivalitas dan fokus pada ritme balapnya sendiri, bukan tidak mungkin ia kembali mencuri perhatian. Di Moto3, kejutan selalu mungkin terjadi—dan Veda punya semua elemen untuk menjadi bagian dari kejutan itu.





