Mentan Dorong Hiliriasasi Gambir Sumbar, Bagaimana Skemanya?

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Sumatera Barat merupakan produsen terbesar komoditas gambir. Tidak hanya mendominasi produksi gambir nasional, provinsi yang berada di pesisir barat Pulau Sumatera ini juga pemasok terbesar hasil ekstraksi dari daun tanaman Uncaria gambir itu ke pasar dunia.

Data yang dipaparkan Universitas Andalas (Unand) saat kuliah umum dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Padang, 16 September 2025, menyebutkan Sumbar menyuplai 64 persen pasar gambir dunia dan menyumbang 80 persen produksi gambir nasional.

Lebih lanjut, Badan Pusat Statistik dalam terbitan Provinsi Sumatera Barat dalam Angka 2026 mencatat, luas kebun gambir produktif di Sumbar pada 2025 mencapai 26.164,60 hektar dengan produksi gambir kering 39.278,65 ton. Gambir itu digarap 36.857 keluarga petani.

Angka itu cenderung meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dari sumber yang sama disebutkan, pada 2024 dan 2023, luas kebun gambir produktif di Sumbar 26.165,40 hektar dan 25.984,40 hektar dengan produksi gambir kering 26.912,18 ton dan 24.341,38 ton.

India menjadi tujuan ekspor terbesar gambir dari Sumbar. Umumnya katekin dari gambir diolah jadi bahan baku gutka dan pan masala (Kompas.id, 18/11/2025). Namun, pada tingkat lebih tinggi, ekstrak gambir jadi bahan baku dari kosmetik, obat-obat, pewarna tekstil, dan pangan (Kompas.id, 20/5/2025).

Berkaca dari data tersebut, gambir semestinya menjadi komoditas unggul dan potensial bagi Sumbar. Apalagi puluhan ribu keluarga bergantung hidup dari hasil pertanian gambir.

Akan tetapi, kondisi di lapangan berkata lain. Luas kebun produktif dan produksi yang meningkat tidak sebanding dengan harga yang cenderung rendah. Kondisi ini berdampak pada pendapatan para petani. 

Belum lepas dari ingatan publik, awal April lalu muncul fenomena para petani gambir berbondong-bondong jadi pendulang emas di Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, K Kabupaten Limapuluh Kota. Anjloknya harga gambir jadi pemicu (Kompas.id, 9/4/2026).

Wirpentati (68), pemilik kebun gambir di Nagari Talang Maur, Kecamatan Mungka, mengatakan, harga gambir dalam dua tahun terakhir memang tidak menguntungkan petani dan tukang kampo (pekerja pengolah gambir). Salah satu penyebabnya adalah masalah tata kelola dan niaga gambir.

Baca JugaHarga Gambir Anjlok, Petani di Kabupaten Lima Puluh Kota Ramai-ramai Jadi Pendulang Emas

Menurut Wirpentati, ia memproduksi gambir murni kualitas dua dengan kadar katekin 46-48 persen atau gambir kalincuang. Harganya saat ia jual pada Jumat (24/4/2026) hanya Rp 38.000 per kilogram, jauh di bawah biaya modalnya yang mencapai Rp 60.000 per kilogram.

”Idealnya harga gambir kalincuang atau tipe II itu Rp 75.000-Rp 80.000 per kg, baru menguntungkan petani,” ucap Wir, sapaan Wirpentati, yang mengelola 10 hektar kebun gambir tapi kini mulai menanam durian dan alpukat sebagai komoditi alternatif.

Ide hilirisasi

Atas kondisi tersebut, ide hilirisasi gambir pun terus digaungkan. Usulan dari Pemprov Sumbar sampai ke Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Amran menyambut baik dan menyatakan komitmen untuk mendorong hiliriasasi gambir.

“Kalau gambir ini dikelola dengan baik, bisa jadi Sumbar ini PDB (produk domestik bruto)-nya terbesar di Indonesia,” kata Amran dalam kuliah umum di Unand, 16 September 2025.

Komitmen mendorong hilirisasi gambir itu juga kembali diutarakan Amran dalam kunjungan ke Padang pada 14 April 2026. Ia menyebut, PT Perkebunan Nusantara IV atau PTPN IV akan jadi motor penggerak hilirisasi bekerja sama dengan sejumlah pihak. 

Baca Juga27 Ton Gambir Sumbar Diekspor ke India, Pemerintah Didorong Perbaiki Tata Niaga

Menurut Amran, dari kesimpulan dalam pertemuan berbagai pihak, termasuk PTPN IV, Unand, kepala daerah, dan lainnya, akan segera didirikan pabrik hilirisasi atau pengolah gambir di Sumbar.

“Kesimpulan kami tadi, kami akan ground breaking. Doakan secepatnya,” ujarnya, Selasa (14/4/2026). 

Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar Afniwirman, Jumat (17/4/2026), menerangkan, Menteri Amran dalam pertemuan itu menargetkan akan ada dua unit pabrik hilirisasi gambir di Sumbar. Lokasinya di dua daerah sentra gambir, yaitu Limapuluh Kota dan Pesisir Selatan. 

Pelaksana dalam rencana hilirisasi gambir ini, kata Afniwirman, adalah PTPN IV. Saat ini, badan usaha milik negara itu sedang menyusun perencanaan dan desain teknik rinci (detail engineering design/DED) bersama Unand. 

“Untuk tahap awal, satu pabrik dulu. Apakah di Limapuluh Kota atau Pesisir Selatan, belum ada kejelasan. Menunggu hasil kajian dari Unand,” kata Afniwirman. 

Rencana hilirisasi ini, kata Afniwirman, sangat penting sehingga mesti segera dieksekusi. Keberadaan pabrik hilirisasi setidaknya dapat mengimbangi aktivitas pedagang yang selama ini cenderung merugikan petani.

“Harga gambir sekarang ditentukan pedagang saja. Kalau ada pembanding, harganya akan bersaing,” ujarnya. 

Bupati Limapuluh Kota Safni menyambut baik dukungan pemerintah pusat soal hilirisasi gambir. Jika ini terlaksana, diharapkan ada peningkatan ekonomi masyarakat petani gambir. 

Salah satu penyebab anjloknya harga gambir, kata Safni, adalah masih banyaknya produk gambir yang dicampur dengan bahan tidak semestinya untuk meningkatkan bobot. Di sisi lain, para pedagang juga masih menampung meski dengan harga murah.

Adanya pabrik hilirisasi gambir, kata Safni, diharapkan kualitas produk gambir akan terstandarisasi sehingga harganya juga meningkat.

Skema hilirisasi

Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Universitas Andalas, Muhammad Makky, Selasa (14/4/2026), menjelaskan, upaya hilirisasi gambir di Sumbar akan dilakukan dalam beberapa tahap. Pabrik hilirisasi tidak akan langsung didirikan di tahap awal, melainkan tahap berikutnya. 

Untuk tahap awal, kata Makky, akan dilakukan pembukaan pasar langsung. Dalam membuka pasar langsung ini, PTPN IV akan bekerja sama dengan eksportir lokal untuk mendapatkan pengalaman soal rantai pasok gambir.

Baca JugaHarga Gambir Kualitas Ekspor Anjlok, Petani Tekor 

Pasokan gambir yang akan diekspor PTPN IV bukan dari pedagang, melainkan dari koperasi desa merah putih (KDMP) yang mengolah gambir petani. Harapannya, rantai distribusi yang panjang pun terpangkas sehingga petani dapat menjual gambir dengan harga relatif tinggi. 

“Diharapkan 2026 sudah langsung ada ekspor perdana supaya ada kepastian tersedianya pasar bagi PTPN. Untuk tahap awal, targetnya sekitar 300-350 ton (gambir kering) per tahun atau 1 persen pasar dunia,” kata Makky, yang merupakan Ketua Pelaksana Studi Kelayakan, Studi Bisnis, Market Investigation, dan Market Fact Finding untuk hilirisasi gambir di Sumbar dan Sumut dalam kerja sama Unand dan PTPN IV.

Setelah terbukanya pasar, PTPN IV pada tahap berikutnya akan mengembangkan pasar sendiri atau membuka pasar baru, terutama ke negara-negara dengan kebutuhan gambir premium. Pada tahap ini, PTPN IV tidak sekadar membeli gambir dari KDMP, melainkan dengan penguatan KDMP juga mengolahnya menjadi gambir premium untuk kemudian diekspor. 

Pada tahapan ini, kata Makky, untuk mengantisipasi kekurangan bahan baku, selain memperkuat KDMP, PTPN IV akan melakukan intensifikasi lahan gambir, khususnya pada gambir yang butuh peremajaan ataupun yang produksinya kurang akibat terabaikan saat harga jatuh.

“Dengan perbaikan harga, tentu perhatian dari petani atau pemilik lahan terhadap tanaman meningkat dan difasilitasi oleh bantuan dalam bentuk intensifikasi seperti bibit, pupuk, dan sarana produksi,” ujarnya.

Barulah pada tahun ketiga atau fase ketiga, lanjut Makky, PTPN IV mendirikan pabrik hilirisasi gambir. Sebagai inventor, PTPN IV memproduksi produk turunan gambir yang pasarnya lebih besar dibanding gambir mentah, yaitu berupa katekin dan tanin. Sejalan dengan itu, akan dilakukan pula ekstensifikasi lahan potensial.

Makky menjelaskan, sebagian besar gambir dari Indonesia, termasuk Sumbar, diserap oleh India. Namun, sejatinya, di negara tersebut terdapat jenjang pasarnya, dari kualitas di bawah standar, standar, dan di atas standar atau premium. Pelaku bisnis gambir premium ini yang akan disasar pada tahapan kedua. 

Khusus gambir premium, kata Makky, pembelinya tidak hanya perusahaan di India melainkan juga perusahaan di Malaysia, Korea Selatan, dan Taiwan. Dari data market intelligence, para pelaku bisnis gambir premium ada yang bergerak di bidang kosmetik, suplemen pakan ternak, bahan baku pengolahan kulit, dan pewarna tekstil.

Menurut Makky, sebenarnya pasar gambir premium lebih variatif dibandingkan gambir dengan kualitas di bawah standar. Apabila pasar ini dapat dijangkau, akan memberikan nilai tambah bagi komoditas gambir asal Sumbar dan tentunya berdampak positif pada kesejahteraan petani.

Besar harapan petani agar rencana yang dibuat pemerintah membuahkan hasil. Jangan ada lagi petani bertaruh nyawa menambang emas gara-gara harga gambir jauh dari impian.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kandungan Skincare yang Jadi Kunci Kulit Glowing
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Rebutan Penumpang Berujung Tragis, Sopir Angkot di Tanah Abang Dibakar Teman Sendiri
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Tegur Ibu Pukul Anak di Stasiun Depok Baru, Anggota TNI Malah Dianiaya
• 9 jam laludetik.com
thumb
Israel Tunjuk Duta Besar Pertama untuk Somaliland
• 4 jam laludetik.com
thumb
PERDOKJASI Soroti Celah Penjaminan PAK: Salah Diagnosis Ancam Hak dan Masa Depan Pekerja
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.