Snowflake: Agentic AI Mulai Ubah Cara Kerja Perusahaan

medcom.id
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di ranah enterprise mulai memasuki fase baru. Jika sebelumnya AI banyak digunakan untuk menghasilkan insight atau menjawab pertanyaan, kini teknologi tersebut mulai bergerak ke tahap berikutnya: mengeksekusi pekerjaan secara langsung.
 
Hal ini disampaikan oleh Satchit Joglekar, Regional Vice President & Managing Director Southeast Asia (ASEAN) Snowflake, yang melihat pergeseran menuju konsep agentic AI sebagai evolusi berikutnya dalam adopsi AI di perusahaan.
 
Secara sederhana, agentic AI merujuk pada sistem AI yang tidak hanya memberikan jawaban atau analisis, tetapi juga mampu menjalankan tugas secara mandiri berdasarkan instruksi dan data yang tersedia. 

Berbeda dengan AI konvensional yang bersifat reaktif, pendekatan ini memungkinkan AI bertindak sebagai “agen” yang dapat menyelesaikan rangkaian pekerjaan, mulai dari mengolah data hingga menghasilkan output yang siap digunakan.
 
Menurutnya, penggunaan AI di tahap awal masih terbatas pada fungsi dasar seperti menjawab pertanyaan atau menampilkan data. Namun, kebutuhan perusahaan kini mulai berubah.
 
“Selama ini AI lebih banyak digunakan untuk menjawab pertanyaan sederhana, seperti berapa penjualan bulan lalu. Tapi perusahaan sekarang menginginkan lebih dari itu, yaitu AI yang bisa benar-benar membantu mengambil tindakan,” ujarnya.
  Insight ke Eksekusi Konsep agentic AI merujuk pada kemampuan AI untuk tidak hanya memberikan insight atau wawansan dari data yang diolah, tetapi juga menjalankan serangkaian tugas secara otomatis berdasarkan data dan konteks yang dimiliki.
 
Dalam praktiknya, AI dapat menjalankan workflow kompleks yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.
 
Joglekar memberikan contoh penggunaan di lingkungan internal, di mana AI dapat membantu menyiapkan presentasi bisnis secara otomatis.
 
“Saya bisa meminta sistem untuk menyiapkan presentasi bisnis, mulai dari mengumpulkan data yang relevan, membuat grafik, hingga menyusun slide. Proses yang biasanya memakan waktu satu minggu, kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit hingga beberapa jam,” jelasnya.
 
Pendekatan ini menunjukkan bahwa AI mulai berperan sebagai co-worker yang mampu membantu pekerjaan operasional, bukan sekadar alat analisis.
  Project SnowWork Untuk mendukung konsep tersebut, Snowflake memperkenalkan Project SnowWork, yang dirancang sebagai satu platform terpadu untuk menjalankan berbagai tugas berbasis data.
 
Melalui SnowWork, pengguna dapat memberikan perintah menggunakan bahasa natural untuk menghasilkan berbagai output, mulai dari laporan, email, hingga aplikasi sederhana.
 
“SnowWork pada dasarnya adalah satu konsol untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan. Pengguna bisa meminta sistem membuat laporan, menyusun email, atau bahkan membangun aplikasi sederhana hanya dengan instruksi bahasa natural,” kata Joglekar.
 
Ia menambahkan bahwa kemampuan ini juga memungkinkan pengguna non-teknis untuk memanfaatkan data secara lebih mandiri, tanpa harus bergantung penuh pada tim IT atau data engineer.
  Agentic AI Tetap Butuh Kontrol Meskipun menawarkan otomasi yang lebih luas, implementasi agentic AI juga menimbulkan kekhawatiran baru, terutama terkait keamanan dan kontrol.
 
Joglekar mengakui bahwa banyak perusahaan masih mempertanyakan sejauh mana AI dapat diberikan kewenangan untuk mengambil tindakan secara mandiri.
 
“Ada kekhawatiran bahwa AI bisa mengambil keputusan yang melanggar regulasi atau kebijakan internal. Itu sebabnya governance dan access control menjadi sangat penting,” ujarnya.
 
Dalam pendekatan yang dikembangkan Snowflake, setiap aksi yang dilakukan AI tetap berada dalam batasan akses dan kebijakan yang telah ditentukan sebelumnya. Sistem hanya akan menjalankan perintah jika pengguna memiliki izin terhadap data yang dibutuhkan.
 
Jika tidak, AI akan menolak menjalankan tugas tersebut dan meminta otorisasi tambahan.
 
Di tengah perkembangan ini, Joglekar menegaskan bahwa kehadiran AI tidak serta-merta menggantikan peran manusia, khususnya di bidang data. Sebaliknya, peran tersebut justru bergeser menjadi lebih strategis.
 
“Tim data tidak berkurang, tetapi pekerjaannya berubah menjadi lebih bernilai, seperti membangun sistem, memastikan kualitas data, dan membuat framework yang bisa digunakan oleh pengguna lain,” katanya.
 
AI diposisikan sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, sekaligus membuka peluang baru dalam cara kerja di lingkungan enterprise.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Detik-Detik Trump Dievakuasi usai Terdengar Suara Tembakan saat Acara Makan Malam Gedung Putih
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Menko AHY Dorong Integrasi Infrastruktur untuk Kembangkan Desa Wisata di Kawasan Transmigrasi
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Anak dan Keluarga Korban Daycare Little Aresha Dapat Pendampingan Psikososial
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Layanan Bandara Madinah Jadi Wajah Pertama Haji Indonesia
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Orang Tua Sakit Hati dengan Pelayanan Daycare Little Aresha, Anak Pulang Kelaparan Seperti Tidak Diberi Makan
• 4 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.