BALIKPAPAN, KOMPAS - Kendati hujan diprediksi tetap turun di Kalimantan Timur saat kemarau 2026, kebakaran hutan dan lahan tetap terjadi. Api muncul saat hujan tidak turun dalam beberapa hari di lahan gambut dan kering.
Berdasarkan data sementara Sistem Informasi Peringatan Dini Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan, sepanjang Januari-Maret 2026 telah terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) seluas 872,79 hektar. Terbaru, karhutla terjadi di Kelurahan Sungai Parit, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
“Luas lahan terbakar sekitar 0,25 hektar hari ini sekitar pukul 12.00 Wita. Material yang terbakar berupa semak belukar dan gambut tipis,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU Nurlaila, Minggu (26/4/2026).
Penyebab pasti kebakaran tersebut masih diinvestigasi. Nurlaila menyebut api diduga muncul akibat cuaca panas tanpa hujan dalam tiga hari terakhir di area lahan kering.
Nurlaila menyebut hingga pukul 15.00 Wita, api sudah dipadamkan. “Secara visual tidak ada potensi munculnya titik api baru,” katanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan memperkirakan musim kemarau tahun 2026 di Kaltim tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Fenomena El Nino di Kaltim tahun ini pada kategori lemah.
“Untuk Kaltim, polanya tidak sepenuhnya kering. Masih ada potensi hujan ringan hingga sedang selama periode April hingga Agustus 2026,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan Djoko Sumardiono.
Kendati demikian, risiko kekurangan air bersih tetap ada saat kemarau di Kaltim. Karakteristik air hujan pada musim kemarau biasanya cepat mengalir sebelum terserap ke dalam tanah secara optimal.
BMKG mendorong warga memanen atau menampung air hujan saat hujan turun guna mengantisipasi kekeringan saat hujan tak turun. Selain itu, BMKG mencatat antisipasi karhutla perlu ditingkatkan saat hujan tak turun dalam beberapa hari.
Intensitas hujan yang menurun dalam sepekan terakhir membuat titik panas bermunculan di Kaltim. Berdasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan, sepanjang 21-26 April 2026 terdapat 448 titik panas di seluruh Kaltim.
Sebaran titik panas terbanyak muncul di Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Paser, dan Kutai Barat.
Pelaksana Harian Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim Sugeng Priyanto menyatakan, setiap titik api yang muncul akan ditinjau langsung ke lapangan untuk dicek.
“Tim reaksi cepat dan Manggala Agni di setiap kelurahan/desa mengecek dan memadamkan jika karhutla terjadi,” kata Sugeng.
Khusus di PPU, setidaknya terpetakan 128 titik rawan karhutla di Kecamatan Penajam, Kecamatan Babulu, Kecamatan Waru, dan Kecamatan Sepaku. Petugas dan perlengkapan dioptimalkan di sekitar titik rawan.
“Termasuk memperketat pengawasan di 1.400 hektar lahan gambut di PPU yang rawan terbakar ketika musim kemarau,” kata Nurlaila.





