Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bakhtiar, menyoroti laporan terbaru JPMorgan Chase berjudul Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026. Dalam laporan tersebut, Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan daya tahan terbaik terhadap lonjakan harga energi global.
Kajian JP Morgan mengevaluasi 52 negara dengan konsumsi energi terbesar yang mencakup sekitar 82% penggunaan energi global. Negara produsen utama seperti Iran, Qatar, Rusia, dan Uni Emirat Arab tidak dimasukkan dalam analisis karena tingginya subsidi energi domestik.
Studi tersebut menilai sensitivitas negara terhadap fluktuasi harga minyak dan gas internasional, serta kemampuan memanfaatkan sumber energi domestik seperti gas, batu bara, energi terbarukan, dan nuklir sebagai penyangga.
Hasilnya, Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam indikator “total protection factor”, tepat di bawah South Africa. Indikator tersebut menggambarkan besarnya porsi energi nasional yang relatif terlindungi dari gejolak harga global.
Meski mendapat penilaian positif, Bisman menilai ketahanan energi Indonesia masih bersifat parsial jika melihat kondisi riil di lapangan. Pasalnya, Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak meski memiliki kekuatan pada pasokan batu bara dan gas domestik.
“Kami juga cukup terkejut dengan penilaian laporan JP Morgan tersebut karena didasarkan pada indikator seperti ketergantungan impor energi dan kekuatan pasokan domestik yang skornya cukup tinggi,” kata Bisman kepada Warta Ekonomi, Minggu (26/4/2026).
Baca Juga: Indonesia Masuk 2 Besar Ketahanan Energi, Pemerintah Ungkap Jurus Jaga Daya Beli
Baca Juga: Soal Ketahanan Energi, ReforMiner Institute Beri Tiga Usulan
Baca Juga: JP Morgan: Indonesia Tahan Guncangan Energi Global 2026
Menurut dia, secara umum ketahanan energi Indonesia memang relatif aman terhadap gejolak global. Namun, dari sisi harga bahan bakar minyak (BBM) dan ketahanan fiskal jangka panjang, Indonesia masih tergolong rentan.
“Kita belum punya cadangan energi yang memadai. Baru akan disiapkan CPE yang regulasinya juga baru ada,” ujarnya.
Dominasi Energi Fosil Jadi CatatanSelain itu, Bisman menilai bauran energi Indonesia masih didominasi batu bara dan energi fosil. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi nasional belum sepenuhnya sejalan dengan agenda transisi energi bersih.
Meski demikian, ia menilai hasil kajian JP Morgan setidaknya dapat menjadi indikator kekuatan energi Indonesia dalam jangka pendek, meski belum mencerminkan ketahanan energi berkelanjutan dalam jangka panjang.
“Lebih dari itu, ini bisa mendorong pemerintah benar-benar menyiapkan cadangan energi jangka panjang secara sistematis,” pungkasnya.
Diketahui, studi JP Morgan mengevaluasi 52 negara dengan konsumsi energi terbesar yang mencakup sekitar 82% penggunaan energi global. Negara produsen utama seperti Iran, Qatar, Rusia, dan Uni Emirat Arab tidak dimasukkan dalam analisis karena tingginya subsidi energi domestik.
Baca Juga: IAGL ITB Tekankan Percepatan Hilirisasi Nikel dan Sinergi Energi demi Kemandirian Nasional
Baca Juga: Indonesia Siap Ekspor Listrik ke Singapura, Proyek Energi Hijau Rp518 Triliun Disiapkan
Kajian tersebut menilai sensitivitas negara terhadap fluktuasi harga minyak dan gas internasional, serta kemampuan memanfaatkan sumber energi domestik seperti gas, batu bara, energi terbarukan, dan nuklir sebagai penyangga.
Hasilnya, Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam indikator “total protection factor”, tepat di bawah South Africa. Indikator tersebut menggambarkan besarnya porsi energi nasional yang relatif terlindungi dari gejolak harga global.





