Sebanyak 177 hotel telah disiapkan bagi jemaah haji Indonesia saat mereka tiba di Mekkah, Arab Saudi, mulai Kamis (30/4/2026). Jumlah ini lebih banyak daripada hotel jemaah haji di Madinah yang berjumlah 118 hotel.
Ada perbedaan karakteristik antara hotel-hotel di Mekkah dan di Madinah. Dari segi jarak dengan pusat ibadah di masjid utama (Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah), misalnya, hotel-hotel di Madinah lebih dekat. Hotel-hotel jemaah haji Indonesia di Mekkah dengan Masjidil Haram tidak sedekat seperti hotel-hotel di Madinah dengan Masjid Nabawi.
Sejak musim haji tahun 2008, di Mekkah disediakan bus-bus Shalawat yang beroperasi 24 jam sebagai sarana transportasi jemaah pergi-pulang (PP) antara hotel dan Masjidil Haram. Tahun ini, rencananya sehari sebelum jemaah berdatangan di Mekkah, bus Shalawat beroperasi.
Hotel-hotel jemaah Indonesia di Mekkah berlokasi di lima kawasan yang mengelilingi area Masjidil Haram, yakni Syisyah, Raudhah, Misfalah, Jarwal, dan Aziziyah. Ke-177 hotel itu dibagi ke dalam 10 sektor di lima kawasan tersebut.
Bagaimana menempatkan dan membagi 203.320 anggota jemaah haji reguler ke dalam 177 hotel di Mekkah?
Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ihsan Faisal menjelaskan, penempatan jemaah di hotel didasarkan pada asal embarkasi dan kapasitas hotel. Artinya, satu embarkasi diupayakan berada dalam satu hotel. Jika tidak cukup, sebagian jemaah dalam satu embarkasi ditempatkan di hotel lain terdekat.
Dari lima kawasan tersebut, kawasan Aziziyah hanya menyediakan satu hotel, yakni Hotel Al-Hidayah, berkapasitas sekitar 21.500 jemaah. Dengan kapasitas sebanyak ini, hotel tersebut dijadikan satu sektor tersendiri. Di sektor ini terdapat Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) sebagai pusat layanan kesehatan jemaah di Mekkah.
Pada Sabtu (25/4/2026), para wartawan anggota Media Center Haji (MCH) diajak berkunjung ke salah satu hotel jemaah di Sektor 2 kawasan Syisyah, Hotel Emaar Al Taqwa. Ihsan menyebutkan, hotel ini menampung sekitar 2.600 jemaah dan petugas, sekaligus berfungsi sebagai Kantor Sektor 2. Sektor ini melayani jemaah di 22 hotel.
Nanti jemaah akan diberikan air minum yang telah disediakan di kamarnya, sebanyak satu liter per jemaah per hari.
Hotel Emaar Al Taqwa berdiri di dataran agak tinggi. Untuk mencapainya, pengunjung harus berjalan mendaki. Menurut Ihsan, karena posisinya juga sebagai kantor sektor, di depan hotel itu akan disediakan halte bus shalawat.
Saat kami datang, beberapa pekerja mengepel area pintu masuk hotel. Di area lobi, tersedia tujuh lift. Kami diajak memeriksa kamar jemaah. Di kamar yang diperlihatkan, terdapat empat tempat tidur, satu almari, televisi, satu meja besar, meja kecil di samping tempat tidur, dan kulkas mini. Tiap kamar memiliki kamar mandi dengan shower.
“Nanti jemaah akan diberikan air minum yang telah disediakan di kamarnya, sebanyak satu liter per jemaah per hari,” ucap Ihsan.
Penempatan jemaah di kamar dibedakan dari segi jenis kelamin, sekalipun ada jemaah bersama suami/istri atau anggota keluarga lainnya. Petugas telah menentukan formasi jemaah dalam satu kamar.
Ketika ditanya, apakah jemaah bisa bertukar kamar dengan rekannya, Ihsan menjawab, ”Prinsipnya kita memberikan fasilitas sesuai jumlah jemaah. Tidak ada jemaah yang tidak mendapatkan kamar. Ketika sudah mendapatkan, kalau ada yang mau bertukar (kamar), silakan saja.”
Bagaimana dengan ruang makan? Disediakan ruang makan atau restoran tempat jemaah bersantap makan sebanyak tiga kali. Para jemaah dipasok makanan katering sebanyak tiga kali.
“Jemaah haji makan di restoran, meskipun makanannya diantar dari dapur haji. Jika tidak dapat (makan) di restoran, jemaah juga bisa membawa makanannya ke kamar dan akan dibantu oleh petugas,” kata Ihsan.
Tak ketinggalan, hotel menyediakan masjid atau mushalla. Bagi jemaah yang tidak kuat berdiri, tersedia deretan kursi.
Yang “istimewa” dan membedakan dari hotel-hotel di Madinah, Hotel Emaar Al Taqwa—seperti hotel-hotel kebanyakan di Mekkah—menyediakan mesin cuci dan tempat menjemur pakaian. “Fasilitas ini kami sesuaikan dengan kebutuhan jemaah haji Indonesia, dan penggunaannya akan didampingi oleh petugas,” ujar Ihsan.
Fasilitas mesin cuci dan tempat jemuran seperti tidak dijumpai di hotel-hotel jemaah haji di Madinah. Kepada jemaah haji Indonesia yang baru tiba di Madinah, seperti dikutip Media Center Haji (MCH) Daker Madinah, Kepala Seksi Akomodasi Daker Madinah Zaenal Muttaqin, menjelaskan fasilitas di hotel-hotel Madinah berbeda dengan hotel di Makkah.
Salah satu perbedaan mencolok terletak pada ketersediaan sarana mencuci bagi jemaah. “Kalau hotel di Makkah mayoritas menyediakan mesin cuci di lantai paling atas (rooftop) untuk digunakan jemaah. Sementara di Madinah pihak hotel tidak menyediakan fasilitas mesin cuci maupun area pencucian khusus bagi jemaah,” ujar Zaenal kepada wartawan di Madinah.
Untuk mencuci pakaian kotor, jemaah bisa mencuci pakaian ala kadarnya di kamar mandi hotel masing-masing. Masalahnya, tidak tersedia tempat menjemur pakaian secara memadai. Bahkan, Zaenal mengingatkan agar jemaah tidak menjemur pakaian di jendela, menggantungnya di saluran pipa pemadam api, atau memaku tembok kamar.
“Pelanggaran terhadap aturan ini dapat berujung pada denda administratif dari manajemen hotel. Ini harus dipahami betul karena jumlah dendanya tidak main-main,” kata Zaenal, seperti dikutip MCH.
Kembali ke Hotel Eemar Al Taqwa di Syisyah, Mekkah. Di salah satu lantai dekat dengan kantor Sektor 2, disiapkan klinik satelit untuk melayani jemaah yang mengalami gangguan kesehatan. Ada setidaknya lima tenaga kesehatan (nakes) yang disiagakan di klinik tersebut.
Ihsan menjelaskan, satu klinik didirikan dengan rasio pelayanan untuk 5.000 jemaah. Sektor 2, dengan lebih dari 20.000 jemaah, memiliki empat klinik. “Alur pengobatan jemaah bagi jemaah yang sakit adalah pasien ditangani dokter kloter, lalu—jika belum tertangani--ke klinik sektor, kemudian Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), dan—jika masih sakit--dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi.
Asep Kusyaman, anggota Seksi Perlindungan Jemaah (Linjam), mengatakan persiapan untuk menerima para jemaah dari Madinah sudah 75 persen. Untuk pengamanan mereka, tiga personel Linjam menangani 22 hotel di Sektor 2 Syisyah. “Kami akan memberikan arahan kepada jemaah tentang situasi (keamanan) di sekitar Syisyah,” ujarnya.





