PHK Mengintai, 85 Juta Pekerjaan Terancam Hilang Gegara AI

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pekerjaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia akan mengalami disrupsi, terutama dengan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurut World Economic Forum, bahkan ada 85 juta pekerjaan yang diprediksi akan hilang karena AI.

Ekonom digital dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai ada beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan administrasi hingga analisis memang sangat rentan digantikan dengan AI.

Baca Juga: Menaker Yassierli Pantau Dampak Konflik Iran Terhadap Potensi PHK

Di sisi lain, menurutnya ada peluang 97 juta lapangan kerja baru yang tercipta yang berkaitan dengan teknologi. Permintaan lapangan kerja sebagai data programming akan melonjak.

"Evolusi ini tidak bisa kita hindari karena kemajuan teknologi ini semakin membuat disrupsi, termasuk di Indonesia. Maka yang harus diperhatikan adalah sumber daya manusianya," kata Huda kepada WartaEkonomi, Minggu (26/4/2026).

Sayangnya, kata Huda, di Indonesia untuk kebutuhan tenaga kerja berbasiskan teknologi masih sangat terbatas. Human Capital Index Indonesia masih di bawah Malaysia, Vietnam, hingga Thailand. 

Maka tak ayal, kata dia, banyak perusahaan teknologi atau digital di Indonesia justru mempekerjakan tenaga kerja asing, seperti dari Singapura, Malaysia, hingga India. 

"Adopsi digital yang lambat hingga kurikulum pendidikan yang tertinggal, menjadi faktor lambatnya kemajuan sumber daya manusia (SDM) teknologi/digital di Indonesia," jelas dia.

Lebih lanjut, dia mengatakan pekerjaan administrasi di perbankan Indonesia saat ini juga sudah mulai kurang karena kemajuan AI. Costumer Service di perbankan sudah tergantikan chatbot AI

"Bahkan untuk memblokir hingga buka rekening sudah melalui teknologi. Jadi disrupsi pekerjaan di Indonesia sudah terjadi. Kita tidak siap," ungkap dia.

Baru-baru ini, diketahuk dua raksasa teknologi global, Meta Platforms dan Microsoft melakukan perombakan struktur tenaga kerja dengan efesiensi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan program pensiun dini sukarela. Kedua perusahaan besar tersebut ingin melakukan investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan.

Baca Juga: Interior Futuristik dari Hyundai Ioniq di Beijing Auto Show 2026

Berdasarkan laporan memo internal pada Kamis (23/4), Meta berencana memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja globalnya. Jika merujuk pada total 78.865 karyawan per 31 Desember 2025, gelombang PHK terbaru ini diperkirakan akan berdampak pada sekitar 8.000 pekerja.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rp253,6 M digelontorkan Pemprov, 103 sekolah swasta gratis di Jakarta
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Ortu Korban Sebut Daycare Little Aresha Lebih Kejam dari Kamp Guantanamo
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Trump Dievakuasi dari Makan Malam Gedung Putih Usai Terdengar Tembakan
• 10 jam laluokezone.com
thumb
Sidak Gudang Bulog, Mentan Tegaskan Produksi Beras Nasional Meningkat
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
Isu Legitimasi Kepemimpinan Menguat, Tokoh Adat Ajak Masyarakat Alor Jaga Kamtibmas
• 7 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.