Jakarta: Anggota Komisi VIII DPR RI Muhamad Abdul Azis Sefudin mengingatkan pemerintah pusat dan daerah untuk tidak "gagap" dalam menghadapi potensi bencana kemarau panjang atau "El Nino Godzilla" yang diprediksi akan melanda dalam waktu dekat. Hal tersebut disampaikan Azis dalam rangkaian Kunjungan Kerja Reses Komisi VIII DPR RI di Kantor Gubernur Sumatra Utara, Medan.
Azis menekankan langkah mitigasi harus dilakukan jauh sebelum bencana terjadi, berkaca pada pengalaman bencana banjir rutin di Sumatra Utara yang kerap menimbulkan kerugian hingga ratusan miliar rupiah.
"Jangan sampai kita mengulang kesalahan yang sama. Ketika BMKG sudah memberikan imbauan mengenai curah hujan tinggi maupun ancaman 'El Nino Godzilla', kita harus siap. Mencegah jauh lebih baik dan lebih murah daripada mengobati atau menangani dampak yang sudah terjadi," tegas Azis dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 26 April 2026.
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini juga menyoroti tren kebencanaan nasional yang mencapai hampir 4.000 kejadian setiap tahunnya. Menurut dia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) harus mulai menggeser fokus dari sekadar penanganan pascabencana menjadi penguatan sosialisasi dan pencegahan.
"Kapasitas BNPB saat ini lebih banyak tersedot untuk penanganan. Kita perlu mendorong kebijakan nasional yang mampu memetakan daerah rawan bencana secara presisi sejak dini. Selain itu, pengawasan terhadap izin-izin lahan dan hutan harus diperketat untuk mencegah longsor dan banjir bandang yang berdampak sistemik pada pembangunan nasional," imbuh dia.
Baca juga: BMKG Imbau Waspada El Nino di Sultra Mei–Juli 2026
(Anggota Komisi VIII DPR RI Muhamad Abdul Azis Sefudin dalam rangkaian Kunjungan Kerja Reses Komisi VIII DPR RI di Kantor Gubernur Sumut. Foto: dpr.go.id)
Masukkan kurikulum kebencanaan ala Jepang
Selain itu, Legislator dari Dapil Jabar III ini memberikan perhatian khusus pada kerentanan anak-anak saat bencana terjadi. Data menunjukkan bahwa mayoritas korban jiwa dalam berbagai peristiwa bencana adalah anak-anak karena minimnya pengetahuan mengenai cara menyelamatkan diri.
"Secara fisik, daya tahan anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Mereka seringkali tidak tahu harus lari ke mana saat terjadi tsunami atau gempa. Karena itu, saya pribadi mendorong pemerintah untuk serius memasukkan kurikulum kebencanaan di sekolah-sekolah, seperti yang diterapkan di Jepang," ujar Azis.
Ia menjelaskan dengan adanya kurikulum tersebut, anak-anak Indonesia yang tinggal di wilayah Ring of Fire akan memiliki naluri bertahan hidup yang kuat. Mereka akan memahami jalur evakuasi dan langkah-langkah darurat sesuai dengan karakteristik wilayahnya, baik di pesisir maupun pegunungan.
"Menanamkan budaya sadar bencana sejak dini tidak hanya menyelamatkan nyawa mereka hari ini, tetapi juga membentuk generasi masa depan yang lebih bijak dalam memilih tempat tinggal yang layak dan aman di masa depan," tutup Azis.




