Smelter Baru Freeport Diproyeksi Beroperasi Kembali Semester II/2026

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Smelter baru PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, diperkirakan akan mulai beroperasi kembali pada semester II/2026.

Operasional dua smelter Freeport di Gresik sebelumnya mengalami penyesuaian imbas keterbatasan pasokan konsentrat tembaga.  Kondisi ini terjadi sebagai dampak insiden luncuran material basah di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Papua Tengah pada 8 September 2025.

Freeport-McMoRan Inc (FCX), induk PT Freeport Indonesia (PTFI), melaporkan bahwa smelter PTFI bersama Mitsubishi Materials Corporation yang dikelola PT Smelting, telah beroperasi kembali pada akhir Desember 2025.

Namun, smelter baru yang dimiliki sepenuhnya oleh PTFI di JIIPE masih dalam kondisi stand-by atau siaga.

"Di Indonesia, kami terus mengoperasikan satu dari dua smelter dengan konsentrat yang tersedia, sementara smelter baru masih dalam status siaga dan diperkirakan akan mulai beroperasi kembali pada akhir tahun ini," ujar CEO, President & Director Freeport-McMoRan Kathleen Quirk dalam earning call kinerja FCX kuartal I/2026, dikutip Senin (27/4/2026).

FCX memperkirakan pengiriman konsentrat ke smelter baru PTFI akan dimulai kembali pada semester II/2026. Namun, hal ini tergantung ketersediaan konsentrat dari tambang bawah tanah GBC.

Baca Juga

  • Produksi Tembaga & Emas Freeport Anjlok 67% pada Kuartal I/2026
  • Freeport Akan Terima Pembayaran Klaim Asuransi Rp12 Triliun Atas Longsor Grasberg

Sementara itu, pengoperasian pabrik emas atau precious metal refinery (PMR) yang terintegrasi dengan smelter baru PTFI, beroperasi secara terbatas, terutama mengolah lumpur anoda dari PT Smelting.

FCX pun memperkirakan akan terjadi fluktuasi yang lebih tinggi antara produksi dan penjualan PTFI hingga fasilitas smelternya kembali beroperasi normal.

Adapun, kinerja produksi PTFI masih tertekan pada kuartal I/2026 akibat belum pulihnya operasi tambang Grasberg pascainsiden longsor.

Tercatat, produksi tembaga mencapai 95 juta pound pada kuartal I/2026, anjlok 67,90% dari 296 juta pound pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan tembaga juga merosot menjadi 82 juta pound dari sebelumnya 290 juta pound, dengan rata-rata harga penjualan tembaga naik menjadi US$5,89 per pound dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$4,34 per pound.

Penurunan serupa terjadi pada produksi emas yang turun 67,60% menjadi 92.000 ounce dari 284.000 ounce. Adapun, penjualan emas juga menurun menjadi 116.000 ounce dari kinerja kuartal I/2025 sebesar 125.000 ounce. Namun, rata-rata harga penjualan emas melonjak menjadi US$4.893 per ounce pada kuartal I/2026 dibandingkan kuartal I/2025 sebesar US$3.072 per ounce.

Tekanan volume produksi ini dipicu oleh proses pemulihan bertahap tambang Grasberg Block Cave setelah insiden longsor pada September 2025. Operasi baru mulai memasuki fase ramp-up kembali pada akhir Maret 2026, dengan kapasitas yang masih terbatas. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia Nomor Dua Dunia TBC, tapi Separuh Pasiennya Belum Ditemukan
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Jumlah Penonton Live TikTok Melonjak, Profesi Host Live Makin Diminati
• 28 menit lalukatadata.co.id
thumb
3 Orang Ditangkap Saat Coba Masuk Makkah Tanpa Izin Haji, Nyamar Angkut Barang
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Kakak Haru Adiknya Fasih Bahasa Inggris Usai Sekolah Rakyat
• 17 jam lalutvrinews.com
thumb
Imbas Harga BBM Melambung, Mobil Listrik China Laris Manis di Eropa Timur
• 23 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.