Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi lontarkan pesan menohok di hadapan ribuan warga Sumedang, terkait pentingnya mengembalikan kejayaan budaya sebagai fondasi utama kebangkitan Sumedang.
Bahkan Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM itu mengingatkan bahwa Sumedang bukan sekadar daerah administratif, melainkan memiliki akar sejarah besar sebagai penerus peradaban Sumedang Larang.
“Sumedang ini bukan daerah biasa. Ini kerajaan terakhir yang dititipi Mahkota Binokasih. Benteng terakhir Pajajaran,” ujar KDM dalam gelaran Ekosistem Budaya Kasumedangan di Alun-Alun Sumedang, Jumat malam (24/4/2026).
Karena menurutnya, kejayaan masa lalu itu harus menjadi pijakan untuk membangun masa depan, bukan sekadar cerita sejarah. Ia menekankan bahwa identitas budaya harus kembali menjadi ruh dalam kehidupan masyarakat.
“Mulangkeun ka Sumedang, mulangkeun ajen inajen, harkat jeung martabat Sumedang Larang,” jelasnya.
KDM juga menyoroti pentingnya kebanggaan terhadap jati diri daerah, mulai dari produk lokal hingga kekayaan alam yang dimiliki Sumedang. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam pola pikir yang lebih mengagungkan daerah lain.
“Jangan bangga dengan produk luar. Sumedang punya tahu Sumedang, ubi Cilembu, sawo Sukatali. Itu harus dibanggakan dan digaungkan,” tegas KDM.
Selain itu, KDM juga mendorong penataan wilayah yang selaras dengan nilai budaya dan kelestarian lingkungan. Kawasan strategis seperti pintu tol diminta ditata rapi, bersih, dan terang untuk menciptakan kesan pertama yang baik bagi pengunjung.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa kekuatan utama Sumedang tetap terletak pada keaslian alam dan budayanya.
“Keindahan Sumedang itu asli, tidak perlu dibuat-buat. Justru itu yang akan dicari orang,” ucap orang nomor satu di Jabar itu.
Dedi Mulyadi juga mengingatkan bahwa kemajuan daerah harus diiringi dengan kualitas sumber daya manusia yang berkarakter dan berjiwa pemimpin.
“Warga Sumedang harus punya kepribadian, kepemimpinan, dan sikap satria. Itu bagian dari warisan budaya yang harus dijaga,” katanya.
Ia optimistis, jika nilai budaya, sejarah, dan lingkungan dijaga secara konsisten, Sumedang akan kembali mencapai kejayaannya sebagai daerah yang “Gemah, Ripah, Repeh, Rapih”. (aag)




