Mengasah Jiwa Pengusaha Muda melalui ”Student Company”

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Melalui kewirausahaan, anak muda berpotensi mencapai kesejahteraan ekonomi yang lebih baik. Namun, untuk mewujudkan potensi tersebut, generasi muda Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti akses pendidikan relevan yang terbatas, kurangnya bimbingan, serta minimnya sumber daya.

Untuk membekali siswa jenjang sekolah menengah atas (SMA) dengan keterampilan dalam menciptakan dan mengoperasikan bisnis, Starbucks Indonesia berkolaborasi dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI) menghadirkan Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program (SCYEP). Sejak 2019, program SCYEP telah menjangkau lebih dari 6.000 siswa SMA. Melalui program ini, siswa diajak untuk membangun perusahaannya sendiri yang disebut dengan Student Company (SC).

Tahun ini, SCYEP melibatkan 10 sekolah dari Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Jayapura dengan total lebih dari 200 siswa. Pada kompetisi tingkat regional SCYEP 2025-2026 yang digelar pada Jumat (24/4/2026), kategori The Best Student Company berhasil diraih oleh dua sekolah, yaitu Ruppy Student Company dari Mentari Intercultural School (MIS) Grand Surya, Cengkareng, Jakarta, dan Arthakara Student Company dari SMA Kolese Loyola, Semarang, Jawa Tengah.

Baca JugaKewirausahaan Menjadi Solusi Atasi Pengangguran

Selanjutnya, mereka akan berkompetisi di tingkat Asia Pasifik hingga level global. Dewan juri dari Starbucks Indonesia pada kompetisi kali ini terdiri dari General Manager Information and Technology Felix Amando Hadi Saputro, Division Manager Operations Services Alvin Wijaya, Division Manager Quality Assurance and Compliance Dery Charismawan, dan Food Category Marketing Manager Jilly Heuvelman.

Di hadapan tim juri, CEO Ruppy Student Company dari MIS Grand Surya Christopher Edward mengawali paparannya dengan fakta bahwa terdapat 3 juta ton karbon dioksida yang dihasilkan setiap tahun dari pembakaran kayu lapis di Indonesia. Direktur Produksi Ruppy SC Victoria Thomas Tabaraka kemudian melengkapi paparan tersebut dengan menyebutkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa meja yang berantakan merupakan sumber utama stres dan penyebab produktivitas rendah.

”Kami adalah sekelompok siswa yang bertujuan untuk menginspirasi generasi yang berkelanjutan, kreatif, dan terorganisasi. Bagaimana caranya? Nah, kami memberi contoh dengan menggunakan kayu lapis daur ulang untuk membuat organizer modular yang dapat meningkatkan produktivitas Anda,” ujar Christopher dan Victoria.

Berangkat dari ide tersebut, Ruppy SC memproduksi Ruppy Snugbox, sebuah kotak penyimpanan dari kayu yang penyekatnya bisa dilepas sehingga kapasitasnya dapat diubah sesuai kebutuhan. Dari target penjualan 120 produk, mereka telah memasarkan 186 kotak dan menghasilkan total pendapatan Rp 14,4 juta dengan laba bersih sebesar Rp 1,4 juta.

Kemenangan di ajang kompetisi tingkat regional ini merupakan puncak pencapaian dari kerja keras yang mereka lakukan selama berbulan-bulan sejak Oktober 2025. Pada Jumat (13/3/2026), meski sedang dalam masa libur sekolah, 30 siswa yang tergabung dalam Ruppy SC tetap sibuk menjalankan pertemuan internal perusahaan. Pertemuan tersebut rutin digelar sepekan sekali dan melibatkan pendampingan secara daring dari PJI ataupun Starbucks Indonesia.

​Di hadapan para siswa, Partner (karyawan) Starbucks Indonesia, Kiki Mochamad Rizki, membagikan pengetahuannya mengenai kepemimpinan berdasarkan pengalaman menjabat sebagai Public Relations and CSR Division Manager PT Sari Coffee Indonesia. ”Jika kalian diposisikan menjadi seorang pemimpin, itu sebenarnya merupakan tantangan untuk terus belajar dan bertumbuh. Jadi, pasti pengalaman dan sensasinya akan berbeda saat menangani kelompok besar ataupun kelompok kecil,” ujarnya.

Kerja keras

Ketika memimpin bisnis dengan volume kecil, seorang pemimpin masih bisa menerapkan pengelolaan mikro (micromanagement) dengan pendekatan personal. ”Tapi, dalam sebuah grup yang besar, pemimpin harus memiliki kemampuan berpikir strategis. Secara teknis, ia juga harus piawai mendelegasikan tugas dan memberikan arahan yang jelas. Pemimpin harus memiliki keterampilan POAC, yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling,” tambah Kiki.

Selain terlibat dalam pendanaan, Starbucks Indonesia juga berperan sebagai mentor bagi para calon pengusaha muda di berbagai lokasi. Hal ini terbukti berdampak besar karena personel Starbucks yang berpengalaman di dunia bisnis terjun langsung memberikan dukungan dan bimbingan terkait operasionalisasi perusahaan siswa.

Christopher mengaku bahwa ia sudah bermimpi menjadi pengusaha dan membangun perusahaannya sendiri sejak kecil. Karena itu, ia langsung tertarik ketika ditawari bergabung dalam SCYEP. ”Wah, aku pikir ini sempurna banget. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk terekspos ke dunia bisnis dalam lingkungan yang masih familiar dan aman,” ucapnya.

Baca JugaStarbucks: Without Young People, What is the Future of Indonesian Coffee?


Tantangan di awal program sebagian besar bersifat internal, seperti manajemen waktu. ”Kami mulai memperbaiki sistem komunikasi dan memperjelas pembagian tugas di setiap divisi. Kami menegaskan siapa yang bertanggung jawab atas hal tertentu dan memastikan informasi penting disampaikan secara lebih terstruktur, misalnya melalui rapat rutin setiap hari Jumat,” ujarnya.

Director of Public Relations Ruppy SC Farellino Arkan Fadilah menambahkan, awalnya ia sempat menolak tawaran bergabung karena sudah aktif di banyak organisasi dan sibuk mempersiapkan ujian kelas XI. Namun, ia akhirnya memutuskan bergabung, belajar tentang manajemen waktu, dan bahkan berhasil meraih predikat The Best Director of Public Relations.

English Principal MIS Grand Surya Odessa L Gutlay mengatakan, para siswanya memperoleh bekal ekstra, seperti kemampuan berkomunikasi. ”Di dalam SC, komunikasi sangat penting agar semuanya berjalan baik, termasuk komunikasi antardivisi, untuk memastikan bahwa seluruh pekerjaan dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Odessa juga menyampaikan bahwa MIS Grand Surya baru pertama kali berpartisipasi dalam program SCYEP dan berharap bisa terus terlibat ke depannya. ”Kami ingin para pelajar berkembang secara holistik. Mereka tidak hanya bagus di bidang akademik, tetapi juga dalam hal aplikasi nyata yang berhubungan dengan bisnis. Kita tidak pernah tahu karier apa yang akan mereka jalani di masa depan. Setidaknya, dalam hal bisnis, mereka sudah memiliki bekal,” katanya.

​Guru pendamping dari MIS Grand Surya, Peter, melihat para siswa semakin termotivasi menjalankan bisnis sejak terlibat dalam SCYEP. Siswa yang juga aktif di Student Council (setingkat OSIS) menjadi lebih kreatif mencari pendanaan. ”Proses belajar kewirausahaan itu penting. Mereka belajar bagaimana bernegosiasi dengan orang lain di luar perusahaan. Itu ilmu yang sangat berguna, meskipun nantinya mereka tidak membuat bisnis sendiri,” ujarnya.

Suasana kerja keras membangun SC juga terasa di SMA Negeri 1 Bogor. Pada Rabu (11/3/2026), para siswa terlihat serius mempelajari keterampilan kepemimpinan, teknik presentasi, dan personal branding bersama Partner Starbucks Indonesia, Alfred Matthew Marten Napitupulu. Menurut guru SMAN 1 Bogor, Ratna Riksaning Palupi, para siswa memperoleh banyak manfaat dari program ini. ”Program ini benar-benar membuka cakrawala dan wawasan mereka,” ujarnya.

Praktik langsung

SMAN 1 Bogor tercatat telah tiga kali mengikuti kegiatan SC sejak tahun 2022. Kegiatan ini diikuti siswa kelas X dan XI selama kurang lebih 10 bulan. ”Awalnya saya khawatir tidak ada yang berminat karena ini menyangkut mendirikan perusahaan. Ternyata yang mendaftar membeludak. Tahun ini, kegiatan melibatkan 20 anak dari total pendaftar yang mencapai lebih dari 40 anak,” ujar Ratna.

Ia menambahkan, nilai kewirausahaan sangat penting untuk ditanamkan sejak SMA. Di sekolah, materi kewirausahaan dasar telah masuk ke dalam kurikulum. Namun, pembekalannya sering kali lebih banyak berfokus pada teori ekonomi semata. ”Ilmu ini akan menjadi bekal penting bagi mereka. Tentu hasilnya akan berbeda jika mereka hanya mendapat teori yang mengawang-ngawang dibandingkan dengan terjun praktik secara langsung,” tegasnya.

Dalam praktiknya, siswa dituntut untuk kreatif, termasuk saat mempromosikan produk. Salah satu angkatan SC bahkan pernah mengiklankan produk mereka di layar videotron besar di Kota Bogor. Sebelumnya, angkatan pertama membuat produk tas bertema self-love yang dilengkapi dengan kode batang (barcode) berisi cerita edukasi mengenai penghargaan diri serta kampanye anti-bullying. Tim yang lain pernah membuat lampu pintar yang pencahayaan dan gelombangnya disesuaikan untuk membantu orang yang kesulitan tidur.

Saat ini, tim SMAN 1 Bogor memproduksi pensil ramah lingkungan yang bagian dalamnya diisi dengan benih tanaman. ”Melihat perkembangan anak-anak SMA sekarang, saya cukup optimistis mereka kelak akan mulai membuka lapangan pekerjaan untuk bisa berdiri sendiri daripada hanya bergantung pada perusahaan yang sudah ada. Mereka hanya membutuhkan pemantik karena sering kali mereka bingung harus memulai dari mana,” kata Ratna.

​Florentina Jabar dari PJI menambahkan, SCYEP memberikan wadah bagi siswa SMA untuk mengasah keterampilan kewirausahaan praktis demi mewujudkan ide bisnis nyata. Siswa diwajibkan mendirikan dan mengoperasikan usaha mikro di sekolah masing-masing, menjalankan proses bisnis dari produksi hingga pemasaran, dan pada akhirnya mengambil keputusan untuk melikuidasi atau melanjutkan bisnis tersebut.

”Teman-teman belajar bagaimana realitas dunia bisnis beroperasi. Pengalaman inilah yang ingin kami bawa untuk mereka. Pengalaman adalah hal yang akan bertahan lama dan terbawa terus sampai mereka dewasa nanti,” kata Executive Director Prestasi Junior Indonesia Utami Anita Herawati.

Baca JugaKewirausahaan Minus Kesejahteraan


Pengalaman berharga serupa dirasakan siswa SMA YPPK Teruna Bakti, Jayapura. Menurut guru pendamping, Yuliana Suwasti Lestari, para muridnya biasa berdiskusi secara daring ataupun luring di gerai Starbucks di Jayapura. Para siswa tersebut membangun Astranova SC yang berfokus memproduksi hiasan dari kertas daur ulang. ”Kendalanya masih ada pada literasi. Jadi, anak-anak membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses berbagai informasi terkait bisnis,” ucapnya.

Siswa SMA YPPK Teruna Bakti, Reinata Tetelepta dan Angelika Bridget Thio, mengaku menjadi lebih percaya diri. Meski orangtua mereka merupakan seorang pengusaha—orangtua Reinata di bidang servis alat rumah tangga dan orangtua Angelika di bisnis alat kesehatan—mereka tetap mendapatkan wawasan yang benar-benar baru. ”Kalau melihat orangtua, mungkin mereka hanya fokus pada penjualan. Tapi, melalui perusahaan ini, kami belajar menciptakan dampak (impact) bagi masyarakat. Itu hal yang sangat baru bagi kami,” kata Reinata.

Senior General Manager Corporate Communication Starbucks Indonesia Avolina Raharjanti kembali menegaskan komitmen partner Starbucks untuk terus memperkuat hubungan dengan masyarakat. Program SCYEP yang juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Global Month of Good di bulan April ditegaskan sebagai wujud komitmen jangka panjang Starbucks dalam memberdayakan generasi muda.

​”Kepada adik-adik pelajar, jadikan program ini sebagai ruang untuk menggali potensi, membangun kreativitas, dan mengasah keterampilan bisnis yang relevan dengan dunia kerja di masa depan,” pesan Avolina.

Apresiasi terhadap inisiatif ini turut disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran dari Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Leontinus Alpha Edison. Ia menilai, SCYEP merupakan kegiatan kolaboratif yang berkelanjutan dan bukan sekadar pelatihan bisnis biasa, melainkan langkah nyata dalam membangun pilar pemberdayaan ekonomi generasi muda.

”Kami mengapresiasi inisiatif Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program sebagai wujud nyata kolaborasi dalam mendorong pemberdayaan generasi muda melalui kewirausahaan. Di tengah dinamika ekonomi global, program ini menjadi ruang strategis bagi pelajar untuk mengembangkan keterampilan bisnis, inovasi, serta kepedulian sosial dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan upaya pembangunan ekosistem melalui pilar berdaya bersama, berdaya berusaha, berdaya finansial, dan berdaya global,” ujarnya.

Melalui program ini, pemerintah berharap para peserta dapat menghadirkan solusi yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga berkelanjutan dan membawa dampak positif bagi masyarakat. Siswa diajak berani memulai dari langkah kecil demi menjadi bagian dari generasi muda berdaya saing yang siap berkontribusi untuk masa depan Indonesia.

”Kepada para siswa, manfaatkanlah kesempatan belajar dan bimbingan dari mentor-mentor profesional Starbucks ini dengan sebaik-baiknya. Jadilah perintis berdaya yang kreatif dan pantang menyerah. Dengan semangat gotong royong dan inovasi, mari kita terus bersinergi membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif untuk mewujudkan Indonesia yang lebih makmur,” katanya.





Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nadiem Absen Sidang Kasus Korupsi Chromebook, Dirawat di Rumah Sakit!
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Pemerintah Bahas Penambahan Kuota Program Magang Nasional 2026–2027 untuk Tingkatkan Kualitas Tenaga Kerja
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Terduga Pelaku Penembakan Acara Trump di Washington Ditangkap | KOMPAS SIANG
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Program MBG Dongkrak Ekonomi Nelayan Kaur, 1,5 Ton Tuna Diserap Tiap Bulan
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
Sensasi di Jerez! Pembalap Indonesia Kiandra Ramadhipa Juara Usai Start dari Posisi 17
• 15 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.