Kenaikan harga kemasan plastik kini mendorong lonjakan harga minyak goreng premium dan curah, termasuk yang digunakan untuk industri pangan di dalam negeri. Dua jenis minyak goreng ini harganya bergerak mengikuti mekanisme pasar.
Dalam periode Januari 2026 hingga minggu ketiga April 2026, harga MGS premium naik dari Rp 21.166 per liter menjadi Rp 21.793 per liter. Sementara itu, harga MGS curah meningkat dari Rp 17.790 per liter menjadi Rp 19.486 per liter.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung, menjelaskan bahwa tekanan tersebut berawal dari perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang memicu kenaikan harga energi fosil global.
Penutupan Selat Hormuz turut memperparah kondisi dengan mengganggu pasokan bahan baku, sehingga harga produk turunan energi fosil seperti plastik ikut melonjak.
"Harga energi fosil dunia meningkat dari sekitar USD 60 per barel sebelum perang menjadi lebih dari USD 110 per barel. Akibatnya, semua produk turunan dari energi fosil seperti plastik mengalami kenaikan," katanya dalam keterangan resmi, Senin (27/4).
Di sisi lain, menurut Tungkot, minyak goreng bersubsidi MinyaKita justru mengalami penurunan harga pada periode yang sama, dari Rp 16.865 menjadi Rp 15.949 per liter, mendekati harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 15.700 per liter.
"Hal yang menarik, harga MGS Minyakita pada periode yang sama justru turun dari Rp 16.865 menjadi Rp 15.949 per liter, mendekati HET Rp 15.700 per liter," sebutnya.
Menurut Tungkot, perbedaan ini terjadi karena mekanisme penentuan harga yang berbeda. Segmen premium dan curah, termasuk untuk kebutuhan industri pangan, lebih sensitif terhadap kenaikan biaya seperti kemasan plastik.
"Harga dan ketersediaan MGS MinyaKita ini dikendalikan pemerintah melalui kebijakan DMO (domestic market obligation), pengendalian penyaluran (D1, D2), dan HET (harga eceran tertinggi)," ujarnya.
Ia mengingatkan, keberlanjutan stabilitas harga minyak goreng, terutama di segmen subsidi, akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah ke depan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
"Namun apakah harga MGS MinyaKita dapat dipertahankan ke depan dengan kenaikan harga kemasan plastik? Ini tergantung pemerintah apakah akan akomodatif dengan perubahan harga kemasan dalam HET," tuturnya.





