Menjaga Nyala Industri Mebel dan Furnitur Dalam Negeri

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Ketidakpastian geopolitik mendorong pergeseran konsentrasi rantai pasok. Dalam situasi ini, industri furnitur Indonesia dinilai menempati posisi strategis sebagai basis produksi sekaligus tujuan utama dari pergeseran rantai pasok global tersebut.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Maret 2026 mengingatkan bahwa konflik yang berlarut-larut di Timur Tengah akan mengakibatkan perlambatan perdagangan barang global tahun ini, dari baseline 1,9 persen menjadi sekitar 1,4 persen. Di sisi lain, WTO mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, pertumbuhan ekspor Asia menjadi motor penggerak utama perdagangan dunia. Pada tahun 2026, sebagian ekonomi Asia diprediksi mulai menyesuaikan arah menuju pasar negara-negara berkembang yang tumbuh lebih pesat.

Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengemukakan, pasar mebel dan furnitur pada tahun 2026 bergerak dalam situasi yang kompleks. Tantangan utamanya berasal dari kombinasi ketegangan geopolitik, kenaikan biaya energi dan logistik, ketidakpastian kebijakan perdagangan, serta perlambatan pertumbuhan di sejumlah pasar besar.

Meski demikian, ketegangan geopolitik juga membuka peluang baru. Saat ini muncul tren pembeli (buyer) global yang mulai meninjau ulang konsentrasi rantai pasok mereka agar tidak terlalu bergantung pada satu negara atau satu koridor logistik. Hal ini membuka ruang bagi Indonesia untuk tampil sebagai basis produksi mebel dan furnitur, terutama untuk produk bernilai tambah yang memiliki karakter desain kuat.

”Indonesia harus membaca kondisi geopolitik sebagai momentum. Jika industri mampu meningkatkan efisiensi, menjaga mutu, memperkuat branding, dan pada saat yang sama pemerintah serius membangun pasar domestik yang sehat, maka sektor mebel dan furnitur nasional tidak hanya bisa bertahan, tetapi bisa naik kelas,” ujar Abdul saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Strategi industri

Ketergantungan industri mebel dan furnitur terhadap bahan baku plastik yang harganya melonjak akibat hambatan logistik dapat dikurangi dengan mengoptimalkan material unggulan Indonesia, seperti kayu, rotan, dan bambu. Terlebih, di pasar global, tren pemakaian bahan berbasis alam yang berkelanjutan semakin kuat.

”Kita punya keunggulan pada material natural seperti kayu, rotan, bahkan kombinasi dengan logam atau tekstil. Ini tidak hanya menjadi solusi terhadap kenaikan harga plastik, tetapi justru memperkuat Indonesia sebagai produsen produk berbasis alam yang berkelanjutan,” katanya.

Untuk menggarap peluang pasar tahun ini, lanjut Abdul, industri mebel dan furnitur perlu bergerak dengan pendekatan ganda: menjaga pasar ekspor dan menggarap pasar domestik secara lebih serius. Pasar ekspor harus dipertahankan dengan target prioritas yang lebih tajam, yakni pembeli berkualitas, pasar yang lebih resilien, serta produk bernilai tambah tinggi.

Baca JugaIndustri Furnitur Terhambat Ekosistem Usaha

Sementara itu, pasar domestik perlu digarap lebih serius sebagai bantalan pertumbuhan. Di saat ekspor mengalami guncangan, pasar dalam negeri bisa menjadi penopang utilisasi kapasitas industri sekaligus menjaga arus kas perusahaan. Sinyal permintaan domestik dinilai masih terus ada. Namun, industri perlu bergeser dari pola pikir komoditas ke arah produk bernilai tambah.

”Indonesia tidak akan menang bila hanya bermain di harga murah. Kekuatan kita ada pada keahlian, material alami, desain, fleksibilitas produksi, dan cerita budaya. Jadi yang harus dijual bukan sekadar kursi atau meja, melainkan identitas, kualitas, dan keunikan yang sulit ditiru,” kata Abdul.

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Maret 2026 menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di level optimistis, yakni 122,9. Penjualan eceran Maret 2026 juga ditaksir tumbuh 9,3 persen secara bulanan, menandakan konsumsi rumah tangga tetap bergerak. Dari sisi properti, BI mencatat penjualan properti residensial primer pada triwulan IV (Oktober-Desember) 2025 tumbuh 7,83 persen secara tahunan (year-on-year), terutama pada rumah tipe kecil dan menengah.

Menurut Abdul, kepercayaan konsumen dan pasar residensial yang masih bertumbuh menjadi landasan kuat untuk memperdalam penetrasi produk nasional. Namun, penguatan pasar domestik ini memerlukan dukungan program nasional terkait penggunaan furnitur dalam negeri, khususnya untuk sektor pendidikan, kesehatan, perkantoran, dan perumahan.

Masih menjanjikan

Optimisme di pasar furnitur juga dirasakan oleh produsen furnitur PT Chitose Internasional Tbk. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 8 persen menjadi Rp 560 miliar pada 2026. Sementara itu, laba bersih ditargetkan mencapai Rp 35 miliar atau naik 5 persen secara tahunan. Salah satu strategi andalannya adalah menggarap diversifikasi pasar serta memperkuat penetrasi di dalam ataupun luar negeri.

Sepanjang 2025, Chitose Internasional berhasil mencatat penjualan bersih senilai Rp 519 miliar atau tumbuh 12,3 persen secara tahunan, dengan laba bersih tercatat sebesar Rp 33,4 miliar. Penjualan tersebut didominasi oleh pasar dalam negeri, sementara porsi pasar ekspor menyumbang 7 persen dari total penjualan dengan tujuan utama Jepang dan Malaysia.

Menurut Direktur Chitose Internasional Susanto, pasar furnitur masih sangat menjanjikan dan ketegangan geopolitik justru membuka peluang pasar yang baru. Upaya penetrasi perseroan ke pasar luar negeri sukses mendatangkan pemesanan produk baru dari Jepang. Pihaknya kini juga tengah bernegosiasi dengan sejumlah negara lain untuk memperluas jangkauan pasar.

Baca JugaIndustri Mebel Jadi Tumpuan Ekspor

Perseroan akan menggarap peluang pasar dengan berfokus pada bisnis inti, yakni furnitur untuk segmen pendidikan, perkantoran, serta hotel, restoran, dan MICE (pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran). Selain itu, Chitose juga memperluas diversifikasi produk ke segmen fasilitas kesehatan.

Susanto menambahkan, diversifikasi produk ini akan memperkuat segmentasi pasar. Di segmen kesehatan, misalnya, perseroan menghadirkan ranjang dan kursi ruang tunggu untuk rumah sakit. Kebutuhan fasilitas kesehatan dinilai masih sangat besar dan belum sebanding dengan jumlah populasi penduduk Indonesia.

”Dominasi pasar dalam negeri terus diperkuat melalui segmentasi produk,” ujarnya dalam konferensi pers paparan publik di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (22/4/2026).

Ketegangan geopolitik turut memicu lonjakan harga bahan baku plastik hingga 45 persen. Untuk menyiasati kendala tersebut, perseroan menerapkan strategi penggunaan bahan baku yang lebih bervariasi. Sebagian material plastik dialihkan ke kayu guna menekan biaya produksi, diiringi dengan simplifikasi penggunaan komponen plastik demi efisiensi.

Direktur Chitose Internasional R Nurwulan K memaparkan, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini senilai Rp 5 miliar. Dana ini diprioritaskan untuk revitalisasi permesinan, otomasi, dan pembelian mesin guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas operasional.

Ia menilai, pengembangan industri furnitur dalam negeri turut ditopang oleh regulasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang mendorong pemakaian produk dan sumber daya lokal. Pihaknya berharap pemerintah konsisten menjaga kebijakan TKDN agar terus memacu strategi nilai tambah produk, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan peluang bisnis yang berkelanjutan.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, secara terpisah, pada Kamis (23/4/2026), menuturkan, kebijakan TKDN efektif memperkuat keterlibatan para pemasok, distributor, hingga rantai pasok furnitur dalam negeri. Indonesia memiliki kekuatan pasokan kayu dan rotan yang melimpah sehingga kombinasi kedua bahan baku tersebut dapat menekan ketergantungan industri pada material impor.

Di sisi lain, industri furnitur padat karya harus terus memacu daya saing produknya. Mengingat sebagian besar pelaku industri furnitur masih berskala kecil dan menengah, perluasan produksi wajib ditopang oleh adopsi teknologi tinggi serta dukungan fasilitas dan efisiensi logistik dari pemerintah. Hal ini krusial agar produk lokal mampu bertahan dari gempuran barang impor.

”Industri furnitur yang padat karya memerlukan skema dukungan yang spesifik, seperti bantuan logistik untuk menekan biaya. Pemerintah perlu turun tangan membantu efisiensi logistik dalam negeri agar produk furnitur lokal bisa benar-benar berdaya saing,” ucapnya. 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rupiah Menguat ke 17.211, Kondisi Fiskal RI di Tengah Geopolitik Timur Tengah Jadi Sorotan
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Cek Harga Emas Pegadaian dan Antam di Awal Pekan
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Intip Proyeksi Harga Minyak Dunia Pekan Ini
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Respons Gapki Atas Ancaman Karhutla Akibat Kemarau Ekstrem
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
13 Orang Jadi Tersangka Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta
• 23 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.