Pantau - Nilai tukar rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin seiring gagalnya negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia.
Sentimen Global Tekan RupiahAnalis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan kegagalan perundingan tersebut menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah di pasar keuangan.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS seiring gagalnya putaran kedua negosiasi perdamaian AS–Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dan menguatkan dolar AS,” katanya.
Ia menjelaskan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong pelaku pasar mengambil sikap risk-off sehingga aliran dana cenderung berpindah ke aset aman seperti dolar AS.
Faktor Domestik dan Proyeksi KursDari dalam negeri, sentimen dinilai masih lemah akibat kondisi defisit anggaran serta belum adanya sinyal kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia.
“Walau demikian, seperti yg disampaikan pada hari Kamis (23/4), BI akan meningkatkan intensitas intervensi untuk mendukung rupiah,” ucap Lukman.
Pada perdagangan pagi, rupiah sempat menguat 18 poin menjadi Rp17.211 per dolar AS, namun tekanan eksternal diperkirakan masih dominan dalam pergerakan selanjutnya.
Berdasarkan kondisi tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS dalam jangka pendek.




