IHSG naik ke level 7182 pada pembukaan perdagangan Senin, 27 April 2029. Kenaikan IHSG juga diikuti dengan kenaikan indeks utama seperti LQ45 dan JII.
Indeks LQ45 naik 0,33 persen dengan berada pada level 692. JII naik dengan berada pada level 487. Saham INCO, BRPT, BREN, NCKL dan SCMA, MBMA, AMMN menjadi deretan teratas penopang IHSG.
Baca juga: Purbaya Yakin IHSG Bisa Tembus 10.000, Ini Alasannya!
Pada perdagangan kemarin iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) melemah 2,41%. Namun Emerging Markets ETF (EEM) naik 2,23%, mencerminkan tekanan yang lebih spesifik ke aset Indonesia.
Tekanan di pasar Indonesia juga terlihat dari meningkatnya indikator risiko negara. Indo CDS 5 tahun melonjak 7,68% ke 88,96 yang menandakan premi risiko surat utang Indonesia naik. Imbal hasil Surat Utang Negara tenor 10 tahun juga naik ke 6,7488%.
Di pasar valas, rupiah kembali tertekan ke Rp17.229 per dolar AS, sementara kurs JISDOR berada di Rp17.278 per dolar AS. Pelemahan rupiah dan kenaikan CDS terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS yang justru turun 0,24% ke 98,53.
Kondisi ini menunjukkan tekanan domestik lebih dipengaruhi faktor internal dibanding sentimen global. Bursa Saham Global Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada akhir pekan, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencetak rekor baru, didorong optimisme investor atas potensi dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran, serta penguatan saham teknologi termasuk Intel.
Nasdaq melesat 1,63% ke 24.837, sementara S&P 500 naik 0,80% ke 7.165. Adapun Dow Jones terkoreksi tipis 0,16% ke 49.231.
Sentimen risk-on di Wall Street juga tercermin dari turunnya VIX atau indeks volatilitas sebesar 3,11% ke level 18,71, menandakan kekhawatiran pasar global cenderung mereda.
Di Asia, pergerakan bursa cenderung mixed. Nikkei Jepang menguat 0,97%, Hang Seng naik 0,24%, sementara Shanghai Composite turun 0,33%.
Dari pasar obligasi global, yield US Treasury cenderung turun. Imbal hasil tenor 2 tahun turun ke 3,776%, tenor 5 tahun ke 3,920%, dan tenor 10 tahun ke 4,310%. Penurunan yield ini biasanya mendukung aset berisiko.
Sementara itu, harga minyak terkoreksi. WTI turun 1,51% ke USD94,40 per barel dan Brent turun 0,59% ke USD105,33 per barel. Sebaliknya, logam mulia bergerak menguat. Emas Comex naik 0,38% ke USD4.740,90, sementara harga spot emas bertambah 0,33% ke USD4.709,50. Nikel melonjak 2,26% dan perak naik 1,16%.
Untuk komoditas domestik dan regional, CPO kontrak Juli di Bursa Malaysia naik 0,35% ke 4.595 ringgit per ton.
Secara keseluruhan, pasar global menunjukkan sentimen yang relatif konstruktif, tetapi Indonesia menghadapi tekanan tersendiri, terlihat dari pelemahan tajam ekuitas, rupiah, dan kenaikan premi risiko negara. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar menjelang pembukaan perdagangan pekan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





