Terjebak di Selat Hormuz Selama 53 Hari, Sejumlah Awak Kapal Tiongkok Alami Gangguan Mental

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Akibat blokade di Selat Hormuz, sejumlah besar kapal terjebak di Teluk Persia. Salah satu kapal kargo Tiongkok yang mengangkut mobil produksi dalam negeri telah terjebak selama 53 hari. Sebanyak 20 awak kapal Tiongkok di atasnya hidup dalam ketakutan ekstrim setiap hari. Bahkan, ada beberapa di antaranya mengalami gangguan mental.

Kapal yang dijuluki sebagai “tempat parkir raksasa di laut” ini berangkat dari Tiongkok pada 28 Februari dengan tujuan awal Dubai. Namun pada hari yang sama, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran, sehingga situasi di Timur Tengah dengan cepat memanas. Selat Hormuz kemudian ditutup, dan banyak kapal terpaksa tertahan di laut.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur transportasi energi terpenting di dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati selat ini. Organisasi Maritim Internasional memperkirakan sekitar 20.000 pelaut saat ini terjebak di perairan sekitar Selat Hormuz. Karena perbedaan metode perhitungan, jumlah kapal yang terdampak diperkirakan antara 2.000 hingga 3.200 unit.

Pada 17 April, Presiden AS Trump sempat menyatakan bahwa selat telah dibuka, sehingga kapal-kapal yang terjebak segera mengangkat jangkar untuk melintas. Namun, tak lama setelah bergerak, kapal-kapal tersebut dipaksa kembali oleh Iran, dan selat kembali ditutup.

Seorang awak kapal bermarga Lin mengenang bahwa perasaannya saat itu “jatuh dari langit ke bumi”. Ia mengatakan masa paling sulit adalah saat terjebak selama satu bulan—semua orang bahkan tidak punya tenaga untuk mengeluh, hanya bisa duduk termenung di haluan kapal. Laut dipenuhi kapal-kapal yang terjebak, tampak seperti “sekumpulan ikan yang menunggu mati”.

Yang lebih buruk, komunikasi sangat tidak stabil, sehingga hubungan dengan keluarga sering terputus-putus.

Seiring waktu, kondisi hidup di kapal semakin memburuk. Air tawar dan makanan segar semakin menipis, sementara harga logistik terus melonjak. Beberapa kapal mulai melakukan pembatasan makanan, bahkan ada yang bertahan hidup dengan memancing di lautan.

Seorang awak kapal mengungkapkan bahwa saat ini satu kotak berisi 12 botol air mineral dijual seharga 14 dolar AS, satu kilogram daging babi 20 dolar, satu kilogram kubis 9 dolar, dan satu kilogram mangga mencapai 34 dolar.

Selain itu, tekanan psikologis akibat situasi tegang berkepanjangan sangat besar. Para awak kini tidak lagi menganggap turun dari kapal sebagai hal yang pasti. Bahkan ada yang menyebut kapal-kapal yang terjebak itu sebagai “penjara terapung”.

Lin mengungkapkan bahwa sejak sebulan terjebak, kondisi mental para awak sudah mulai tidak stabil. Kini, beberapa orang mengalami gangguan serius dan harus diawasi secara bergiliran oleh rekan-rekannya.

Ia juga mengatakan bahwa setiap bangun tidur, hal pertama yang ia lakukan adalah menyentuh jaket pelampung di sampingnya.

Menurutnya, suara rudal yang sesekali terdengar di atas kepala membuat semua orang terus hidup dalam ketakutan.

Meski demikian, Lin mengatakan ia tetap akan memilih bekerja sebagai pelaut. Ia menjelaskan bahwa pekerjaan ini memberinya penghasilan tertinggi yang bisa ia dapatkan, sementara kondisi keluarganya khusus—anaknya membutuhkan perawatan seumur hidup. 

“Saya hanya bisa menukar nyawa dengan uang,” katanya. (Hui)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
30 Ribu Jemaah Haji Tiba di Madinah
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
KPAI Soroti 3 Unsur dalam Kasus Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta: Proses Hukumnya Harus Cepat
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Gandeng CATL dengan Investasi Rp1,3 Triliun, Toyota Siap Produksi Baterai Mobil Hybrid di Indonesia
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Brimob Polda Metro Bantu Padamkan Kebakaran Warkop di Jaktim
• 1 jam laludetik.com
thumb
Sebuah Story yang Membuat Saya Bercermin Sebagai Seorang Ibu dan Guru
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.