Pemerintah mendorong kampus mengevaluasi program studi (prodi) agar lebih sesuai kebutuhan industri. Di tengah dorongan itu, riset Microsoft menunjukkan sejumlah pekerjaan berisiko tinggi terdampak AI.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengajak perguruan tinggi memilah atau bahkan menutup program studi (prodi) yang kurang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja ke depan.
“Bapak rektor yang ada di sini semuanya, ada kerelaan, nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait prodi-prodi. perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Kabupaten Badung, Bali, Kamis (23/4).
Ia menjelaskan, langkah ini dilakukan pemerintah untuk menekan ketidakcocokan antara lulusan perguruan tinggi dengan industri.
Kemendiktisaintek mencatat setiap tahun kampus meluluskan 1,9 juta generasi muda terdiri dari 1,7 juta sarjana dan sisanya diploma.
Saat ini banyak kampus yang melakukan strategi market driven atau membuka prodi sesuai jurusan yang sedang laris oleh para calon mahasiswa.
“Akibatnya kelebihan suplai di situ, saya bisa mengecek juga, misalnya pada 2028 itu sebenarnya kita kelebihan suplai dokter. Kalau misalnya ini dibiarkan, apalagi terjadi mal-distribusi, tidak keseimbangan distribusi di masing-masing daerah,” kata Badri.
Selain itu, Kemdiktisaintek menemukan tiap tahun jurusan keguruan atau kependidikan mewisuda 490 ribu lulusan, sementara pasar calon guru 20 ribu orang, sehingga sisanya menjadi pengangguran terdidik.
Oleh karena itu, ia mengajak perguruan tinggi, terutama anggota Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTKP) membantu dalam menyusun kajian prodi yang masih relevan. PTKP dibentuk oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemenedukbangga) /BKKBN.
Daftar Pekerjaan yang Digantikan AITerkait penyesuaian prodi dengan kebutuhan industri, Microsoft merilis daftar 40 pekerjaan yang bisa digantikan AI dan 40 yang tidak tergantikan. Salah satu jenis pekerjaan yang sulit digantikan oleh kecerdasan buatan yakni pengemudi truk jarak jauh.
Beberapa contoh pekerjaan yang bisa digantikan AI dalam studi Microsoft bertajuk ‘Working with AI: Measuring the Occupational Implications of Generative AI’ misalnya, sejarawan, penulis buku, pelayanan pelanggan, dan penyiar siaran.
Berikut daftar pekerjaan yang digantikan AI menurut studi Microsoft:
Data cakupan dan penyelesaian merujuk pada penggunaan platform AI buatan Microsoft Copilot dalam pekerjaan. Skor penilaian menunjukkan hasil pekerjaan AI. Sementara itu, jumlah pekerja merujuk pada data di Amerika Serikat.
Antropolog digital Giles Crouch mengatakan percakapan seputar AI mengalihkan fokus dari hilangnya pekerjaan. Ia menggunakan perangkat AI setiap hari, tetapi tidak untuk menggantikan tulisannya sendiri.
"Saya tidak pernah menggunakan AI untuk menulis," kata Crouch dikutip dari CTVNews, pada pertengahan tahun lalu (24/7/2025). "Tetapi saya menggunakannya untuk membantu saya berpikir, dan antropologi memiliki begitu banyak pengetahuan, jadi saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kami seperti berbincang-bincang, dan itu membantu saya menciptakan konten dan menulis."
AI telah menggantikan beberapa pekerjaan dan kemungkinan akan menggantikan yang lain, tetapi Crouch mengatakan langit tidak akan runtuh.
"Perbincangan telah beralih dari ketakutan akan hilangnya pekerjaan besar-besaran menjadi ‘bagaimana kita bisa mendapatkan manfaat nyata dari perangkat-perangkat ini? Bagaimana AI akan meningkatkan pekerjaan kita?" kata dia.
Perkembangan AI membuat kebutuhan dunia kerja berubah lebih cepat dibanding kurikulum pendidikan tinggi. Di Indonesia, pemerintah kini mendorong kampus mengevaluasi prodi, tidak lagi hanya berdasarkan jumlah peminat, tetapi juga kemampuan lulusan beradaptasi dengan perubahan industri.




