FAJAR, JEREZ — Performa Veda Ega Pratama di seri Moto3 World Championship Spanyol 2026 di Circuito de Jerez bukan sekadar hasil balapan biasa. Dari posisi start ke-17 hingga finis di urutan keenam, ia menghadirkan narasi tentang keberanian, kecerdasan balap, dan kematangan yang mulai mengarah ke level lebih tinggi—bahkan sudah mulai terasa “beraroma MotoGP”.
Sejak awal balapan, Veda langsung memperlihatkan instingnya. Start bersih menjadi kunci pertama, membuatnya langsung melesat dan bergabung dengan rombongan tengah. Dalam beberapa tikungan awal saja, ia sudah memangkas jarak dari barisan belakang—sebuah hal yang krusial di kelas Moto3 yang terkenal padat dan agresif.
Bukan hanya soal kecepatan, tetapi cara ia membangun balapan juga mencuri perhatian. Ia tidak terburu-buru. Setiap overtake dilakukan dengan perhitungan, setiap celah dimanfaatkan tanpa berlebihan. Dalam waktu singkat, Veda sudah berada di grup 10 besar—sebuah pencapaian yang mengubah arah balapan secara drastis.
Dalam pernyataannya, Veda sendiri mengakui bagaimana ia membangun ritme sejak awal:
“Ini adalah balapan yang sangat positif bagi saya. Saya melakukan start yang baik dan saya dapat langsung bergabung dengan grup yang berjuang di dalam 10 besar.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan fondasi performanya: start yang efektif dan kemampuan langsung menyatu dengan grup kompetitif.
Memasuki pertengahan balapan, performa Veda mencapai titik puncak. Ia bahkan sempat menembus posisi lima besar—bersaing langsung dengan nama-nama papan atas seperti Alvaro Carpe. Di fase ini, terlihat jelas bahwa ia tidak hanya “ikut arus”, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pertarungan di depan.
Yang membuatnya menonjol adalah kemampuannya membaca situasi. Di tengah balapan yang penuh slipstream dan perubahan posisi cepat, Veda mampu memilih momen dengan presisi. Ia tahu kapan harus menyerang, kapan harus bertahan. Ini adalah kualitas yang biasanya dimiliki pembalap dengan jam terbang tinggi.
Ia sendiri menegaskan pendekatan tersebut:
“Dari sana saya mencoba untuk mengelola balapan selangkah demi selangkah dan tetap konsisten.”
Konsistensi inilah yang menjadi pembeda. Banyak pembalap muda cepat dalam satu atau dua lap, tetapi tidak semua mampu menjaga ritme sepanjang balapan. Veda menunjukkan bahwa ia mulai menguasai aspek ini.
Namun seperti balapan Moto3 pada umumnya, ujian terbesar datang di lap-lap akhir. Ketika grip mulai menurun dan tekanan meningkat, detail kecil menjadi penentu. Dalam kasus Veda, masalah mulai muncul dari performa ban belakang.
Ia mengungkapkan secara jujur kendala yang dihadapinya:
“Di bagian akhir, saya mulai merasakan penurunan performa ban belakang, jadi tidak mudah untuk mempertahankan kecepatan yang sama, tetapi saya mencoba mengendalikannya sebisa mungkin.”
Kondisi ini membuatnya sedikit kehilangan keunggulan. Di tikungan terakhir, ia harus rela disalip kembali oleh Carpe dan turun ke posisi keenam. Meski begitu, hasil tersebut tetap menjadi salah satu performa paling impresif di balapan tersebut.
Di depan, kemenangan diraih oleh Maximo Quiles, tetapi cerita balapan tidak hanya milik podium. Justru, perjalanan Veda dari posisi ke-17 hingga hampir menyentuh lima besar menjadi salah satu highlight utama.
Lebih dari sekadar posisi akhir, performa ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: evolusi seorang pembalap. Jika sebelumnya Veda kerap menunjukkan kecepatan, kini ia mulai melengkapinya dengan manajemen balapan dan kontrol emosi.
Hal ini juga menjadi pembuktian setelah hasil kurang maksimal di seri sebelumnya di Austin. Di Jerez, ia tidak hanya bangkit, tetapi melakukannya dengan cara yang meyakinkan.
“Finis di posisi ke-6 setelah memulai dari posisi ke-17 adalah hasil yang sangat bagus, terutama di balapan pertama saya di Jerez,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa hasil ini bukan hanya soal angka, tetapi juga pengalaman. Jerez adalah lintasan baru baginya di level Moto3, dan ia mampu beradaptasi dengan cepat.
Kini, fokusnya langsung beralih ke seri berikutnya di Le Mans. Dengan momentum yang dimiliki, ekspektasi terhadapnya tentu akan meningkat. Namun Veda tampak memahami bahwa perjalanan ini masih panjang.
“Masih ada hal-hal yang perlu ditingkatkan, tetapi saya mengambil semua pelajaran dari akhir pekan ini dan saya sudah menantikan Le Mans.”
Kalimat tersebut mencerminkan mentalitas yang tepat—tidak cepat puas, tetapi juga tidak kehilangan kepercayaan diri.
Jika melihat keseluruhan performa di Jerez, satu hal menjadi jelas: Veda Ega Pratama tidak lagi sekadar pembalap muda yang “menjanjikan”. Ia mulai menunjukkan paket lengkap yang dibutuhkan untuk naik ke level berikutnya.
Manuvernya tajam, ritmenya stabil, dan pengambilan keputusannya semakin matang. Dalam banyak momen, gaya balapnya bahkan mulai menyerupai karakter pembalap di kelas yang lebih tinggi.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, terasa bahwa langkah menuju MotoGP bukan lagi mimpi yang terlalu jauh.





