JAKARTA, DISWAY.ID - Muncul wacana di masyarakat pemerintah akan menutup program studi atau prodi di sejumlah kampus.
Prodi-prodi yang ditutup adalah prodi yang dianggap tak relevan dengan kebutuhan saat ini.
Menanggapi hal ini, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan sekaligus penggagas Indonesia Mengajar menyoroti wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Menurutnya ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang.
Sambil menunggu informasi lengkapnya, ia menyoroti tentang paradigma ilmu murni.
BACA JUGA:Keren! 5 Prodi Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Jakarta Kantongi Akreditasi Internasional, Ini Daftarnya
Apa itu Ilmu Murni?Menurut Anies, ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik.
Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri.
Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal.
Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
BACA JUGA:Biaya Kuliah Teknik Pertambangan ITB, Prodi Mahasiswa Nyanyikan Lagu Erika yang Dinilai Lecehkan Perempuan
“Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja,” jelasnya.
Ia menegaskan kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek.
“Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya,” kata Anies.
Menurut Anies, negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka.
- 1
- 2
- »




