JAKARTA, KOMPAS.TV - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti tingginya kerentanan remaja Indonesia terhadap masalah kesehatan mental, termasuk depresi, melalui kegiatan edukatif bertajuk bedah buku “Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis bagi First Aider di Sekolah”.
Program ini menyasar siswa jenjang SMP dan SMA guna meningkatkan literasi sekaligus keterampilan dasar dalam merespons persoalan kesehatan jiwa di lingkungan sekolah.
Kegiatan tersebut digelar di Aula Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi, Jakarta, Kamis (23/4/2026), dan menjadi bagian dari strategi promotif serta preventif pemerintah dalam menghadapi meningkatnya kasus gangguan mental pada usia remaja.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan, luka psikologis kerap tidak kasatmata, namun dampaknya bisa jauh lebih serius dibanding luka fisik jika diabaikan.
Baca Juga: Kemenkes Sebut Kebutaan Akibat Katarak di Indonesia Capai 650 Ribu Kasus Sepanjang 2025
“Kalau teman kita jatuh saat bermain, kita langsung bantu karena lukanya terlihat. Tapi bagaimana jika yang terluka adalah perasaan? Sering kali kita diam, bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak tahu harus berbuat apa,” ujar Dante dalam acara tersebut, dikutip dari siaran pers Kemenkes.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi realitas yang banyak terjadi di kalangan pelajar yakni masalah mental sering tersembunyi di balik perilaku yang tampak normal.
Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022 menunjukkan sekitar satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir.
Bahkan, gejala depresi dan kecemasan pada remaja tercatat hampir lima kali lebih tinggi dibanding kelompok usia dewasa.
Artinya, dalam satu ruang kelas, ada kemungkinan besar beberapa siswa tengah berjuang menghadapi tekanan psikologis tanpa diketahui orang di sekitarnya.
Menurut Dante, salah satu pendekatan yang paling relevan untuk menjangkau remaja adalah melalui lingkungan terdekat mereka, yakni teman sebaya. Namun, banyak siswa belum memiliki bekal pengetahuan untuk memberikan respons yang tepat.
Baca Juga: Kemenkes: Batas Waktu Masak MBG hingga Distribusi 4 Jam untuk Cegah Bakteri
Di sinilah konsep “pertolongan pertama pada luka psikologis” menjadi penting.
Keterampilan ini tidak menuntut keahlian klinis, melainkan berfokus pada empati, kepekaan, dan keberanian untuk hadir.
“Kalian tidak harus jadi ahli. Cukup jadi manusia yang peduli. Mau mendengarkan tanpa menghakimi, memahami sebelum menilai, dan berani berkata: kamu tidak sendirian,” ucapnya.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- remaja rentan depresi
- kesehatan mental remaja
- depresi pada remaja Indonesia
- pencegahan depresi remaja
- remaja depresi
- pertolongan pertama pada luka psikologis





