JAKARTA, KOMPAS - Partikel plastik yang tak kasat mata kini tak hanya mencemari laut dan udara tetapi juga telah menembus organ vital manusia. Mikroplastik dan nanoplastik juga ditemukan di hati, organ yang selama ini menjadi benteng utama detoksifikasi tubuh. Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap lonjakan penyakit hati secara global.
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology edisi April 2026 mengungkap bahaya dari cemaran mikroplastik dan nanoplastik ke dalam hati. Penelitian ini dilakukan tim dari Center of Environmental Hepatology dari Universitas Plymouth.
Penulis utama artikel ini Shilpa Chokshi, Profesor Hepatologi Eksperimental Universitas Plymouth telah mendorong penelitian untuk mengembangkan terapi untuk penyakit hati kronis selama lebih dari dua dekade. ”"Penyakit hati meningkat secara global dan sekarang bertanggung jawab atas satu dari 25 kematian di seluruh dunia,” kata dia, dalam keterangan yang dirilis kampusnya pada Senin (28/4/2026).
Ia mengatakan faktor risiko penyakit hati yang sudah mapan seperti obesitas dan penggunaan alkohol yang berbahaya tetap perlu diperhatikan. Namun, faktor-faktor tersebut tidak sepenuhnya menjelaskan skala atau laju peningkatan ini,
Lonjakan penyakit hati ini telah mendorong Chokshi dan tim mempertimbangkan faktor lingkungan tambahan, termasuk mikro dan nanoplastik, yang dapat berinteraksi dengan proses penyakit yang sudah ada dan memperkuat kerusakan hati. "Sudah ada bukti kuat bahwa plastik dapat menumpuk dan menyebabkan kerusakan pada hati hewan, sehingga menimbulkan pertanyaan penting, mengapa manusia harus berbeda?"
Melalui tinjauan luas terhadap studi yang ada, Chokshi dan tim menyatakan telah menemukan bukti jelas bahwa paparan mikro dan nanoplastik dapat memicu stres oksidatif, fibrogenesis, dan peradangan pada hewan. Ciri-ciri tersebut menyerupai penyakit hati stadium lanjut pada manusia.
Hati yang bertindak sebagai benteng pertahanan utama tubuh, memproses dan mendetoksifikasi semua yang dikonsumsi manusia. Masuknya partikel plastik ke dalam hati memungkinkan pengangkutan patogen mikroba, penentu resistensi antimikroba, bahan kimia pengganggu endokrin, dan zat tambahan karsinogenik ke dalam sistem tubuh manusia.
Sebelumnya, para ilmuwan telah memperkenalkan konsep "cedera hati akibat plastik." Mereka juga menyerukan peningkatan penelitian tentang apakah hal itu dapat mempercepat perkembangan penyakit hati terkait alkohol dan disfungsi metabolik yang terkait dengan penyakit hati steatosis, yang memengaruhi lebih dari satu dari tiga orang di seluruh dunia.
Dalam tinjauan terbaru ini, Chokshi dan tim telah menyoroti hambatan metodologis yang kritis, kesenjangan pengetahuan utama, dan prioritas penelitian yang belum terpenuhi, serta sejumlah tantangan teknis yang saat ini menghambat pencarian bukti lebih lanjut tentang kerusakan hati akibat plastik.
Mereka juga telah memberikan penilaian rinci tentang penelitian prioritas yang diperlukan untuk sepenuhnya mengukur efek mikroplastik dan nanoplastik pada hati, dan mereka menekankan pentingnya para ahli kesehatan dan lingkungan bekerja bersama untuk mengatasi hal tersebut.
Polusi plastik, tanpa diragukan lagi, merupakan tantangan lingkungan dan kesehatan global.
Sebelumnya, semakin banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa partikel plastik masuk ke organ tubuh manusia, termasuk hati. Bahkan ada indikasi konsentrasi meningkat dari waktu ke waktu, seperti dilaporkan dalam studi Matthew Campen dan tim di jurnal Nature Medicine pada Februari 2025.
Chokshi menambahkan, "Apa yang ditunjukkan paper ini adalah bahwa kini kita memiliki semakin banyak bukti bahwa plastik dapat menumpuk di jaringan manusia, dan telah dikaitkan dengan berbagai kondisi medis."
Menurut dokter yang elah menghabiskan lebih dari dua dekade mengembangkann terapi untuk penyakit hati, organ hati bertindak sebagai penjaga gerbang tubuh, memproses dan mendetoksifikasi apa yang kita terpapar.
"Di dunia yang semakin dipenuhi plastik, di mana plastik terkait erat dengan makanan, air, dan udara kita, paparan ini tidak hanya dapat mencapai hati tetapi juga berinteraksi dengan proses penyakit yang sudah ada dan memperkuat bahayanya. Jika demikian, ini adalah sesuatu yang perlu kita selidiki secara lebih detail," kata dia.
Batasi produksi plastik
Richard Thompson, Profesor Biologi Kelautan di Universitas Plymouth, turut menulis artikel tersebut. Ia telah menghabiskan tiga dekade terakhir meneliti sumber dan efek mikroplastik serta menyerukan konsensus global untuk mencegah produksi mikroplastik di masa depan.
“Ini adalah bukti lebih lanjut bahwa polusi plastik, tanpa diragukan lagi, merupakan tantangan lingkungan dan kesehatan global,” katanya.
Menurut dia, meskipun masih ada beberapa ketidakpastian tentang tingkat bahaya absolut terhadap hati manusia, fakta bahwa plastik ada dan bukti yang lebih luas tentang bahaya yang disebabkan oleh polusi plastik, memerlukan tindakan mendesak.
“Solusinya tidak diragukan lagi terletak pada memastikan produk plastik yang kita buat memberikan manfaat penting bagi masyarakat. Plastik yang diproduksi harus lebih aman, misalnya, dalam hal komposisi kimianya, dan jauh lebih berkelanjutan, melepaskan lebih sedikit mikro dan nanopartikel daripada yang terjadi saat ini,” kata dia.
Riset sebelumnya di jurnal Nature pada 2025 mengungkap bahwa di dalam plastik terkandung lebih dari 16 ribu jenis bahan kimia, dan lebih dari 4.200 di antaranya berpotensi berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Laporan berjudul "Mapping the chemical complexity of plastics" ini memberi petunjuk tentang peta kimia plastik global, yang selama ini disembunyikan industri.
Kajian ini merupakan hasil kerja kolaboratif para ilmuwan yang selama bertahun-tahun mencoba membongkar misteri isi perut plastik, yang selama ini dilindungi oleh hak paten, rahasia dagang, dan regulasi yang longgar. Laura Monclús, peneliti dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) di Trondheim, Norwegia menjadi penulis pertama laporan ini.
Studi ini mencakup bahan kimia yang sengaja ditambahkan selama produksi dan kontaminan yang terdeteksi dalam plastik. Melalui studi ini, Monclús dan tim menyediakan pendekatan ilmiah untuk mengidentifikasi bahan kimia yang perlu diperhatikan dalam plastik. Hal ini memungkinkan para ilmuwan dan produsen untuk mengembangkan plastik yang lebih aman dan para pembuat kebijakan untuk mendorong ekonomi sirkular yang tidak beracun.





