Ratusan orang tampak berhadap-hadapan dengan aparat kepolisian di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Senin (27/4/2025). Poster tuntutan diangkat, teriakan mereka menggema, hingga aksi saling dorong pecah. Namun, seluruh rangkaian itu merupakan simulasi pengamanan yang digelar Kepolisian Daerah Jawa Tengah.
Sejak pagi, peserta memerankan massa aksi dengan membawa berbagai poster, salah satunya bertuliskan, “Tunjangan Kecantikan Tidak Pernah Naik.” Adegan disusun menyerupai demonstrasi nyata dari penyampaian aspirasi hingga eskalasi kericuhan.
Berbagai satuan dilibatkan dalam latihan ini, mulai dari reserse, sabhara, brimob, hingga tim medis. Skenario yang disusun berjalan bertahap dari negosiasi, peningkatan tensi, hingga pembubaran massa dan penangkapan.
Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Brigadir Jenderal Latif Usman, mengatakan simulasi pengamanan bertujuan memastikan setiap personel memahami peran dan perintah di lapangan. Ia menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam setiap situasi. “Profesionalitas harus dijaga untuk meminimalkan konflik, sekaligus melindungi masyarakat yang menyampaikan pendapat,” ujarnya.
Namun, simulasi yang berlangsung ini juga mengingatkan publik atas penanganan demonstrasi yang berujung kekerasan. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) mencatat, dalam gelombang aksi 25–31 Agustus 2025, sebanyak 3.337 orang ditangkap dan 10 orang meninggal dunia.
Di sejumlah kota, termasuk Semarang, aparat dinilai bertindak represif. Penangkapan pelajar dan mahasiswa, serta dugaan kekerasan dan intimidasi, menjadi sorotan. Kasus meninggalnya mahasiswa Universitas Negeri Semarang, Iko Juliant Junior, bahkan memunculkan pertanyaan publik karena dinilai janggal.
Dalam simulasi, bentrokan menjadi puncak adegan. Lemparan benda, dorongan, hingga kontak fisik diperagakan mendekati kondisi lapangan. Pasukan pengendali massa (Dalmas) kemudian digantikan Brimob yang bergerak dari balik tameng. Meriam air dan gas air mata digunakan sesuai prosedur saat diarahkan ke massa.
Latihan ini digelar menjelang pengamanan Hari Buruh, momen yang kerap diwarnai aksi demonstrasi besar. Di satu sisi, aparat berupaya memperkuat kesiapan. Di sisi lain, publik masih menyimpan ingatan atas cara penanganan aksi yang menuai kritik.





