Persoalan Fiskal dan Rupiah Lebih Menentukan Dinamika Pasar Modal Domestik

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Perubahan komposisi sejumlah indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan hanya memberi dampak terbatas terhadap pergerakan pasar saham dalam waktu dekat. Persoalan struktural, terutama fiskal dan rupiah, akan lebih banyak menentukan sentimen di pasar modal.

Bursa Efek Indonesia (BEI) merombak sejumlah indeks utama untuk periode mulai 4 Mei 2026. Melalui pengumuman resmi per 24 April 2026, BEI melakukan evaluasi besar terhadap sejumlah indeks seperti IDX30, LQ45, dan IDX80. Perubahan ini akan berlaku hingga akhir Juli atau Oktober 2026, tergantung jenis indeks.

Dalam evaluasi IDX30, Bursa Efek Indonesia memasukkan saham baru seperti ADMR (Alamtri Minerals Indonesia Tbk) dan mengeluarkan ISAT (Indosat Tbk) dari indeks.

Baca JugaBREN dan DSSA Berisiko Tergusur dari Indeks Saham Domestik dan Global

Pada LQ45, beberapa saham baru masuk. Di antaranya adalah CUAN (Petrindo Jaya Kreasi Tbk.), DEWA (Darma Henwa Tbk), ESSA (ESSA Industries Indonesia Tbk), HRTA (Hartadinata Abadi Tbk), dan WIFI (Solusi Sinergi Digital Tbk).

Sementara, saham seperti BREN (Barito Renewables Energy Tbk), CTRA (Ciputra Development Tbk), DSSA (Dian Swastatika Sentosa Tbk), HEAL (Medikaloka Hermina Tbk), dan NCKL (Trimegah Bangun Persada Tbk) keluar dari indeks.

Perubahan juga terjadi pada indeks lain seperti IDX80 dan BISNIS-27. Di IDX80, beberapa saham baru seperti BKSL (Sentul City Tbk), CBDK (Citra Buana Prasida Tbk), dan TPIA (Chandra Asri Pacific Tbk) masuk indeks. Sebaliknya, saham seperti BREN (Barito Renewables Energy Tbk) dan DSSA (Dian Swastatika Sentosa Tbk), keluar.

Indeks BISNIS-27 mencatat penambahan sejumlah saham baru seperti AKRA (AKR Corporindo Tbk), BRMS (Bumi Resources Minerals Tbk), dan PGAS (Perusahaan Gas Negara Tbk). Sementara, beberapa emiten besar seperti INDF (Indofood Sukses Makmur Tbk) dan MYOR (Mayora Indah Tbk), keluar.

Dari sisi bobot indeks, saham-saham perbankan besar masih mendominasi. Dalam IDX30 misalnya, bobot saham seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BBRI) tetap berada di level maksimum (15 persen), diikuti BMRI. Kondisi ini juga terlihat pada LQ45, di mana sektor perbankan masih menjadi penggerak utama indeks.

Tim analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), dalam laporan Senin (27/4/2026), menilai, regulasi baru BEI terkait kriteria masuk indeks domestik, kini juga mencakup aspek kepemilikan saham publik atau free float, likuiditas, volume perdagangan, dan parameter lainnya. "Parameter tersebut berpotensi memengaruhi komposisi saham indeks," kata mereka.

Dengan kondisi tersebut, BRIDS menyarankan investor melakukan strategi wait and see atau menunggu kepastian arah pembalikan harga saham komposit atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang lebih valid.

BRIDS menyarankan investor melakukan strategi wait and see atau menunggu kepastian arah pembalikan harga saham komposit.

IHSG pada Senin (27/4), dibuka menguat di 7.158 dibandingkan penutupan bursa, Jumat (24/4), di 7.129. Selama pekan lalu, IHSG melemah 6,61 persen dari posisi awal pekan 7.643 poin.

Namun, BRIDS menilai, kenaikan di awal sesi terlihat kurang solid karena tidak didukung volume transaksi yang besar sehingga IHSG cenderung bergerak lambat di kisaran 7.115 - 7.230. Investor masih memantau perkembangan geopolitik terkait Iran dan Amerika Serikat, serta nilai tukar rupiah yang rentan terhadap tekanan eksternal.

Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, kepada Kompas, menyatakan, rebalancing indeks saham domestik hanya akan memberi dampak yang terbatas terhadap pasar saham.

“Kalau melihat historisnya, rebalancing indeks lokal tidak memberikan dampak besar seperti indeks global. Untuk kinerja satu hingga dua bulan ke depan, saya rasa tidak ada perubahan signifikan,” ujarnya.

Ezaridho menilai, perubahan seperti ini memang bisa memicu pergerakan harga jangka pendek, terutama pada saham yang baru masuk indeks. Namun, perubahan metodologi indeks lebih berdampak pada investor institusi dibandingkan ritel.

Baca JugaIHSG Anjlok 3,38 Persen Imbas Sentimen Global dan Risiko Fiskal RI

“Mereka seperti asset management, dana pensiun, dan investor asing punya aturan internal. Jadi, tidak bisa sembarangan masuk ke saham,” katanya.

Sebaliknya, investor ritel cenderung tidak terlalu memperhatikan perubahan indeks. Mereka lebih fokus pada potensi capital gain atau kenaikan harga saham, terutama pada saham dengan volatilitas tinggi atau konsentrasi kepemilikan besar.

Dibandingkan dengan evaluasi pada indeks bursa dalam negeri, Ezaridho melanjutkan, penilaian emiten domestik pada indeks global lebih banyak jadi faktor penggerak pasar modal dalam negeri. Ini karena penyesuaian indeks asing berpengaruh ke arus dana investor asing yang masih menguasai 37 persen aset kepemilikan asing.

Pada Senin (20/4/2026), lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan tanggapan dan keputusan mereka terhadap langkah transformasi transparansi di pasar modal Indonesia. MSCI mengumumkan pembekuan evaluasi indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026.

Namun, efek MSCI ini dinilai sudah semakin terbatas ke pasar saham. “Pergerakan pasar sudah price-in (sesuai ekspektasi). Kalau ada penundaan lagi, mungkin hanya koreksi ringan,” ujarnya.

Terkait sentimen pasar jangka pendek, ia mengingatkan, risiko utama pasar saat ini justru masih banyak berasal dari domestik, khususnya kebijakan fiskal pemerintah dan tekanan nilai tukar rupiah.

“Belanja pemerintah yang meningkat dan fleksibilitas APBN yang terbatas menjadi perhatian utama. Ditambah pelemahan rupiah, ini bisa menambah volatilitas pasar,” kata Ezaridho.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, dalam laporan tertulis, Senin (27/4/2026), memproyeksikan pergerakan IHSG cenderung bervariasi, dengan kecenderungan melemah, pada pekan akhir April 2026.

Sentimen global yang didominasi aksi risk-off serta tekanan pada nilai tukar rupiah dinilai masih memicu arus keluar dana asing. Pada perdagangan sesi pertama Senin (27/4/2026), investor asing mencatatkan penjualan bersih senilai Rp 1,19 triliun dan dalam lima terakhir sebesar Rp 2,95 triliun di seluruh pasar.

Kondisi ini membuka peluang terjadinya technical rebound atau kenaikan saham dalam jangka pendek dengan penguatan yang terbatas.

Penguatan harga saham diprediksi akan terjadi karena rotasi pembelian saham di sektor tertentu. Sektor saham yang masih berpotensi menjadi penopang utama adalah sektor energi, seiring harga komoditas yang tetap tinggi di tengah tensi geopolitik global.

Selain itu, sektor transportasi dan logistik dinilai relatif lebih berdaya tahan dalam kondisi pasar yang fluktuatif. Sebaliknya, sektor konsumen siklikal dan konglomerasi masih cenderung tertekan oleh sentimen makro. Kondisi harga yang sudah berada di area oversold atau banyak terjual dinilai mulai membuka peluang akumulasi secara bertahap dan selektif.

“Fokus pasar kini tertuju pada pengujian level support (batas bawah) yang krusial di rentang 7.100–7.150. Jika level ini gagal dipertahankan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke area 7.022–7.080 hingga menguji support psikologis di sekitar 6.917,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dudung Abdurachman Ditelepon Seskab Teddy Jelang Reshuffle, Jadi Kepala Staf Presiden?
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Kota Mandiri Jadi Kunci Ekosistem Berkelanjutan
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PGN bukukan pendapatan 929,6 juta dolar AS pada triwulan I 2026
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Polisi Tetapkan 13 Tersangka Kasus Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta | BERUT
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Rekap Hasil AVC Champions League 2026, Minggu 26 April: Nakhon Ratchasima Menang Telak
• 21 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.