El Nino Ancam Jatim, Khofifah Gubernur Minta Semua Daerah Siap Siaga

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur menginstruksikan seluruh elemen pemerintah dan mengajak masyarakat untuk siap siaga menghadapi potensi ancaman kemarau ekstrem yang dipicu fenomena El Nino.

Menurut Khofifah, kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk menekan risiko dan dampak bencana kemarau. Seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga bencana kekeringan lahan.

Untuk itu Khofifah menginstruksikan kepala daerah untuk menyiapkan langkah antisipatif secara terencana, terukur, dan berbasis data untuk memitigasi potensi kekeringan.

“Oleh karena itu, seluruh kepala daerah diminta bergerak proaktif sebelum puncak kemarau terjadi,” ujar Khofifah dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).

Tak hanya kepada pemerintah daerah, Gubernur Jatim juga mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam upaya pencegahan bencana.

Dia mengimbau agar masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dan sampah tanpa diawasi, menggunakan air secara bijak, serta segera melaporkan potensi bencana kepada pemerintah setempat.

“Saya imbau masyarakat tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu terjadinya karhutla,” tuturnya.

Sementara itu berdasarkan data, selama periode 2022 hingga 2025, sekitar 97 persen kejadian bencana di Jawa Timur merupakan bencana hidrometeorologi.

Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim dan dinamika cuaca bukan lagi ancaman jangka panjang.

“Respons kita tidak boleh biasa-biasa saja. Tidak hanya reaktif, tetapi harus terukur, cepat, dan berbasis data,” tegasnya.

Kemudian pada tahun 2026, sejak Januari hingga 31 Maret, tercatat telah terjadi 121 kejadian bencana alam di Jawa Timur, yang didominasi oleh angin kencang sebanyak 82 kejadian dan banjir sebanyak 27 kejadian.

Dampak dari kejadian tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memengaruhi puluhan ribu kepala keluarga.

Menurut Khofifah, tingginya dinamika bencana pada triwulan pertama 2026 menjadi peringatan dini bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

“Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi kita semua dan bersama kita lakukan antisipasi,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan rilis BMKG, musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur diperkirakan mulai terjadi pada bulan Mei di sekitar 56,9 persen wilayah, dengan puncak kemarau pada bulan Agustus yang mencakup sekitar 70,9 persen wilayah. Bahkan, periode kritis diprediksi meluas hingga mencapai 72,5 persen wilayah.

Durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan cukup panjang, yakni mencapai 220 hingga 240 hari di sejumlah zona musim.

“Kita akan menghadapi tekanan kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut BMKG, terjadi peningkatan dampak kekeringan pada tahun 2026 dibandingkan tahun 2025,” jelasnya. (wld/saf/ham)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
SKKK Selatpanjang Wakili Riau di Lomba Cerdas Cermat MPR Tingkat Nasional
• 22 jam laludetik.com
thumb
Begini Tanggapan Bahlil di Tengah Isu Reshuffle Sore Ini
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Google Mau Investasi Rp 690 Triliun ke Anthropic yang Bikin AI Claude
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Daftar 12 Negara dengan IQ Terendah di Dunia, Posisi RI Tak Terduga
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Profil Jumhur Hidayat, dari Panggung Aktivis Didapuk jadi Menteri Lingkungan Hidup
• 2 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.