JAKARTA, KOMPAS – Memasuki 1,5 tahun masa kepemimpinannya, Presiden Prabowo Subianto kembali merombak Kabinet Merah Putih untuk kelima kalinya. Dalam perubahan kali ini, Presiden mengganti satu menteri, tiga kepala badan/lembaga, serta mengangkat satu wakil menteri dan penasihat khusus.
Presiden Prabowo Subianto melantik menteri, wakil menteri, tiga kepala badan/lembaga, dan penasihat khusus tersebut di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4/2026). Jumhur Hidayat, aktivis buruh yang menjabat sebagai Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, dilantik sebagai Menteri Lingkungan Hidup menggantikan Hanif Faisol Nurofiq. Sementara itu Hanif Faisol diangkat menjadi Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Selain Menteri Lingkungan Hidup, tiga badan/lembaga yang pimpinannya diganti adalah Kantor Staf Presiden (KSP), Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), dan Badan Karantina Nasional. Presiden mengangkat Dudung Abdurrachman, Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan, menjadi Kepala Staf Kepresidenan menggantikan Muhammad Qodari.
Apakah reshuffle (kali ini) masih bertujuan untuk uji coba atau mendorong kerja kabinet, kita tak sepenuhnya tahu.
Adapun Muhammad Qodari, diangkat sebagai Kepala Bakom untuk menggantikan Angga Raka Prabowo. Di samping menjabat sebagai Kepala Bakom, Angga juga merangkap jabatan sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Digital.
Selain itu, Presiden melantik Abdul Kadir Karding menjadi Kepala Badan Karantina Indonesia. Karding merupakan politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sebelumnya pernah menjadi Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia sejak Oktober 2024—September 2025. Sekitar tujuh bulan yang lalu, ia dicopot dari jabatan menteri sebelum kembali lagi ke kabinet.
Tak hanya menteri dan sejumlah kepala badan/lembaga, Presiden juga kembali membuat satu jabatan baru, yakni Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi yang dijabat Hasan Nasbi. Sama seperti Karding, Hasan juga pernah menjadi bagian dari Kabinet Merah Putih sepanjang Oktober 2024—September 2025. Saat itu, Hasan merupakan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan(PCO). Setelah Hasan tak lagi menjabat, PCO diubah menjadi Bakom.
Reshuffle kabinet kali ini merupakan yang kelima sejak awal masa pemerintahan Presiden Prabowo. Perombakan pertama berlangsung pada 19 Februari 2025, ketika Presiden melantik Brian Yuliarto sebagai Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi, menggantikan Satryo Brodjonegoro.
Sekitar tujuh bulan berikutnya, 8 September 2025, Presiden kembali mengganti empat menteri dan melantik lima pejabat baru. Mereka yang diganti adalah Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Budi Gunawan, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Abdul Kadir Karding, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi, dan Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo.
Posisi-posisi tersebut kemudian diisi oleh Purbaya Yudhi Sadewa (Menteri Keuangan), Mukhtarudin (Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia), Ferry Juliantono (Menteri Koperasi), serta Mochamad Irfan Yusuf (Menteri Haji dan Umrah) dengan Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakilnya. Namun, dua kursi masih dibiarkan kosong, yakni Menko Polkam dan Menpora.
Tak sampai dua minggu berselang, 17 September 2025, Prabowo kembali melakukan perombakan kabinet jilid ketiga. Dua posisi kosong tersebut akhirnya terisi: Djamari Chaniago dipercaya menjadi Menko Polkam dan Erick Thohir menjadi Menpora.
Dalam perombakan yang sama, Presiden juga melantik sejumlah wakil menteri dan pejabat lembaga negara. Sejumlah pejabat dimaksud antara lain Afriansyah Noor (Wakil Menteri Tenaga Kerja), Rohmat Marzuki (Wakil Menteri Kehutanan), dan Farida Faricha (Wakil Menteri Koperasi).
Selain itu, Angga Raka dilantik sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (lembaga yang sebelumnya bernama Kantor Komunikasi Kepresidenan), sementara Muhammad Qodari dipercaya sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
Dalam kesempatan yang sama, Sonny Sanjaya dan Naniek S Deyang ditunjuk sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sarah Sadiqa menjabat Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Ahmad Dofiri, mantan Wakil Kepala Polri dilantik menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Keamanan dan Reformasi Polri.
Adapun yang terakhir atau enam bulan sebelum reshuffle jilid ke-5 dilakukan, Presiden menambah dua wakil menteri, yakni Wakil Menteri Dalam Negeri dan Wakil Menteri Kesehatan pada 8 Oktober 2025. Mereka yang dilantik adalah Ahmad Wiyagus sebagai Wakil Menteri Dalam Negeri serta Benjamin Paulus Octavianus sebagai Wakil Menteri Kesehatan.
Dihubungi terpisah, Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengatakan, Presiden Prabowo sudah menjabat hampir dua tahun. Oleh karena itu, ia seharusnya sudah menemukan format kabinet yang tepat.
Namun, jika frekuensi perombakan meningkat, maka artinya utak-atik masih terus terjadi. “(Utak-atik terjadi karena) ada yang belum mendapatkan peran di pemerintah. Ada yang belum terakomodasi,” tutur Arya.
Menurut Arya, eksperimen Presiden melalui reshuffle kabinet sah-sah saja. Akan tetapi, di tengah tantangan domestik dan global yang kian berat, tidak ada waktu yang tepat untuk mencoba-coba. Presiden harus yakin dalam memilih tokoh yang mampu bekerja keras serta memiliki kompetensi dan integritas.
Apalagi, saat ini jumlah kabinet sudah sangat gemuk. Kabinet Merah Putih terdiri dari kurang lebih 150 orang menteri/wakil menteri dan kepala badan/lembaga, sebuah eksperimen yang belum pernah ada sejak Reformasi 1998. Dengan komposisi itu, semestinya pemerintah sudah bisa berlari kencang memenuhi target menjadi negara maju.
“Apakah reshuffle (kali ini) masih bertujuan untuk uji coba atau mendorong kerja kabinet, kita tak sepenuhnya tahu,” kata Arya.
Arya menduga, setelah lima kali merombak kabinet, Presiden pun masih akan melakukannya kembali hingga jelang pemilu. Pergeseran jatah partai diperkirakan tidak akan banyak. Akan tetapi, jelang Pemilu 2029, menurut Arya, Presiden akan kembali bertaruh dengan komposisi koalisi. Sebab, koalisi akan lebih banyak dibangun dengan tawar-menawar posisi dan dukungan.





