Untuk menjaga agar defisit anggaran tidak melampaui batas aman 3 persen, pemerintah melakukan strategi refocusing atau penajaman program prioritas.
IDXChannel - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menepis kekhawatiran publik mengenai ketersediaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang hanya Rp120 triliun.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung menyebut, realisasi belanja pada kuartal I-2026 tumbuh tinggi, yakni mencapai 31,4 persen secara tahunan (year on year).
Dari sisi pendapatan, penerimaan pajak tumbuh 20,7 persen, sementara pendapatan negara secara keseluruhan naik 10,5 persen. Dengan komposisi tersebut, defisit anggaran hingga akhir Maret tercatat berada di level 0,93 persen.
"Ini kok semua khawatir sehingga angka-angka yang keluar dari pengamat itu juga kok tidak tepat, katanya SAL-nya hanya Rp120 triliun. Ini yang mungkin saya perlu jelaskan disini. Baseline APBN adalah yang dirancang untuk 2026," ujar Juda dalam diskusi National Policy Dialogue dan Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI), Senin (27/4/2026).
Meski demikian, tantangan muncul dari memanasnya konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak mentah (Indonesian Crude Price/ICP). Dari asumsi awal APBN sebesar USD70 per barel, harga kini bertengger di kisaran USD100 per barel.
Pemerintah pun memastikan tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir demi menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi.
"Harga BBM yang disubsidi tidak naik, harganya tetap. Tentu saja kalau harga tetap, harga keekonomiannya naik, tentu saja subsidinya membengkak. Subsidinya membengkak sehingga kalau didiamkan, maka tentu saja defisit kita bisa di atas 3 persen kalau didiamkan," tutur Juda.
Untuk menjaga agar defisit anggaran tidak melampaui batas aman 3 persen, pemerintah melakukan strategi refocusing atau penajaman program prioritas. Salah satu efisiensi besar dilakukan pada program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Juda menjelaskan, penghapusan pemberian makan pada hari Sabtu dan masa libur sekolah dapat memberikan penghematan fiskal yang sangat signifikan tanpa mengurangi kualitas gizi bagi siswa di hari sekolah.
"MBG misalnya, yang dulunya Sabtu diberikan makan siang gratis, sekarang dia dihilangkan. Satu hari itu bisa mirip Rp1 triliun. Lima hari dalam seminggu, empat kali dalam sebulan itu bisa mengirit atau menghemat Rp4 triliun. Setahun tentu saja lebih dari Rp50 triliun kita bisa menghemat. Jadi hal-hal semacam itu," katanya.
Pemerintah juga melakukan evaluasi ketat terhadap Satuan Pelayanan Makan Bergizi (SPBG) yang tidak memenuhi standar nutrisi untuk memastikan efektivitas anggaran di lapangan.
(DESI ANGRIANI)





