Pemimpin kelompok milisi Hizbullah, Naim Qassem menolak keras rencana negosiasi langsung antara Lebanon dengan Israel. Dia menyebutnya sebagai "dosa besar" yang akan menggoyahkan Lebanon.
"Kami secara tegas menolak negosiasi langsung dengan Israel, dan mereka yang berkuasa harus tahu bahwa tindakan mereka tidak akan menguntungkan Lebanon atau diri mereka sendiri," kata Qassem dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AFP, Senin (27/4/2026). Dia pun menyerukan kepada pihak berwenang untuk "mundur dari dosa besar mereka yang menempatkan Lebanon dalam lingkaran ketidakstabilan".
"Negosiasi langsung ini dan hasilnya seolah-olah tidak ada bagi kami, dan sama sekali tidak menyangkut kami," cetusnya. Dia menambahkan bahwa "kami akan melanjutkan perlawanan defensif kami untuk Lebanon dan rakyatnya".
"Tidak peduli seberapa besar ancaman musuh, kami tidak akan mundur, kami tidak akan tunduk, dan kami tidak akan dikalahkan," imbuhnya.
Pada Senin (27/4) pagi waktu setempat, Hizbullah melancarkan serangan rudal anti-tank terhadap posisi berkumpul pasukan Israel di wilayah Lebanon bagian selatan.
Serangan Hizbullah itu, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (27/4/2026), juga menargetkan kendaraan-kendaraan militer Israel yang ada di area Tal al-Nahas, pinggiran Kafr Kila di wilayah Lebanon bagian selatan.
Dalam pernyataannya, Hizbullah yang bermarkas di Lebanon bagian selatan ini, mengatakan bahwa serangannya tersebut menargetkan pasukan Israel yang dikerahkan di dekat area perbatasan kedua negara.
(ita/ita)





